Sarekat Dagang Islam: Ekonomi & Identitas
Drama di Pasar Batik Solo
Bayangin kamu adalah pengusaha batik di Solo (Surakarta) pada awal tahun 1900-an. Industri batik saat itu lagi jaya-jayanya, tapi para pedagang lokal merasakan ketidakadilan yang luar biasa.

Gambar: Nanyo Co. (Java), CC BY 4.0 — Wikimedia Commons
Waktu itu, pemerintah kolonial Belanda memberikan hak istimewa (privilese) buat pedagang asing, terutama pedagang keturunan Tionghoa. Mereka dibebaskan dari berbagai aturan yang menyusahkan dan dikasih jalan mulus untuk memonopoli bahan baku batik.
Akibatnya, pedagang lokal (pribumi) makin terdesak. Harga bahan baku dimainkan, bikin pedagang pribumi nyaris gulung tikar karena kalah saing dengan cara yang nggak sehat.
Inilah alasan utama lahirnya Sarekat Dagang Islam (SDI). Jadi, latar belakang utamanya murni urusan perut dan bertahan hidup di pasar, bukan semata-mata dorongan untuk mendirikan pesantren atau menyebarkan agama.
Berdasarkan sejarah berdirinya Sarekat Dagang Islam di Solo, apa pemicu paling utama K.H. Samanhudi mengumpulkan para pedagang pribumi?
- A. Ingin mendirikan sekolah agama berbasis kurikulum modern
- B. Melawan monopoli bahan baku batik oleh pedagang asing
- C. Mempersiapkan perlawanan bersenjata terhadap Belanda
- D. Mendirikan rumah sakit untuk pedagang pribumi
Jawaban: B. Melawan monopoli bahan baku batik oleh pedagang asing
SDI didirikan karena pedagang batik pribumi terdesak oleh monopoli bahan baku yang dilakukan pedagang asing yang mendapat hak istimewa dari Belanda.
Latar belakang utama berdirinya SDI adalah masalah ekonomi (melawan monopoli pasar), bukan murni masalah keagamaan.
Membedah Nama: Kenapa Bawa 'Agama'?
Kalau memang tujuannya untuk urusan dagang dan melawan monopoli, kenapa harus bawa-bawa kata "Islam" di nama organisasinya? Kenapa nggak pakai "Sarekat Dagang Pribumi" aja?
Sarekat artinya perkumpulan atau perserikatan. Dagang adalah fokus utama kegiatannya (koperasi dan ekonomi). Nah, kata Islam pada masa itu dipakai sebagai identitas pemersatu yang paling kuat.
Di masa tersebut, penduduk pribumi Nusantara terdiri dari berbagai macam suku—Jawa, Madura, Sunda, Bugis, dan lain-lain—yang sangat susah disatukan kalau hanya mengandalkan identitas kedaerahan. Tapi, mayoritas dari mereka punya satu kesamaan yang mengakar: beragama Islam.
Jadi, kata "Islam" di SDI pada awal berdirinya berfungsi sebagai perekat emosional dan pembeda sosial, bukan sebagai pertanda bahwa organisasi ini didirikan untuk mengurus madrasah atau urusan dakwah murni.
Tentukan apakah pernyataan berikut Benar atau Salah terkait penggunaan kata 'Islam' pada nama Sarekat Dagang Islam di awal pendiriannya!
- Kata 'Islam' dipilih karena tujuan utamanya adalah membangun pesantren di seluruh Jawa. — Salah
- Kata 'Islam' menjadi identitas yang paling efektif menyatukan berbagai suku pribumi melawan pedagang asing. — Benar
SDI memakai identitas Islam untuk membedakan 'Kita' (pribumi Muslim) dengan 'Mereka' (pedagang asing/Belanda non-Muslim), bukan untuk mendirikan lembaga pendidikan.
Kata 'Islam' pada SDI awalnya berfungsi sebagai identitas pemersatu pribumi, bukan penanda organisasi pendidikan agama.
Awas Tertukar: SDI vs Muhammadiyah
Di soal-soal TWK (Tes Wawasan Kebangsaan) tentang pergerakan nasional, SDI dan Muhammadiyah sering banget dijadikan jebakan satu sama lain di opsi jawaban. Karena sama-sama membawa panji Islam, banyak yang keliru mengira tujuannya sama.
Padahal, jika ditelaah sejarahnya, arena pergerakan mereka beda banget:
Sarekat Dagang Islam (SDI): Berjuang di pasar. Fokus awalnya murni untuk melindungi pedagang pribumi, melawan monopoli, dan membangun kekuatan ekonomi. SDI di awal pendiriannya sama sekali tidak berfokus pada kurikulum sekolah atau pembangunan fasilitas sosial.
Muhammadiyah: Berjuang di kelas dan rumah sakit. K.H. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi ini buat memberantas keterbelakangan dan kebodohan umat. Fokus utamanya sejak awal adalah mendirikan sekolah dengan kurikulum modern, rumah sakit, dan panti asuhan (rumah yatim).
Dari program-program di bawah ini, mana saja yang merupakan fokus perjuangan Muhammadiyah (bukan SDI) pada masa awal berdirinya?
- Mendirikan sekolah dengan kurikulum modern
- Memboikot perdagangan bahan baku batik milik asing
- Membangun panti asuhan dan rumah yatim piatu
- Menyatukan saudagar lokal agar bisa bersaing di pasar
Jawaban: Mendirikan sekolah dengan kurikulum modern; Membangun panti asuhan dan rumah yatim piatu
Mendirikan sekolah modern dan rumah yatim adalah ciri khas Muhammadiyah. Boikot dagang dan menyatukan saudagar adalah ranah perjuangan ekonomi SDI.
Muhammadiyah fokus pada ranah sosial-pendidikan (sekolah, rumah yatim), sementara SDI fokus pada ranah ekonomi pasar.