Eutrofikasi: Efek Domino 'Atap' Eceng Gondok
Pemicu Awal: Pesta Pora Makanan
Pernahkah kamu melihat sungai atau danau yang tiba-tiba tertutup penuh oleh hamparan eceng gondok yang sangat hijau dan rimbun? Fenomena ledakan populasi tanaman air ini disebut Eutrofikasi. Banyak yang mengira ini terjadi karena ikan pemakan tumbuhan di air tersebut tiba-tiba menghilang. Padahal, bukan itu pemicu utamanya!
Pemicu aslinya adalah "pesta pora makanan" alias masuknya nutrisi berlebih ke dalam perairan. Dari mana datangnya? Biasanya dari limpasan pupuk pertanian (seperti nitrogen dan fosfor) yang hanyut terbawa hujan, atau dari limbah pabrik dan kotoran ternak yang masuk ke sungai.

Kondisi nutrisi melimpah inilah yang memberi "bahan bakar" tak terbatas bagi eceng gondok untuk memperbanyak diri hingga puluhan kali lipat. Tapi tunggu, pertumbuhannya yang luar biasa ini akan memicu rentetan masalah baru.

Manakah dari kejadian berikut yang paling mungkin menjadi pemicu awal terjadinya ledakan populasi eceng gondok di suatu perairan?
- A. Berkurangnya jumlah ikan pemakan tumbuhan di danau
- B. Suhu air yang semakin hangat akibat pemanasan global
- C. Hanyutnya sisa pupuk nitrogen dan fosfor dari lahan pertanian ke sungai
- D. Berkurangnya pasokan oksigen dari udara bebas
Jawaban: C. Hanyutnya sisa pupuk nitrogen dan fosfor dari lahan pertanian ke sungai
Eutrofikasi terjadi karena 'pesta pora' nutrisi (nitrogen & fosfor) yang berasal dari limbah atau pupuk, sehingga tanaman air tumbuh liar tak terkendali.
Eutrofikasi dipicu oleh masuknya nutrisi berlebih (seperti pupuk) ke perairan, bukan karena kurangnya hewan pemakan.
Terbentuknya 'Atap' Raksasa
Eceng gondok punya satu karakteristik penting: ia mengambang tepat di atas permukaan air. Ketika nutrisi dari limbah memicu pertumbuhannya yang liar, populasi eceng gondok akan berdesakan dan mengunci satu sama lain.
Hanya dalam waktu singkat, daun-daun mereka yang lebar dan rapat menutupi seluruh permukaan perairan. Mereka membentuk sebuah lapisan padat yang mirip seperti "atap" hijau raksasa.
Nah, atap eceng gondok ini memblokir hampir 100% sinar matahari untuk masuk ke bagian dalam dan dasar perairan. Air yang tadinya tembus cahaya berubah jadi lingkungan yang sangat gelap. Dan di sinilah masalah utama bagi ekosistem air mulai terjadi.
Misteri Oksigen yang Hilang
Sekarang, mari luruskan sebuah kesalahpahaman. Banyak yang mengira ikan mati lemas karena eceng gondok di permukaan langsung menyedot semua oksigen dari dalam air, seolah-olah tanaman ini memperebutkan oksigen yang sama dengan ikan.
Faktanya tidak begitu! Karena mengambang, bagian daun eceng gondok mengambil oksigen dan karbon dioksida langsung dari udara bebas (atmosfer), bukan dari air. Lalu, dari mana hilangnya pasokan oksigen di dalam air?
Jawabannya ada di dasar perairan. Di danau atau sungai normal, tumbuhan bawah air (dan fitoplankton) bertugas sebagai "pabrik oksigen". Mereka melakukan fotosintesis di dalam air dan menghasilkan gelembung oksigen terlarut yang dihirup oleh ikan.
Karena 'atap' eceng gondok menghalangi sinar matahari, pabrik oksigen di bawah air ini tidak bisa berfotosintesis. Jika tak ada fotosintesis, suplai oksigen terlarut baru terhenti total. Lama-kelamaan, simpanan oksigen di air habis terpakai dan membuat hewan air kesulitan bernapas.
Berdasarkan penjelasan tadi, apa penyebab sebenarnya air di bawah lapisan eceng gondok kehabisan oksigen terlarut?
- A. Akar eceng gondok menyerap semua oksigen terlarut di air
- B. Tumbuhan di dasar air tidak dapat berfotosintesis karena kekurangan cahaya
- C. Eceng gondok berebut oksigen dengan ikan untuk bernapas di siang hari
- D. Eceng gondok menghasilkan gas racun yang mengusir oksigen dari air
Jawaban: B. Tumbuhan di dasar air tidak dapat berfotosintesis karena kekurangan cahaya
Oksigen terlarut anjlok bukan karena diisap eceng gondok, melainkan karena tumbuhan bawah air (pabrik oksigen) tidak mendapat sinar matahari untuk fotosintesis.
Hilangnya oksigen terlarut terjadi karena terhalangnya cahaya matahari yang menghentikan fotosintesis tanaman di bawah air.