Jodoh Kata: Mengapa Makna Saja Tidak Cukup?
Kata Santai di Berita Formal
Kata yang terkesan santai atau informal boleh digunakan dalam teks berita jika berfungsi menyampaikan pengakuan atau motif pelaku secara akurat. Dalam ragam jurnalistik, ada perbedaan mendasar antara narasi atau opini dari pihak redaksi dengan laporan fakta mengenai pengakuan saksi atau pelaku di lapangan. Ketika wartawan menyusun opini atau analisis berita, bahasa yang digunakan memang wajib formal, terukur, dan baku. Namun, saat melaporkan pengakuan nyata dari orang yang terlibat, wartawan bertugas merekam fakta psikologis dan motif riil seotentik mungkin.
Mari kita perhatikan kalimat (5) pada Opsi E:
(5) Ketiganya mengaku hanya iseng ingin jalan-jalan dengan truk dan berniat mengembalikannya ke tempat semula.
Pilihan kata iseng di sini sangat tepat secara konteks untuk menggambarkan dorongan polos dan tanpa motif kriminal terencana dari anak-anak berusia 12 tahun. Meskipun kata iseng tergolong santai dan akrab dalam percakapan sehari-hari, kata ini bukan kesalahan diksi berita karena fungsinya adalah memotret alasan subjek secara jujur. Bayangkan jika wartawan memaksakan kalimat tersebut dengan diksi formal yang kaku, misalnya "beraksi tanpa tujuan spesifik yang esensial". Makna aslinya justru menjadi kabur dan tidak mencerminkan cara berpikir anak usia sekolah dasar. Oleh karena itu, kalimat (5) pada Opsi E bukanlah pilihan kata yang salah.
Sebuah surat kabar melaporkan peristiwa kecelakaan lalu lintas. Berdasarkan prinsip pelaporan fakta dalam teks berita, manakah kalimat yang penggunaan katanya dapat dibenarkan?
- Kecelakaan maut itu sungguh bikin ngeri warga setempat.
- Pemerintah menetapkan regulasi yang amat sangat ketat sekali.
- Saksi mata di lokasi mengaku kaget melihat mobil melayang.
- Kami selaku redaksi meminta maaf atas keterlambatan info ini.
Jawaban: Saksi mata di lokasi mengaku kaget melihat mobil melayang.
Jawaban C benar karena kata 'kaget' (bentuk santai dari 'terkejut') wajar dan sah digunakan wartawan saat memotret laporan pengakuan atau reaksi riil seorang saksi mata di lokasi kejadian. Opsi A keliru karena kata santai 'bikin ngeri' dipakai pada narasi wartawan sendiri untuk mendramatisir peristiwa, bukan laporan fakta sumber. Opsi B salah karena kalimatnya memuat pemborosan kata yang merusak keefektifan kalimat berita. Opsi D salah karena mencampurkan bahasa lisan ke dalam pernyataan resmi kelembagaan redaksi.
Konteks kalimat berita dapat mentolerir bahasa tidak baku jika itu adalah kutipan langsung atau pelaporan pengakuan riil.
Puzzle Kata yang Tidak Pas
Sebuah kata kerja harus memiliki pasangan objek yang lazim (kolokasi), meskipun makna dasarnya terasa sesuai. Di dalam bahasa, hubungan antara predikat dan objek bekerja persis seperti kepingan puzzle. Dua keping puzzle hanya bisa mengunci rapi jika lekukan tepiannya cocok satu sama lain. Bila lekukannya tidak pas, memaksakan keduanya menyatu hanya akan membuat susunannya patah atau terasa ganjil, meski warna dasarnya sekilas terlihat mirip.

Fenomena ketidakcocokan inilah yang terjadi pada kalimat (1) dalam teks:
(1) Tiga bocah berusia 12 tahun RAR RA dan HB nekat melarikan truk tronton yang sedang terparkir di tepi jalan raya...
Secara semantik dasar, kita tahu bahwa kata melarikan mengandung ide membawa sesuatu pergi dengan cepat atau kabur. Namun, aturan kolokasi bahasa Indonesia membatasi objek yang lazim menyertainya. Kata melarikan lazim dipasangkan dengan manusia sebagai subjek yang diselamatkan ("melarikan pasien ke rumah sakit"), orang yang diculik/dibawa tanpa izin ("melarikan anak orang"), atau sesuatu yang bernilai abstrak seperti uang ("melarikan dana nasabah"). Ketika dipasangkan dengan benda fisik berukuran masif seperti truk tronton, bentuk lengkungannya tidak lagi cocok. Kalimat tersebut menjadi janggal karena truk bukanlah objek yang lazim 'dilarikan'. Pasangan yang tepat dan alami untuk konteks tersebut adalah membawa kabur truk.
Hal serupa sering kita temui dalam percakapan sehari-hari. Kita terbiasa mengatakan menonton televisi, tetapi tidak pernah mengatakan menonton radio, kendati televisi dan radio sama-sama media penyampai informasi yang kita simak. Oleh sebab itu, kalimat (1) pada Opsi A memuat pilihan kata yang tidak tepat dan merupakan jawaban yang benar untuk soal ini.
Setelah acara makan malam keluarga selesai, banyak wadah makanan yang perlu dibersihkan dengan air di bak cuci. Berdasarkan kelaziman kolokasi kata kerja dan objeknya, frasa mana yang paling tepat digunakan?
- Mencuci piring kotor.
- Membasuh piring kotor.
- Menggosok piring kotor.
- Memandikan piring kotor.
Jawaban: Mencuci piring kotor.
Jawaban A benar karena kata kerja 'mencuci' merupakan pasangan kolokasi yang lazim digunakan untuk perabotan makan, pakaian, atau kendaraan dengan perantara air dan sabun. Opsi B salah karena kata 'membasuh' lazimnya berpasangan dengan bagian tubuh manusia (seperti muka, tangan, atau kaki). Opsi C salah karena 'menggosok' merujuk pada gerakan fisik menggesek permukaan, bukan kata umum yang lazim untuk pembersihan wadah makan secara utuh. Opsi D salah karena 'memandikan' hanya berkolokasi dengan makhluk hidup (orang atau hewan peliharaan).
Kelaziman pasangan kata kerja dan objeknya (kolokasi) dalam bahasa Indonesia.
Memeriksa Kesesuaian Konteks
Pilihan kata dalam kalimat berita harus dievaluasi kewajarannya berdasarkan situasi spesifik yang sedang digambarkan. Sebuah kata tidak bisa dihakimi benar atau salah hanya dari definisi kamus yang terisolasi, melainkan harus dilihat dari perannya dalam membangun gambaran peristiwa secara utuh:
Kalimat (2) pada Opsi B: Frasa aksi berakhir, kata ditemukan, dan kehabisan bahan bakar sudah sangat lazim. Frasa aksi berakhir tidak terbatas pada pentas seni atau pertunjukan, melainkan lazim dipakai dalam ragam jurnalistik untuk menandai ujung dari serangkaian perbuatan atau ulah seseorang.
Kalimat (3) pada Opsi C: Diksi mengamankan dan memanggil orangtua adalah istilah prosedural yang tepat dari kepolisian. Istilah diamankan dipilih secara sengaja untuk membedakan penanganan perlindungan terhadap anak di bawah umur dengan istilah penindakan pidana orang dewasa seperti ditangkap atau ditahan.
Kalimat (4) pada Opsi D: Kata mahir tepat disematkan pada penguasaan teknis mengemudi. Kata ini tidak memiliki batasan usia, melainkan berfungsi menggarisbawahi kecakapan mengejutkan dari bocah 12 tahun yang sudah terampil mengendalikan kendaraan berukuran besar.