Bunga Majemuk vs Bunga Tunggal secara Aljabar
Menurunkan Model Bunga
Bunga tunggal setara dengan barisan aritmetika, sedangkan bunga majemuk setara dengan barisan geometri.
Ketika modal awal sebesar $M$ diinvestasikan, pertumbuhan dana pada setiap akhir tahun ditentukan oleh bagaimana imbal hasil tersebut dihitung. Pada Bunga Tunggal, bunga tahunan selalu dihitung dari modal awal yang tetap ($M$). Artinya, di setiap pergantian tahun investor hanya menerima tambahan nominal konstan sebesar $r \cdot M$. Jika dituliskan dalam barisan aljabar:
Tahun $0$: $M$
Tahun $1$: $M + rM = M(1 + r)$
Tahun $2$: $M + rM + rM = M(1 + 2r)$
Tahun $n$: $M_A(n) = M(1 + r \cdot n)$
Pola ini identik dengan barisan aritmetika dengan beda tetap $d = rM$. Karena suku pengalinya adalah $n$ berpangkat satu, persamaannya merupakan Fungsi Linear. Untuk perusahaan $A$ dengan suku bunga $12$ per tahun ($r = 0{,}12$), model investasinya adalah:

Sebaliknya, pada Bunga Majemuk, imbal hasil dihitung bukan dari modal awal saja, melainkan dari total akumulasi modal beserta bunga periode sebelumnya ("bunga berbunga"). Setiap akhir tahun, seluruh saldo dikalikan dengan faktor pengali $(1 + r)$:
Tahun $0$: $M$
Tahun $1$: $M(1 + r)$
Tahun $2$: $[M(1 + r)] \cdot (1 + r) = M(1 + r)^2$
Tahun $n$: $M_B(n) = M(1 + r)^n$
Pola perkalian berulang ini adalah barisan geometri dengan rasio tetap $(1 + r)$. Karena variabel waktu $n$ berada pada posisi eksponen, model ini membentuk Fungsi Eksponensial. Untuk perusahaan $B$ dengan bunga $10$ ($r = 0{,}10$), model investasinya adalah:
Sebagai ilustrasi dasar dengan modal $M = 100$:
Pada $n = 1$: Perusahaan $A$ menghasilkan $100(1 + 0{,}12) = 112$, sedangkan Perusahaan $B$ menghasilkan $100(1{,}1)^1 = 110$.
Pada $n = 2$: Perusahaan $A$ menjadi $100(1 + 0{,}24) = 124$, sedangkan Perusahaan $B$ menjadi $100(1{,}1)^2 = 121$.
Menghitung Tahun Awal
Kelebihan suku bunga nominal yang lebih besar langsung terlihat pada tahun pertama, tetapi harus dieksekusi dengan hati-hati saat memasuki tahun kedua.
Untuk menguji performa awal, kita evaluasi nilai investasi pada akhir tahun pertama ($n = 1$) dengan memasukkan nilai ke kedua model matematika:
Karena $1{,}12M > 1{,}10M$, total modal di perusahaan $A$ terbukti lebih tinggi daripada perusahaan $B$ pada akhir tahun ke-$1$. Ini membuktikan bahwa Opsi A benar.

Saat memasuki tahun ke-$2$ ($n = 2$), kita berhadapan dengan perhitungan kuadrat desimal untuk perusahaan $B$: $(1{,}1)^2$. Kita tidak perlu kalkulator untuk mengeksekusi perhitungan ini. Bentuk aljabar $(a + b)^2 = a^2 + 2ab + b^2$ atau konversi ke pecahan biasa membuat langkahnya jauh lebih sederhana:
Menggunakan distribusi aljabar: $(1 + 0{,}1)^2 = 1^2 + 2(1)(0{,}1) + (0{,}1)^2 = 1 + 0{,}2 + 0{,}01 = 1{,}21$.
Atau menggunakan pecahan: $\left(\frac{11}{10}\right)^2 = \frac{121}{100} = 1{,}21$.
Maka, akumulasi nilai pada akhir tahun ke-$2$ adalah:
Berapa selisih keuntungan antara kedua perusahaan di akhir tahun kedua?
Sifat Linear vs Eksponensial
Secara sifat fungsi matematis, model eksponensial dengan basis lebih dari satu akan selalu tumbuh lebih pesat dalam jangka panjang dan melampaui pertumbuhan linear apa pun.
Perbedaan mendasar antara kedua skema investasi ini terletak pada bentuk kurvanya:
Perusahaan $A$ (Fungsi Linear): Persamaan $M_A(n) = M + 0{,}12Mn$ memiliki turunan konstan. Grafiknya membentuk garis lurus menanjak dengan gradien tetap $0{,}12M$.
Perusahaan $B$ (Fungsi Eksponensial): Persamaan $M_B(n) = M(1{,}1)^n$ memiliki laju perubahan yang membesar seiring nilai $M_B$ membesar. Grafiknya bukan garis lurus, melainkan kurva melengkung ke atas (curved concave upward). Karakteristik kurva melengkung ini membuktikan bahwa Opsi C salah (karena Opsi C menyebut grafik B sebagai garis lurus bergradien konstan).
Meskipun laju nominal tahunan perusahaan $A$ ($12$) di awal lebih tinggi daripada perusahaan $B$ ($10$), keunggulan sistem linear hanya bersifat sementara:
Pada jangka pendek ($n = 1$ hingga $n = 5$), penambahan tetap $12$ membuat garis linear $M_A$ berada di atas kurva eksponensial $M_B$.
Namun, pertumbuhan eksponensial terus melipatgandakan seluruh akumulasi sebelumnya. Seiring bertambahnya $n$, kemiringan kurva eksponensial terus bertambah curam.
Pada akhirnya, kurva eksponensial $M_B$ pasti memotong dan melampaui garis lurus $M_A$. Sebagai contoh, pada tahun ke-$15$ ($n = 15$):
$M_A(15) = M(1 + 0{,}12 \times 15) = 2{,}80M$
$M_B(15) = M(1{,}1)^{15} \approx 4{,}177M$
Nilai investasi di perusahaan $B$ telah berbalik menjadi jauh lebih besar daripada perusahaan $A$. Hal ini membuktikan bahwa Opsi B salah (akumulasi $A$ tidak selalu lebih tinggi) dan Opsi D benar (perusahaan $B$ akan menyusul dan melampaui hasil perusahaan $A$ dalam jangka panjang).
Dalam sebuah laboratorium, spesies bakteri X tumbuh majemuk sebesar 5% per hari, sedangkan spesies bakteri Y berkembang membelah dengan pola pertumbuhan konstan bertambah 1.000 bakteri setiap hari (pertumbuhan linear). Misal modal jumlah bakteri awal sama besar. Jika diamati dalam rentang waktu beberapa tahun ke depan, kesimpulan manakah yang benar secara matematis?
- Kurva populasi bakteri X akhirnya akan menanjak lebih ekstrem dan melampaui populasi bakteri Y.
- Populasi bakteri Y akan terus mengalahkan bakteri X selamanya karena penambahan konstan per hari lebih masif.
- Pertumbuhan bakteri X pada grafik membentuk garis lurus dengan sudut elevasi menanjak positif konstan.
- Selisih populasi antara bakteri X dan Y akan terus konstan atau tidak berubah sepanjang waktu observasi.
Jawaban: Kurva populasi bakteri X akhirnya akan menanjak lebih ekstrem dan melampaui populasi bakteri Y.
Pertumbuhan bakteri X bersifat eksponensial (berlipat dengan rasio pengali 1,05), sedangkan bakteri Y bersifat linear (penambahan tetap 1.000). Walaupun di masa awal penambahan 1.000 terasa lebih besar, fungsi eksponensial dengan basis > 1 pada akhirnya pasti akan menyusul dan melampaui fungsi linear untuk rentang waktu yang cukup panjang. Opsi B salah karena efek eksponensial akan membalap linear. Opsi C salah karena grafik eksponensial melengkung, bukan garis lurus. Opsi D salah karena laju kedua fungsi berbeda sehingga selisihnya terus berubah.
Fungsi eksponensial dengan laju yang lebih kecil pada akhirnya membalap fungsi linear dengan laju yang lebih besar berkat pembesaran basis secara kumulatif.