Nasionalisme: Lebih dari Sekadar Militer & Ekonomi
Nasionalisme Bukan Cuma Angkat Senjata
Kamu mungkin sempat berpikir kalau urusan dalam negeri = tentara jaga keamanan perbatasan, dan urusan luar negeri = diplomat dagang ekspor-impor buat nambah cuan negara. Pemikiran ini lumrah, tapi kurang tepat dalam konteks filosofi negara kita.

Dalam Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), nasionalisme Indonesia punya akar yang jauh lebih dalam: semangat gotong royong dan Pancasila. Nasionalisme kita bukan sekadar alat buat pamer kekuatan militer atau unjuk gigi ekonomi, melainkan fondasi untuk memanusiakan manusia.
Arah dari semangat gotong royong ini dibagi jadi dua fokus utama: perlakuan ke dalam (kepada sesama anak bangsa) dan perlakuan ke luar (kepada warga dunia). Keduanya bertumpu pada empati, bukan cuma adu kuat senjata.
Jika nasionalisme Indonesia berakar pada semangat 'gotong royong' seperti yang digagas para pendiri bangsa, apa implikasi utamanya terhadap kebijakan luar negeri kita?
- A. Indonesia harus mendominasi perdagangan di Asia Tenggara.
- B. Indonesia fokus memajukan kemanusiaan dan perdamaian global.
- C. Indonesia perlu membangun militer terkuat untuk mengancam negara lain.
- D. Indonesia menutup diri dari pengaruh budaya asing.
Jawaban: B. Indonesia fokus memajukan kemanusiaan dan perdamaian global.
Gotong royong di level global berarti kita mengedepankan nilai kemanusiaan, perdamaian, dan saling membantu antar bangsa, bukan mendominasi atau unjuk kekuatan.
Nasionalisme gotong royong menitikberatkan pada kemanusiaan, bukan kekuatan fisik atau militer.
Tujuan Kedalam: Merajut Keberagaman
Kalau bukan buat memperkuat militer domestik, terus apa arti "tujuan kedalam"? Tujuan kedalam sangat berfokus pada kondisi sosial-budaya kita yang super beragam.
Tujuan ini berarti kita menyikapi keberagaman Nusantara (suku, agama, budaya, ras) bukan sebagai ancaman yang harus ditumpas atau diseragamkan secara paksa, melainkan sebagai anugerah kekayaan. Inilah yang di soal disebut sebagai proses penyerbukan budaya—beragam perbedaan saling mengisi dan memperkaya corak kebangsaan kita, bukan saling mendominasi.
Gambar: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Public domain — Wikimedia Commons
Coba bayangkan momen sejarah Sumpah Pemuda 1928. Saat itu, para pemuda dari Jong Java, Jong Ambon, hingga Jong Batak memutuskan untuk bersatu. Mereka menyatu bukan karena ditodong senjata oleh militer, tapi karena kesadaran penuh akan nilai persaudaraan sedarah. Merajut keberagaman agar tidak pecah dari dalam—itulah esensi sejati dari nasionalisme tujuan kedalam.
Tujuan Keluar: Menjadi Warga Dunia
Lalu, bagaimana dengan "tujuan keluar"? Karena berakar pada semangat memanusiakan manusia, nasionalisme kita sangat menentang penjajahan dan penindasan. Bangga berlebihan pada negara sendiri sampai merendahkan bangsa lain disebut Chauvinisme, dan nasionalisme Indonesia adalah musuh utamanya.
Tujuan keluar berarti: memuliakan kemanusiaan universal, ikut menjaga perdamaian global, dan menjunjung tinggi kesetaraan serta keadilan antar umat manusia. Kita menganggap bangsa kita berdiri sejajar dengan bangsa lain di dunia, saling menghormati, bukan cari musuh atau menjajah.
Gambar: Unknown author, Public domain — Wikimedia Commons
Tentukan apakah pernyataan berikut mencerminkan 'Tujuan Keluar' dari nasionalisme Indonesia atau justru sebuah penyimpangan (Chauvinisme).
- Membangun aliansi negara berkembang untuk menolak segala bentuk penjajahan di dunia. — Tujuan Keluar
- Menganggap budaya negara sendiri yang paling sempurna dan memaksa negara tetangga untuk menirunya. — Penyimpangan
Tujuan keluar berfokus pada kesetaraan dan perdamaian antarbangsa. Merendahkan atau memaksa bangsa lain adalah bentuk chauvinisme (penyimpangan).
Tujuan keluar nasionalisme Pancasila menghormati kesetaraan bangsa, sedangkan chauvinisme merendahkan bangsa lain.