Makna Leksikal vs Kontekstual di Teks

Kamus vs Panggung Nyata

Waktu kamu ngerjain soal tadi, kamu mungkin sadar kalau kata "ikon" di kamus punya beberapa arti. Tapi kenapa kita gak bisa sembarang pilih arti yang paling pertama muncul?

Bayangin kamus itu ibarat resume seorang aktor. Di resume, si aktor (kata) ditulis punya potensi buat meranin macem-macem karakter: jadi pahlawan, jadi penjahat, atau jadi badut. Daftar potensi ini yang kita sebut sebagai makna leksikal—makna asli kata yang statis dan kaku sesuai KBBI.

ilustrasi

Tapi, pas aktor itu udah naik ke panggung nyata alias masuk ke dalam sebuah kalimat, dia dipaksa buat milih satu peran pasti. Kalimat dan situasi di sekitarnya ngasih dia "kostum" khusus. Makna yang dipakai saat di atas panggung inilah yang disebut makna kontekstual—maknanya jadi dinamis, spesifik, dan bergantung banget sama situasi atau tetangga katanya.

Miskonsepsi yang paling sering terjadi adalah mengira arti pertama di kamus pasti yang paling benar. Padahal, penulis teks sering meminjam kata buat ngewakilin ide lain. Jadi, jangan hafalin arti kamus doang, tapi lihat dia lagi mainin peran apa di panggung kalimat itu!

ilustrasi

Berdasarkan analogi aktor dan panggung nyata, mengapa kita tidak bisa sembarang menggunakan arti pertama yang muncul di kamus untuk memaknai sebuah teks?

  • A. Karena kamus sering kali belum diperbarui dengan kata-kata slang masa kini.
  • B. Karena arti pertama biasanya hanya berlaku untuk kalimat formal dan baku.
  • C. Karena kalimat dan konteks sekitarnya 'memaksa' kata tersebut untuk memilih satu peran spesifik dari berbagai daftar potensi maknanya.
  • D. Karena makna leksikal merupakan satu-satunya makna yang boleh dipakai dalam penulisan sastra.

Jawaban: C. Karena kalimat dan konteks sekitarnya 'memaksa' kata tersebut untuk memilih satu peran spesifik dari berbagai daftar potensi maknanya.

Arti di kamus merupakan kumpulan berbagai potensi makna (makna leksikal). Makna yang sebenarnya dan paling tepat sangat ditentukan oleh konteks kalimat di mana kata itu berada.

Makna kontekstual sebuah kata sering kali menyempit atau lebih spesifik dari makna leksikal utamanya karena disesuaikan dengan situasi kalimatnya.

Sistem Filter: Tetangga Kata

Gimana caranya kita tahu peran apa yang lagi dimainin si kata di panggung kalimat? Jawabannya ada di tetangga katanya.

Dalam linguistik, ada konsep yang namanya kolokasi (penyandingan kata). Kata-kata yang berdampingan ini bertindak kayak "sistem filter". Mereka bakal ngegugurin secara logis makna-makna kamus yang gak relevan.

Coba kita bedah frasa di soal: "Ikon kuliner nasional".

  1. Filter pertama: kata "kuliner". Filter ini langsung membuang kemungkinan kalau "ikon" di sini ada hubungannya sama software komputer atau lukisan suci Ortodoks.

  2. Filter kedua: kata "nasional" dan "diakui secara luas". Filter ini nunjukin kalau kata tersebut harus bermakna sesuatu yang jadi representasi atau lambang identitas besar kebanggaan suatu bangsa.

Jadi, batasan ruang maknanya udah dibentuk sama tetangga-tetangganya. Kamu gak bisa maksain arti "benda pusaka peninggalan masa lalu" (Opsi B) untuk sesuatu yang jelas-jelas lagi bahas makanan dan kebanggaan identitas.

Tentukan apakah pernyataan berikut terkait cara kerja 'sistem filter' (kolokasi) dalam menyeleksi makna ini Benar atau Salah!

  • Kehadiran kata 'kuliner' dan 'nasional' di sekitar kata 'ikon' secara otomatis menggugurkan peluang kata tersebut merujuk pada artefak benda peninggalan purbakala. — Benar
  • Konsep kolokasi memungkinkan kita untuk menggunakan dua makna leksikal yang saling bertolak belakang dalam satu frasa pendek secara bersamaan tanpa membingungkan. — Salah

Tetangga kata (kolokasi) berfungsi sebagai filter logis. Kehadirannya menggugurkan makna lain yang tidak relevan secara kontekstual, sehingga kita tidak bisa memaksakan semua arti kamus di satu tempat.

Tetangga kata secara logis bertindak sebagai filter yang membuang kemungkinan makna leksikal yang tidak masuk akal.

Membedah Evolusi Kata 'Ikon'

Biar lebih kebayang gimana makna sebuah kata bisa bermigrasi dan berubah wujud, mari kita lihat sejarah kata 'Ikon' sendiri. Kata ini adalah contoh sempurna gimana makna leksikal bisa berevolusi.

Secara etimologi (sejarah asal kata), 'Ikon' berasal dari bahasa Yunani eikṓn yang berarti lukisan atau gambar. Di zaman dulu, makna leksikal utamanya sangat sakral: lukisan tokoh suci di gereja Ortodoks Timur. Makna sejarah yang suci inilah yang sebenarnya jadi pengecoh di opsi B pada soal tadi.

Свети Стефан Дечански (Манастир Јасеновац) Gambar: Petar Milošević, CC BY-SA 4.0 — Wikimedia Commons

Masuk ke era modern tahun 80-an (ketika graphical user interface komputer diciptakan), makna 'Ikon' bergeser masuk ke ranah teknologi. Ia berubah jadi simbol kecil di layar komputermu yang mewakili sebuah program atau folder.

Device-computer-icon Gambar: paomedia, CC0 — Wikimedia Commons

Lalu, sampailah kita di budaya pop dan sosiologi, tempat konteks wacana nasi goreng kita berada. Sama seperti figur publik yang disebut "Ikon Pop", nasi goreng disebut sebagai "Ikon Kuliner". Benang merah dari semua evolusi ini dari agama hingga makanan adalah ide tentang "representasi". Nasi goreng adalah representasi atau simbol identitas budaya Indonesia yang diakui dunia.