Logika Kehematan Kalimat Efektif

Jebakan 'Enak Dibaca'

Pernahkah kamu ngerjain soal kalimat efektif, lalu milih jawaban cuma karena kalimatnya "terdengar paling enak dan luwes" pas dibaca dalam hati? Kalau iya, kamu nggak sendirian! Intuisi bahasa kita memang sering otomatis milih kalimat yang mirip dengan obrolan sehari-hari.

Masalahnya, bahasa lisan dan bahasa tulis formal punya aturan main yang beda.

ilustrasi

Di obrolan sehari-hari, kita sering mengulang-ulang kata atau nambahin banyak kata bantu ("agar supaya", "demi untuk") biar maksud kita lebih tegas tersampaikan atau sekadar ngisi jeda mikir. Ibaratnya, bawa 5 obeng beda ukuran cuma buat muter 1 sekrup. Boleh aja, tapi nggak efisien.

Di ujian formal seperti TWK (Tes Wawasan Kebangsaan), kalimat yang kamu hadapi diatur oleh standar baku. Di sini, berlaku prinsip Kehematan Kata (atau hindari pleonasme). Aturan emasnya: Tidak boleh ada kata yang jika dihilangkan, makna kalimatnya tetap sama persis.

Biar nggak terjebak, kita harus menggeser paradigma: dari sekadar "enak dibaca" menjadi "apakah ada kata-kata mubazir yang maknanya tumpang tindih?".

Mengapa kalimat yang terasa 'enak dibaca' atau sering kita dengar sehari-hari belum tentu merupakan kalimat efektif dalam standar baku?

  • A. Kalimat tersebut memiliki tata bahasa lisan yang santai
  • B. Adanya pemborosan kata yang maknanya saling tumpang tindih
  • C. Kalimat tersebut tidak menggunakan kosakata bahasa asing
  • D. Kurangnya tanda baca yang tepat pada kalimat tersebut

Jawaban: B. Adanya pemborosan kata yang maknanya saling tumpang tindih

Kalimat sering kali terasa 'enak dibaca' secara lisan namun tidak efektif secara tulisan formal karena mengandung pemborosan kata (pleonasme) yang melanggar prinsip kehematan.

Prinsip kehematan kata mengharuskan kita membuang unsur mubazir meskipun kalimat tersebut terdengar luwes di percakapan lisan.

Tumpang Tindih Niat (Semantik)

Mari kita bedah frasa biang kerok di soal tadi: "diharapkan agar dapat untuk mengikuti". Coba kita x-ray apa saja makna di balik kata-kata tersebut.

Di dalam semantik (ilmu makna kata), ada yang namanya tumpang tindih makna atau pleonasme semantik.

Kata "diharapkan" itu sendiri sudah mengandung makna suatu tujuan atau proyeksi yang ingin dicapai di masa depan. Lalu, kata "agar" dan "untuk" adalah konjungsi (kata hubung) penanda tujuan. Keduanya bersinonim secara struktural! Memakai salah satunya saja setelah kata "diharapkan" sering kali sudah mubazir, apalagi dipakai berderet "agar... untuk...".

Terus, bagaimana dengan kata "dapat"? Kata ini bermakna kemampuan. Dalam konteks panitia memberi instruksi/harapan di sebuah acara, kamu tidak sedang menguji kemampuan peserta, melainkan menyuruh mereka. Hadirnya kata "dapat" justru mengaburkan ketegasan instruksi tersebut.

Kesimpulannya, seluruh deretan panjang tadi bisa diperas maknanya menjadi satu instruksi tegas: "diharapkan mengikuti". Hemat, jelas, dan maknanya tetap utuh 100%.

Manakah dari pernyataan berikut yang merupakan contoh tumpang tindih makna (pleonasme)? Pilih yang BENAR.

  • Kata 'agar' dan 'untuk' dalam satu frasa adalah pemborosan karena keduanya konjungsi penanda tujuan.
  • Kata 'naik ke lantai dua' adalah contoh pemborosan kata karena 'naik' pasti ke atas.
  • Frasa 'agar supaya' tidak efektif karena kedua kata tersebut adalah sinonim struktural.

Jawaban: Kata 'agar' dan 'untuk' dalam satu frasa adalah pemborosan karena keduanya konjungsi penanda tujuan.; Frasa 'agar supaya' tidak efektif karena kedua kata tersebut adalah sinonim struktural.

'Agar' dan 'untuk' sama-sama penanda tujuan (tumpang tindih). 'Agar supaya' juga pemborosan. 'Naik ke atas' adalah pleonasme, tapi 'naik ke lantai dua' memberikan informasi baru.

Kata dengan makna atau fungsi yang sama tidak boleh dipakai berderet dalam satu kalimat efektif (pleonasme).

Banjir Jamak & Preposisi

Selain deretan kata tujuan tadi, kalimat di soal juga menyimpan dua jenis "lemak" lain yang sering muncul di tes kedinasan: penanda jamak ganda dan penggunaan preposisi (kata depan) yang berlebihan.

Aturan Jamak: Dalam bahasa Indonesia, kita tidak perlu repot-repot menandai jamak berkali-kali. Cukup satu kali saja!

Aturan Preposisi: Pernah dengar "sampai dengan selesai"? Ini adalah gaya bahasa birokrasi (bahasa instansi) yang sering kita temui di surat undangan. Tapi ingat, di PUEBI/EYD, frasa ini tidak efektif!

Terakhir, perhatikan Opsi E yang memuat frasa "sampai acara tersebut selesai". Kata "acara" diulang dalam jarak dekat padahal subjek kalimatnya sudah jelas. Ini juga bentuk kemubaziran.

Tentukan apakah penggalan kalimat di bawah ini Efektif atau Tidak Efektif!

  • Banyak buku-buku lama yang tersimpan di perpustakaan. — Tidak Efektif
  • Berbagai usulan dari peserta rapat telah ditampung. — Efektif
  • Pancasila adalah merupakan dasar negara Indonesia. — Tidak Efektif

1. 'Banyak buku-buku' = jamak ganda. 2. 'Berbagai usulan' = tepat, 1 penanda jamak. 3. 'Adalah merupakan' = tumpang tindih kata kerja definitif.

Penggunaan penanda jamak ganda (banyak + ulang) dan preposisi bertele-tele membuat kalimat tidak efektif.