Detektif Fauna: Menguak Batas Wallace & Weber

Jejak Zaman Es: Sunda & Sahul

Pulau-pulau di ujung barat dan timur Indonesia pernah bergabung dengan dua benua berbeda saat zaman es, menyebarkan fauna darat benua.

Pada Zaman Pleistosen (zaman es), air laut bumi membeku dalam jumlah masif di kutub sehingga permukaan laut menyusut hingga lebih dari 100 meter di bawah permukaan laut modern. Penurunan muka air laut ini menyingkap landas kontinen dangkal menjadi dataran daratan yang sangat luas dan saling terhubung.

Peta Paparan Sunda dan Sahul pada zaman es Gambar: Muntuwandi, CC BY 2.5 — Wikimedia Commons

Di bagian barat, Kalimantan, Jawa, dan Sumatera bersatu utuh dengan benua Asia membentuk kawasan daratan raksasa yang disebut Paparan Sunda (Sundaland). Hewan mamalia plasental (mamalia yang melahirkan anak berkembang matang di rahim) berukuran besar—seperti harimau, gajah purba, badak, dan orangutan—leluasa berjalan kaki melintasi hutan tropis purba dari Asia daratan hingga ke titik paling selatan Paparan Sunda.

Sebaliknya di bagian timur, pulau Papua menyatu menjadi satu daratan dengan benua Australia membentuk Paparan Sahul. Akibatnya, kelompok satwa khas benua selatan seperti Marsupialia (mamalia berkantung yang anaknya dilahirkan prematur dan tumbuh di dalam kantung induk, seperti kangguru) serta burung berukuran besar bermigrasi dan berkembang di Papua. Kesatuan daratan masa lampau inilah yang menjadi alasan mendasar mengapa fauna di barat Indonesia mencerminkan Asia, sedangkan di timur mencerminkan Australia.

Seorang peneliti menemukan fosil primata purba dari famili yang sama tersebar luas dari Tiongkok hingga ke Pulau Sumatera, namun jejak fosil tersebut terputus drastis di perairan sebelah timur Bali. Apa faktor alam historis utama yang memungkinkan penyeberangan primata tersebut ke Sumatera sebelum akhirnya terhenti di timur?

  • Primata berenang dalam rombongan besar melintasi lautan purba Asia hingga terdampar di Sumatera.
  • Menyusutnya permukaan air laut di zaman es yang menyatukan Asia daratan dan Sumatera menjadi satu daratan besar.
  • Spesies primata yang berbeda berevolusi secara paralel dan menghasilkan bentuk yang mirip secara kebetulan di wilayah Asia dan Sumatera.
  • Primata tersebut diangkut dan dibudidayakan oleh leluhur manusia kuno yang melakukan perjalanan laut dari daratan Tiongkok ke Sumatera.

Jawaban: Menyusutnya permukaan air laut di zaman es yang menyatukan Asia daratan dan Sumatera menjadi satu daratan besar.

Mamalia plasental berukuran besar tidak mampu berenang menyeberangi perairan terbuka yang lebar. Migrasi darat hanya dimungkinkan saat Zaman Pleistosen, ketika pembekuan air di kutub menurunkan muka air laut global dan menyatukan Asia daratan dengan pulau-pulau di Paparan Sunda menjadi satu jembatan daratan utuh. Opsi lain keliru karena primata darat tidak bermigrasi lewat renang laut lepas, kemiripan genetik famili bukan kebetulan belaka, dan sebaran fosil prasejarah ini terjadi jauh mendahului era domestikasi pelayaran manusia.

Kekerabatan fauna terjadi karena kesatuan wilayah daratan kuno akibat penyusutan air laut.

Batas Asia & Zona Karantina Sulawesi

Isolasi akibat palung laut dalam di tengah Indonesia melahirkan fauna endemik unik (Wallacea) yang dipisahkan dari barat oleh Garis Wallace.

Meskipun permukaan air laut turun drastis selama zaman es dan menyatukan daratan Sunda serta Sahul, perairan di antara Kalimantan dan Sulawesi tidak pernah mengering. Di Selat Makassar dan Selat Lombok terdapat palung dan parit laut samudra dengan kedalaman mencapai ribuan meter. Kedalaman ekstrem ini menjadi dinding pembatas alami yang kokoh.

Penampang bawah laut dari pesisir Kalimantan yang dangkal menuju palung laut dalam di Selat Makassar ke arah Sulawesi.

Sulawesi terjebak di tengah perairan dalam ini selama jutaan tahun dan tidak pernah terhubung langsung oleh jembatan darat ke Asia maupun Australia. Kawasan kepulauan terisolasi ini dinamakan Wallacea. Hewan darat dari Asia daratan yang terbawa hanyut secara langka di masa purba (misalnya primata pemanjat atau babi hutan) terdampar di Sulawesi dan berevolusi secara terisolasi tanpa aliran gen baru dari benua asalnya. Dari proses isolasi jutaan tahun inilah lahir spesies endemik—hewan unik yang hanya ditemukan di wilayah itu, seperti anoa (kerbau kerdil) dan babirusa.

Ketika naturalis Alfred Russel Wallace mengamati kepulauan ini pada abad ke-19, ia terpukau karena perbedaan jenis fauna sangat kontras meski jarak antarpulau di selat tersebut hanya puluhan kilometer. Di Kalimantan satwanya khas hutan hujan Asia, sementara melintasi Selat Makassar ke Sulawesi, hewan daratnya didominasi oleh satwa endemik yang sangat khas.

Berdasarkan data batimetri kelautan, perairan yang mengelilingi sebuah kepulauan besar X tercatat memiliki palung dengan kedalaman rata-rata lebih dari 2.000 meter yang bertahan utuh sejak zaman purba. Kondisi ekologis mamalia darat seperti apa yang paling mungkin ditemukan di Kepulauan X tersebut akibat morfologi perairan ini?

  • Faunanya bercirikan kekhasan tinggi yang berevolusi sendiri dan terisolasi, berbeda dari daratan benua besar yang mengapit kepulauan itu.
  • Kepulauan X secara eksklusif menjadi tempat berkumpulnya campuran fauna secara acak yang berenang atau bermigrasi tiap musim dari benua Asia tanpa terbentuk kekhasan.
  • Kepulauan X akan memiliki kesamaan fauna hingga hampir 100% sama dengan benua Australia akibat pengaruh tektonik purba masa lampau.
  • Hanya hewan mamalia air yang bisa hidup menetap dan mendominasi tanpa membiarkan satupun daratan berfauna liar bertahan hidup di sana.

Jawaban: Faunanya bercirikan kekhasan tinggi yang berevolusi sendiri dan terisolasi, berbeda dari daratan benua besar yang mengapit kepulauan itu.

Palung laut sedalam lebih dari 2.000 meter berfungsi sebagai rintangan permanen yang tidak pernah mengering bahkan saat zaman es terdingin. Halangan air yang persisten ini mengisolasi mamalia darat yang terdampar di kepulauan tersebut, memutus aliran gen dari daratan utama, dan memicu spesiasi lokal hingga terbentuk tingkat endemisme yang tinggi. Pengecoh B salah karena mamalia darat tidak rutin berenang melintasi palung laut, C keliru karena isolasi mencegah kesamaan identik dengan benua asal, dan D salah karena mamalia darat tetap dapat bertahan hidup dan berdiferensiasi di daratan pulau tersebut.

Palung laut dalam mencegah pertukaran fauna secara bebas sehingga menciptakan endemisme (peralihan).

Garis Weber dan Lydekker: Distingsi di Timur

Garis Weber memisahkan keseimbangan fauna peralihan dengan Australis dominan, sedangkan Garis Lydekker secara murni membatasi wilayah Paparan Sahul (Australia).

Saat kita berlayar ke arah timur melintasi Sulawesi dan Kepulauan Maluku menuju Papua, satwa plasental tipe Asia semakin berkurang, dan satwa berkantung (marsupial) khas Australia mulai banyak bermunculan. Di zona transisi yang luas ini, para ilmuwan mengidentifikasi dua batas penting dengan makna ekologis dan geologis yang berbeda.

Diagram skema tiga zona biogeografi Indonesia menunjukkan Dataran Benua Asia, perairan Wallacea diapit garis pembatas, dan Paparan Sahul Australia.

Perbedaan peran kedua garis pembatas di kawasan timur:

Tentukan kebenaran pernyataan-pernyataan berikut mengenai batas biogeografi di kawasan Indonesia Timur berdasarkan peran ekologis dan geologisnya!

  • Garis Lydekker ditetapkan sebagai garis khayal pembatas barat pada zona pinggiran landas kontinen Sahul yang pada mulanya sepenuhnya bergabung ke benua Australia. — Benar
  • Garis Weber berfungsi sama persis dan saling tumpang-tindih menggantikan keberadaan Garis Lydekker untuk menandai tepi murni lempeng geologi wilayah Papua. — Salah

Pernyataan 1 Benar: Garis Lydekker ditarik mengikuti kontur tepian barat Paparan Sahul (landas kontinen Australia-Papua yang dangkal) dan menandai batas murni fauna asal benua Australia. Pernyataan 2 Salah: Garis Weber tidak menempel pada struktur lempeng geologis, melainkan merupakan garis keseimbangan faunistik (faunal balance) di mana proporsi hewan tipe Oriental dan Australis berimbang 50:50 di perairan transisi antara Sulawesi/Maluku dan Papua.

Memahami pemisahan fungsi Garis Weber sebagai perbatasan ekologis yang membagi dominasi satwa dan Garis Lydekker yang merupakan batas struktural purba Australia.