Anatomi Pajak Obat: Kurva Tegak & Deadweight Loss
Obat Vital: Kenapa Kurvanya Tegak Lurus?
Pernahkah kamu membayangkan obat untuk penyakit kronis yang sifatnya menyelamatkan nyawa? Dokter meresepkan pasien untuk minum tepat 1 botol setiap bulannya.
Kalau harga obat itu lagi murah, apakah pasien bakal borong 5 botol untuk diminum semua? Tentu tidak, dosisnya kan cuma 1 botol. Sebaliknya, kalau harga obatnya tiba-tiba naik drastis jadi sangat mahal, apakah pasien bakal mengurangi minum obat jadi setengah botol? Tidak juga, karena nyawanya jadi taruhan. Pasien akan tetap mengusahakan beli 1 botol berapapun harganya.
Dalam ilmu ekonomi, kondisi ekstrem di mana pembeli sama sekali tidak peduli pada perubahan harga disebut sebagai Permintaan Inelastis Sempurna ($E_d = 0$). Artinya, perubahan harga (P) tidak mengubah kuantitas (Q) sedikit pun.
Jika kita plot ini di atas grafik (Harga di sumbu Y tegak, Kuantitas di sumbu X mendatar), karena kuantitasnya terkunci di satu angka mutlak, semua titik kombinasi harga dan kuantitas akan membentuk sebuah garis lurus yang tegak (vertikal).
Tinggal geser-geser slider harga di atas. Kamu bisa lihat bahwa titik transaksinya cuma bisa merambat naik atau turun ibarat lift di dalam gedung, tapi posisinya sama sekali tidak bergeser ke kiri atau ke kanan (Kuantitas tetap konstan).
Inilah alasan kenapa di wacana soal, kurva permintaannya digambarkan sebagai garis yang tegak lurus.
Jika seorang pasien rutin membutuhkan 3 botol obat per bulan dan kurva permintaannya inelastis sempurna, apa yang terjadi jika pemerintah menaikkan harga obat tersebut menjadi dua kali lipat?
- A. Pasien akan beralih ke obat alternatif yang lebih murah
- B. Kuantitas obat yang dibeli pasien akan tetap berjumlah 3 botol
- C. Kuantitas obat yang dibeli akan turun proporsional dengan kenaikan harga
- D. Pasien akan mengurangi dosis menjadi 1,5 botol untuk menghemat
Jawaban: B. Kuantitas obat yang dibeli pasien akan tetap berjumlah 3 botol
Karena sifat permintaannya inelastis sempurna (Ed = 0), kuantitas akan terkunci. Berapapun harganya, jumlah yang dibeli tidak akan berubah.
Pada permintaan inelastis sempurna (kurva vertikal), perubahan harga tidak mempengaruhi kuantitas barang yang diminta sama sekali.
Efek Pajak: Perpotongan di Tiang Listrik
Sekarang, mari kita bawa pemerintah ke dalam cerita. Pemerintah memutuskan untuk mengenakan pajak spesifik pada obat impor tersebut.
Secara hukum (statutory), pajak ini ditagihkan ke pihak farmasi (produsen). Pajak ibarat "biaya tambahan" bagi produsen. Akibatnya, kurva penawaran (Supply) mereka akan bergeser ke atas sejauh nilai pajak ($t$) tersebut. Mereka butuh harga jual yang lebih tinggi untuk kompensasi pajak yang harus disetor ke negara.
Tapi ingat bentuk kurva permintaan pasien tadi? Ya, bentuknya vertikal bak tiang listrik.
Bayangkan kurva penawaran ini seperti penggaris miring yang kamu geser ke atas. Karena kurva permintaannya adalah sebuah tiang listrik yang tegak, maka ke manapun si penggaris miring tadi digeser ke atas, ia pasti akan memotong 'tiang' tersebut di posisi yang lebih tinggi (harga pasar naik), tapi 'tiang'-nya sendiri tidak bergeser ke kiri atau kanan.
Lalu, bagaimana dengan beban pajaknya? Karena pasien harus beli obat ini tanpa bisa mengurangi jumlah konsumsinya, produsen dengan santainya menaikkan harga jual persis sebesar pajak tersebut.
Produsen tidak menanggung sepeserpun beban pajak, karena seluruh kenaikan harga ditanggung sepenuhnya oleh konsumen (pasien). Harga bersih yang diterima produsen (setelah dipotong pajak yang disetor ke pemerintah) sama persis dengan sebelum ada pajak. Inilah alasan kenapa pernyataan produsen menanggung beban pajak adalah salah.
Berdasarkan grafik tiang listrik tadi, tentukan kebenaran dari efek pajak spesifik di pasar berpermintaan inelastis sempurna berikut!
- Seluruh beban pajak spesifik dibebankan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga. — Benar
- Harga bersih yang diterima produsen (setelah dikurangi pajak) akan menurun akibat kebijakan ini. — Salah
Karena kurva vertikal, produsen bisa menaikkan harga persis sebesar pajak. Harga yang dibayar konsumen naik penuh, sementara uang yang masuk ke kantong produsen (setelah setor pajak) tidak berkurang sepeser pun.
Pajak pada barang dengan permintaan inelastis sempurna ditanggung sepenuhnya oleh konsumen, dan harga bersih bagi produsen tidak berubah.
Berkenalan dengan Surplus
Sebelum kita membahas miskonsepsi besar tentang kerugian di soal ini, kita perlu kenalan dulu dengan konsep Surplus. Surplus adalah 'keuntungan tersembunyi' atau kesejahteraan yang didapatkan dari sebuah transaksi pasar.
Surplus Konsumen: Misal kamu rela bayar Rp100.000 buat obat itu karena sangat butuh, tapi ternyata harga di apotek cuma Rp60.000. Kamu merasa "untung" Rp40.000, kan? Inilah surplus konsumen.
Surplus Produsen: Di sisi lain, pabrik farmasi sebenarnya rela (masih balik modal) kalau jual obat di harga Rp40.000. Tapi karena harga pasar Rp60.000, mereka "untung" ekstra Rp20.000 per botol. Inilah surplus produsen.
Di dalam grafik ekonomi yang normal, total kesejahteraan atau surplus ini digambarkan sebagai luasan area (segitiga) yang berada di antara kurva dan garis harga keseimbangan pasar.
Bagaimana dengan kasus pajak kita tadi? Seperti yang kita bahas sebelumnya, seluruh beban pajak dilimpahkan ke konsumen. Harga beli bagi konsumen naik persis senilai pajak. Namun, harga bersih yang diterima produsen (setelah setor pajak ke pemerintah) tetap sama/konstan seperti sebelum ada pajak.