Mengenal Tokoh Sosiologi dari Kata Kuncinya
Latar Belakang Lahirnya Sosiologi
Sosiologi lahir sebagai respons terhadap perubahan besar di masyarakat akibat Revolusi Industri di Eropa.
Banyak yang mengira bahwa teori sosiologi lahir begitu saja dari renungan abstrak para filsuf di ruangan tertutup. Padahal, ilmu ini muncul karena dunia nyata sedang mengalami guncangan luar biasa. Pada era 1800-an, Eropa mengalami peralihan besar dari masyarakat agraris (yang hidup tenang mengandalkan pertanian di desa) menuju masyarakat industri modern di perkotaan.

Pembangunan pabrik secara masif mengubah cara hidup manusia. Orang-orang berbondong-bondong pindah ke kota untuk mencari nafkah. Namun, kota-kota industri yang tumbuh cepat justru memicu krisis baru: jam kerja yang sangat panjang, perkampungan kumuh yang padat, kemiskinan ekstrem, hingga jurang ketimpangan yang lebar antara pemilik fasilitas industri dan kaum pekerja.
Kondisi kacau inilah yang mendorong para pemikir untuk merumuskan suatu ilmu pengetahuan baru guna membedah cara kerja tatanan masyarakat. Masing-masing tokoh kemudian memandang perubahan drastis ini dari sudut pandang dan fokus kajian yang berbeda-beda.
Karl Marx dan Perjuangan Kelas
Karl Marx memandang masyarakat dari sudut pandang konflik kelas antara kaum borjuis dan proletar.
Dalam masyarakat industri, Marx melihat bahwa perubahan sejarah tidak digerakkan oleh ide-ide abstrak, melainkan oleh faktor ekonomi materiil. Marx membagi masyarakat ke dalam dua kelompok utama:
Borjuis: Kelas pemilik modal dan alat produksi (seperti gedung pabrik, mesin-mesin, dan tanah).
Proletar: Kelas pekerja atau buruh yang tidak memiliki alat produksi, sehingga terpaksa menjual tenaga fisik dan waktunya demi mendapatkan upah harian.

Perbedaan kepentingan ekonomi tersebut, menurut Marx, melahirkan gesekan abadi yang disebut perjuangan kelas. Marx meyakini bahwa penindasan borjuis terhadap proletar pada akhirnya akan menyadarkan para pekerja untuk bersatu, melancarkan revolusi sosial, dan menumbangkan sistem tersebut demi membentuk masyarakat tanpa kelas yang setara.
Itulah sebabnya deskripsi soal mengenai sejarah perjuangan kelas serta pertentangan antara borjuis dan proletar secara tepat merujuk pada pemikiran Karl Marx (Opsi C).
Dalam sebuah kajian sosiologis mengenai demonstrasi buruh yang menuntut kenaikan upah minimum kepada pemilik pabrik besar, fenomena tersebut dianalisis sebagai benturan kepentingan ekonomi yang tak terhindarkan. Berdasarkan kerangka pemikiran Karl Marx, fenomena demonstrasi tersebut merupakan contoh dari...
- Solidaritas sosial yang mengikat masyarakat demi menjaga stabilitas sistem ekonomi
- Perjuangan kelas antara kaum proletar dan kaum borjuis akibat perbedaan kepentingan
- Tindakan sosial berorientasi nilai yang didasari kalkulasi rasionalitas modern
- Evolusi struktur sosial secara bertahap menuju tercapainya pemikiran positivistik
Jawaban: Perjuangan kelas antara kaum proletar dan kaum borjuis akibat perbedaan kepentingan
Jawaban yang benar adalah B. Karl Marx memandang bahwa ketegangan antara buruh (proletar) dan pemilik modal (borjuis) merupakan inti dari dinamika sejarah dan perjuangan kelas. Opsi A keliru karena solidaritas sosial merupakan fokus Emile Durkheim. Opsi C keliru karena tindakan sosial dan rasionalitas adalah kajian Max Weber. Opsi D keliru karena tahap positivistik berasal dari Hukum Tiga Tahap Auguste Comte.
Konsep utama pemikiran Karl Marx adalah konflik antara pemilik modal dan pekerja.
Emile Durkheim dan Solidaritas
Emile Durkheim fokus pada bagaimana masyarakat bisa tetap bersatu melalui solidaritas sosial, bukan pada konflik kelas.
Pada soal sebelumnya, memilih Opsi A (Emile Durkheim) adalah kekeliruan yang umum terjadi karena namanya memang sangat populer di buku teks sosiologi. Namun, inti pandangan Durkheim justru bertolak belakang dengan Marx. Ketika Marx memandang masyarakat industri terpecah belah oleh perselisihan kelas, Durkheim justru memikirkan pertanyaan sebaliknya: "Mengapa masyarakat yang serba berbeda ini tidak hancur berantakan?"

Jawaban Durkheim terletak pada konsep solidaritas sosial, yaitu ikatan moral dan sosial yang menyatukan anggota masyarakat. Di era modern, pembagian kerja makin terspesialisasi: ada dokter, petani, guru, koki, dan montir. Kita tidak bisa hidup sendiri dan saling bergantung satu sama lain, mirip organ tubuh yang saling melengkapi. Ketergantungan fungsional inilah yang merekatkan masyarakat modern.
Selain itu, Durkheim mengenalkan konsep fakta sosial, yaitu cara bertindak, berpikir, dan merasa yang berada di luar individu namun memiliki kekuatan memaksa (misalnya hukum, norma kesopanan, atau aturan agama).
Seorang sosiolog meneliti bagaimana tradisi gotong royong di sebuah desa membuat para warganya merasa terikat satu sama lain sehingga mampu mencegah perpecahan sosial. Tentukan kebenaran pernyataan berikut berdasarkan teori sosiologi klasik!
- Fokus penelitian sosiolog mengenai tradisi gotong royong tersebut sejalan dengan pemikiran Emile Durkheim tentang solidaritas sosial. — Benar
- Penelitian tentang bagaimana gotong royong mempererat warga tersebut menggunakan pendekatan perjuangan kelas ala Karl Marx. — Salah
Pernyataan 1 Benar karena kajian mengenai ikatan bersama dan keharmonisan masyarakat yang mencegah perpecahan merupakan inti dari teori solidaritas sosial Emile Durkheim. Pernyataan 2 Salah karena pendekatan Karl Marx berpusat pada konflik, eksploitasi, dan pertentangan kelas ekonomi, bukan pada kebersamaan gotong royong yang memperkuat keteraturan sosial.
Fokus utama Emile Durkheim adalah solidaritas sosial dan fakta sosial.