Biaya Peluang: 'Harga' Sebuah Pilihan
Bukan Tentang Uang yang Keluar
Pernah nggak kamu ngerasa bingung pas jajan karena uangnya pas-pasan? Nah, dari urusan jajan sehari-hari inilah kita bisa paham konsep paling penting di ilmu ekonomi: biaya peluang (opportunity cost).
Bayangkan kamu punya uang sisa Rp 10.000. Di depanmu ada stand Boba dan stand Es Teh yang masing-masing harganya pas Rp 10.000. Karena uangmu cuma cukup untuk salah satu, kamu harus memilih. Akhirnya, kamu mantap memilih beli Boba.

Kamu menyerahkan selembar uang Rp 10.000 ke penjual Boba. Uang fisik yang keluar dari dompetmu ini disebut biaya finansial atau biaya akuntansi. Tapi, cara mikir ekonomi beda lagi! Di ekonomi, kita melihat apa yang hilang dari kesempatanmu.
Karena kamu memutuskan beli Boba, kamu jadi batal menikmati segarnya Es Teh. Jadi, "biaya" sesungguhnya dari memilih Boba bukanlah uang 10 ribu yang kamu bayarkan, melainkan kenikmatan Es Teh yang terpaksa kamu lewatkan. Inilah inti dari biaya peluang: kesempatan atau alternatif terbaik yang batal kamu nikmati karena memilih opsi lain.

Bayangkan kamu punya uang Rp 15.000. Kamu bimbang antara beli burger atau mie ayam yang harganya sama-sama Rp 15.000. Akhirnya kamu memutuskan untuk membeli burger. Manakah yang merupakan biaya peluang dari keputusanmu?
- A. Rp 15.000 yang kamu berikan kepada penjual burger
- B. Kesempatan makan mie ayam yang enak
- C. Biaya parkir saat membeli burger
- D. Rp 0, karena kamu tidak jadi berhutang
Jawaban: B. Kesempatan makan mie ayam yang enak
Biaya finansial adalah uang yang keluar (Rp 15.000). Tapi dalam ekonomi, biaya peluang adalah kepuasan dari opsi lain (mie ayam) yang batal kamu nikmati karena memilih burger.
Biaya peluang adalah kesempatan/pilihan lain yang dikorbankan, bukan uang yang dibayarkan.
Untung Kok Masih Ada Biayanya?
Sekarang, gimana kalau pilihan yang kamu ambil itu nggak ngeluarin uang sama sekali, bahkan malah bikin kamu dapat uang? Apakah biaya peluangnya jadi nol?
Coba bayangin skenario ini: Sore ini rencananya kamu mau rebahan nonton film favorit di Netflix. Tiba-tiba, mama minta tolong kamu ke warung dan menjanjikan imbalan Rp 20.000. Kamu akhirnya memilih pergi ke warung karena lumayan dapat uang tambahan.
Kelihatannya, kamu "untung" 20 ribu dan sama sekali nggak ngeluarin modal uang sepeser pun. Tapi, apakah biaya peluangmu Rp 0? Jawabannya TIDAK.
Ingat aturan emasnya: biaya peluang selalu ada selama kamu harus memilih. Meskipun pilihan ke warung bikin dompetmu tebal, kamu tetap kehilangan waktu santaimu menonton Netflix. Jadi, biaya peluang dari keputusanmu pergi ke warung adalah kenyamanan nonton Netflix yang batal kamu dapatkan. Selama ada opsi yang harus dilepas, biaya peluang mustahil bernilai nol!
Tentukan apakah pernyataan mengenai biaya peluang ini Benar atau Salah!
- Keputusan yang tidak mengharuskanmu mengeluarkan uang sepeser pun berarti memiliki biaya peluang sebesar nol. — Salah
- Jika sebuah pekerjaan memberimu gaji yang sangat besar, maka kamu tidak menanggung biaya peluang apa pun. — Salah
Biaya peluang muncul karena kita harus memilih (kelangkaan). Walaupun pilihan kita gratis atau menghasilkan uang, tetap ada waktu/kesempatan dari opsi lain yang terpaksa kita korbankan.
Biaya peluang selalu ada pada setiap pilihan yang mengorbankan pilihan lain, terlepas pilihan tersebut menghasilkan keuntungan uang atau tidak.
Gaji yang Batal Diterima
Konsep yang sama persis berlaku di dunia kerja profesional, termasuk pada soal tentang lulusan sarjana manajemen yang baru aja kamu kerjakan.
Mari kita bedah situasinya. Lulusan ini punya dua tawaran pekerjaan di atas meja:
Menjadi Staf Bank dengan gaji Rp 4.500.000.
Menjadi Tenaga Pemasar dengan gaji Rp 5.500.000.
Karena dia nggak punya kloningan buat kerja di dua tempat sekaligus, dia harus memilih. Dia akhirnya memutuskan untuk menjadi Tenaga Pemasar. Coba klik pilihan tersebut di bawah ini untuk melihat apa dampaknya.
Secara finansial, keputusannya logis dan sangat menguntungkan. Gaji yang dia terima lebih besar, dan dia jelas tidak "rugi" secara materi. Tapi, ilmu ekonomi bertanya: Apa kesempatan yang batal dia ambil karena sudah menandatangani kontrak sebagai Pemasar?
Jawabannya adalah posisi sebagai Staf Bank. Berapa nilai dari kesempatan yang batal itu? Ya, Rp 4.500.000. Angka inilah yang menjadi nilai dari kesempatan terbaik yang dikorbankan. Maka, biaya peluang dari keputusannya memilih jadi Pemasar adalah sebesar gaji Staf Bank yang ditinggalkannya, yaitu Rp 4.500.000.
Dono menolak dua tawaran pekerjaan: Kasir (gaji Rp 3.000.000) dan Pramusaji (gaji Rp 3.500.000). Ia memutuskan untuk kuliah. Berapa biaya peluang Dono dari keputusannya memilih kuliah tersebut?
- A. Rp 3.000.000
- B. Rp 3.500.000
- C. Rp 5.000.000
- D. Rp 6.500.000
Jawaban: B. Rp 3.500.000
Dono memilih kuliah. Kesempatan yang dikorbankan adalah kerja jadi Kasir (Rp 3 juta) ATAU Pramusaji (Rp 3,5 juta). Karena dia cuma bisa milih SATU pekerjaan terbaik seandainya dia tidak kuliah, maka nilai tertinggilah yang menjadi biaya peluangnya, yaitu Rp 3,5 juta. (Tidak boleh dijumlahkan).
Biaya peluang dihitung dari satu nilai alternatif terbaik yang ditinggalkan, bukan dijumlahkan seluruhnya.