Evolusi Nasionalisme: Guild Lokal ke Aliansi

Fase 1: Era Bertahan Hidup *Guild* Lokal

Fase 1: Era Bertahan Hidup Guild Lokal

Pernah main game online di mana tiap pemain punya wilayah atau guild (klub) masing-masing? Bayangkan Nusantara di abad ke-19 itu seperti sebuah server game raksasa yang sedang diserang oleh satu boss musuh yang sangat kuat, yaitu kolonialisme penjajah.

ilustrasi

Nah, merespons serangan boss ini, para penghuni server (kerajaan atau daerah di Nusantara) tidak tinggal diam. Mereka melawan balik! Tapi, mereka berjuangnya masih sendiri-sendiri, dipimpin oleh "Ketua Guild" lokal mereka, seperti tokoh agama atau raja daerah setempat.

Tujuan utama mereka bertarung mati-matian adalah untuk mengusir penjajah dari tanah (markas) mereka sendiri. Di masa ini, para pejuang kita belum memiliki bayangan untuk menyatukan seluruh guild menjadi satu aliansi raksasa atas nama negara "Indonesia".

Berdasarkan analogi guild lokal di atas, tindakan mana yang paling menggambarkan karakter seorang pejuang di era Nasionalisme Purba?

  • A. Berkolaborasi dengan penjajah untuk membangun ekonomi lokal.
  • B. Melawan penindas demi mempertahankan wilayah atau agamanya sendiri.
  • C. Membuat organisasi modern untuk bernegosiasi dengan penjajah.
  • D. Membentuk satu pasukan besar gabungan dari seluruh pulau di Nusantara.

Jawaban: B. Melawan penindas demi mempertahankan wilayah atau agamanya sendiri.

Di era Nasionalisme Purba, tujuan mengangkat senjata adalah melindungi 'markas' sendiri, belum terpikir bersatu menjadi satu pasukan nasional.

Nasionalisme purba ditandai dengan perlawanan fisik yang bersifat kedaerahan, belum membawa identitas nasional kesatuan.

Bukti Nyata Nasionalisme Purba

Di dunia nyata, analogi guild yang bertempur secara terpisah tadi adalah cerminan langsung dari sejarah perjuangan bangsa kita di abad ke-19 sebelum kita mengenal kata "Indonesia".

Nicolaas Pieneman - The Submission of Prince Dipo Negoro to General De Kock Gambar: Nicolaas Pieneman, Public domain — Wikimedia Commons

Kalau kita menengok catatan sejarah, wujud nyata dari Nasionalisme Purba ini adalah pecahnya perang-perang fisik di berbagai daerah. Perlawanan melawan kolonialisme kala itu masih bersifat sangat sporadis (terpencar di waktu dan tempat yang berbeda).

Tokoh-tokoh seperti Pangeran Diponegoro di Jawa, Tuanku Imam Bonjol di Sumatra Barat (Perang Padri), dan tokoh-tokoh Perang Aceh mengangkat senjata semata-mata untuk membela wilayah atau agama mereka dari ancaman asing. Mereka maju ke medan perang dengan gagah berani, namun jika daerah mereka sudah aman, perjuangan dianggap selesai. Pada fase ini, para pejuang kita belum mengoordinasikan serangan atau saling memikirkan nasib wilayah lain yang juga dijajah.

Fase 2: Terbentuknya *Grand Alliance*

Fase 2: Terbentuknya Grand Alliance

Mari kita bedah sebuah jebakan umum di tipe soal Nasionalisme. Mengapa opsi jawaban "Meleburnya paham kedaerahan menjadi satu kesadaran nasional" adalah jawaban yang salah untuk pertanyaan tentang "Nasionalisme Purba"?

Kembali ke analogi game kita, meleburnya paham kedaerahan itu ibarat momen ketika semua guild lokal tadi akhirnya sadar: "Wah, kalau kita maju sendiri-sendiri, kita bakal kalah terus. Yuk bubarkan guild masing-masing dan bikin satu Grand Alliance!"

Di dunia nyata, pergeseran ke arah Grand Alliance ini baru memuncak pada Sumpah Pemuda 1928, saat para pemuda dari beragam daerah sepakat berjuang bersama atas nama satu identitas: Indonesia. Tahap inilah yang disebut Nasionalisme Modern, sebuah fase di mana kesadaran kebangsaan sudah matang, terorganisir, dan bukan lagi berbentuk perjuangan fisik kedaerahan.

Tentukan fase pergerakan untuk setiap peristiwa sejarah berikut ini, apakah masuk ke Nasionalisme Purba atau Nasionalisme Modern!

  • Organisasi Budi Utomo dibentuk untuk menyebarkan pendidikan bagi rakyat bumiputera. — Modern
  • Rakyat Aceh bertempur mati-matian melawan Belanda untuk melindungi kedaulatan tanah rencong. — Purba
  • Para pemuda membacakan ikrar berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu. — Modern

Budi Utomo/Sumpah Pemuda mencerminkan Nasionalisme Modern karena memakai organisasi dan kesadaran nasional. Sementara Perang Aceh murni perlawanan fisik di satu wilayah (Purba).

Membedakan ciri Nasionalisme Purba (lokal, fisik) dengan Nasionalisme Modern (terorganisir, menyatu).