Pedal Gas & Rem Ekonomi Makro

Siapa Pegang Kendali?

Banyak orang mengira kebijakan moneter dan kebijakan fiskal dibedakan berdasarkan kondisi ekonominya—misalnya, moneter untuk ekonomi lesu dan fiskal untuk inflasi. Padahal, anggapan itu keliru!

Kedua kebijakan ini ibarat dua dokter spesialis yang menangani pasien (perekonomian). Pembeda utamanya bukan pada penyakit yang dihadapi, melainkan pada siapa dokternya (otoritas) dan apa alat medis yang dipakai (instrumen).

Diagram perbandingan pilar Kebijakan Fiskal oleh Pemerintah vs Kebijakan Moneter oleh Bank Indonesia

Baik Pemerintah maupun Bank Sentral sama-sama bisa turun tangan saat ekonomi sedang lesu ataupun saat inflasi sedang melonjak tinggi.

Jadi, saat membaca soal ujian makroekonomi, langkah pertama yang paling krusial adalah melihat: Siapa pelakunya dan apa alat yang digunakan? Kalau pelakunya adalah Bank Indonesia yang memainkan instrumen suku bunga, itu sudah pasti berada di ranah moneter, bukan fiskal!

Manakah di antara tindakan berikut yang secara tepat mencerminkan pelaksanaan Kebijakan Fiskal?

  • Bank Indonesia memutuskan memangkas tarif pajak penghasilan badan usaha
  • Kementerian Keuangan menaikkan anggaran subsidi pangan dan bantuan sosial
  • Bank Indonesia menjual Sertifikat Bank Indonesia untuk menarik likuiditas pasar
  • Kementerian Keuangan menaikkan suku bunga pinjaman antarbank komersial
  • Bank Indonesia menaikkan batas rasio cadangan wajib minimum perbankan

Jawaban: Kementerian Keuangan menaikkan anggaran subsidi pangan dan bantuan sosial

Kebijakan fiskal adalah wewenang Pemerintah (Kementerian Keuangan) dengan instrumen anggaran belanja dan perpajakan. Menambah anggaran subsidi dan bansos adalah instrumen belanja pemerintah (fiskal). Suku bunga dan cadangan wajib bank adalah instrumen moneter wewenang Bank Sentral (BI).

Kebijakan fiskal dikendalikan oleh pemerintah melalui pajak dan anggaran belanja, sedangkan kebijakan moneter dikendalikan bank sentral melalui suku bunga dan jumlah uang beredar.

Suku Bunga = Katup Pipa Likuiditas

Ada miskonsepsi umum yang sering mengecoh: "Kalau bank sentral menaikkan suku bunga, berarti bank bagi-bagi lebih banyak uang ke masyarakat dong?"

Jawabannya: Sama sekali tidak! Justru sebaliknya.

Bayangkan uang yang beredar di masyarakat sebagai aliran air dalam pipa. Di pipa utama itu, ada sebuah katup pengatur bernama Suku Bunga Acuan (BI Rate). Suku bunga pada dasarnya adalah harga sewa atas uang.

Ketika Bank Indonesia menaikkan BI Rate:

  1. Harga pinjaman jadi mahal: Bank-bank umum terpaksa menaikkan suku bunga kredit (KPR, pinjaman usaha, cicilan kendaraan). Meminjam uang terasa memberatkan, sehingga kran pinjaman menyempit.

  2. Imbalan menabung jadi menggiurkan: Bank juga menaikkan suku bunga deposito/tabungan. Orang-orang dan korporasi lebih memilih menyetorkan uangnya ke dalam brankas bank daripada membiarkannya mengalir bebas di pasar.

Mengapa kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) menyebabkan berkurangnya jumlah uang yang beredar di masyarakat?

  • Perbankan membagikan subsidi bunga tunai langsung ke rekening masyarakat luas
  • Biaya cicilan kredit menurun drastis sehingga gairah meminjam uang melonjak tinggi
  • Biaya bunga pinjaman meningkat dan imbal hasil deposito makin menarik minat menabung
  • Pelaku usaha berbondong-bondong mencairkan seluruh tabungan bank untuk ekspansi usaha
  • Jumlah uang beredar di pasar bertambah secara instan melalui pelonggaran kredit

Jawaban: Biaya bunga pinjaman meningkat dan imbal hasil deposito makin menarik minat menabung

Kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) ditransmisikan bank umum dengan menaikkan bunga kredit (pinjaman jadi mahal) dan menaikkan bunga simpanan (deposito makin menguntungkan). Akibatnya, masyarakat enggan meminjam dan lebih memilih menabung, sehingga uang ditarik dari peredaran.

Kenaikan suku bunga acuan membuat biaya pinjaman meningkat dan imbal hasil tabungan membesar, sehingga menarik likuiditas dari peredaran.

Efek Domino di Kehidupan Nyata

Bagaimana putaran katup suku bunga acuan di gedung Bank Indonesia bisa memengaruhi harga barang di pasar tradisional atau supermarket dekat rumahmu?

Jawabannya ada pada rantai transmisi moneter, yaitu efek domino dari keputusan keuangan keluarga sehari-hari hingga ke tingkat makro.

Bagan alir transmisi kebijakan moneter dari kenaikan BI Rate hingga penurunan laju inflasi melalui perilaku konsumsi dan tabungan masyarakat

Mari kita bedah alur yang terjadi saat Bank Indonesia menaikkan BI Rate:

Tentukan apakah setiap pernyataan berikut mengenai dampak kenaikan BI Rate bernilai Benar atau Salah:

  • Kenaikan suku bunga menyebabkan biaya kredit investasi bagi pelaku usaha membengkak, sehingga rencana perluasan pabrik cenderung ditunda. — Benar
  • Kenaikan suku bunga membuat masyarakat enggan menyimpan uang di bank karena imbal hasil deposito dinilai kurang menarik dibanding belanja barang konsumsi. — Salah
  • Penurunan konsumsi masyarakat secara agregat membatasi ruang bagi pedagang untuk menaikkan harga, sehingga membantu meredam laju inflasi. — Benar

1. Benar: Kenaikan bunga kredit membuat biaya modal pinjaman perusahaan lebih mahal sehingga investasi bisnis cenderung tertunda. 2. Salah: Kenaikan BI Rate membuat bunga deposito naik, sehingga imbal hasil menabung justru lebih menguntungkan dan menarik minat masyarakat. 3. Benar: Ketika permintaan belanja masyarakat menurun, penjual kesulitan menaikkan harga sehingga laju inflasi mereda.

Kenaikan suku bunga menekan konsumsi dan investasi dengan meningkatkan biaya pinjaman serta imbal hasil tabungan, sehingga menurunkan tekanan inflasi sisi permintaan.