Eklektik vs Taklid: Seni Memilih Pemikiran
Apa itu Pemikir 'Eklektik'?
Pernah nggak kamu ngerjain tugas, terus kamu gabungin cara nyatet dari YouTuber A, teknik pomodoro dari buku B, dan aplikasi pengingat dari teman C? Tanpa sadar, kamu udah menerapkan cara berpikir eklektik.

Secara historis (berakar dari kata Yunani eklektikos), eklektik berarti "memilih". Tapi bukan asal comot, ya. Eklektik adalah tindakan sadar dan aktif untuk menyeleksi hal-hal terbaik dari berbagai sumber, sistem, atau doktrin yang beda-beda, lalu merakitnya menjadi satu gaya atau gagasan yang utuh.
Jadi, inti dari sifat eklektik adalah:
Aktif & Kritis: Nggak menelan mentah-mentah satu sumber.
Multi-sumber: Terbuka pada berbagai pandangan dari luar kotaknya.
Sikap inilah yang melahirkan ilmuwan dan filsuf besar—mereka mengambil kepingan kebenaran dari mana saja!
Dari contoh-contoh berikut, mana yang paling menggambarkan sikap seorang pemikir 'eklektik'?
- A. Menggabungkan dua benda cair secara acak.
- B. Memilih satu tokoh dan meniru semua gayanya 100%.
- C. Mengambil rumus dari buku A dan strategi dari mentor B untuk membuat metode baru.
- D. Menolak semua pemikiran orang lain dan membuat teori murni dari nol.
Jawaban: C. Mengambil rumus dari buku A dan strategi dari mentor B untuk membuat metode baru.
Eklektik mengambil yang terbaik dari banyak sumber (buku A, mentor B) untuk membentuk suatu hal baru secara sadar.
Eklektik adalah tindakan sadar memilih unsur terbaik dari berbagai referensi secara kritis.
Jebakan Opsi 'Campuran'
Waktu ngerjain soal tadi, alasan kamu nebak opsi D ("Campuran") sangat bisa dipahami. Masuk akal kok, karena kalau kita mengambil ide dari berbagai sumber, ujung-ujungnya memang akan menghasilkan sebuah "campuran" gaya atau pandangan.
Tapi, mari kita lihat lagi instruksinya. Soal ini meminta kita mencari antonim atau lawan kata.
Coba ingat lagi: eklektik = memilih secara kritis dari banyak sumber.
Jika kita ingin mencari lawan katanya, kita harus memutar balik definisi tersebut menjadi: tidak memilih secara kritis dan pasif pada satu sumber.
Jadi, "Campuran" jelas bukan jawabannya karena itu justru hasil kerja si eklektik, bukan kebalikannya!
Sikap 'Taklid': Sang Lawan Kata
Kalau eklektik itu si pemikir bebas yang suka riset sana-sini, siapa dong musuh bebuyutannya? Kenalkan kosakata baru ini: Taklid.

Di dunia pemikiran dan argumen, taklid berarti mengikuti pendapat, ajaran, atau doktrin orang lain secara buta tanpa mengetahui dasar atau alasannya. Singkatnya: menelan mentah-mentah.
Kalau kita urai, sifat taklid punya ciri utama:
Pasif / Pengikut Buta: Tidak ada filter logika atau sikap kritis.
Sumber Tunggal Absolut: Terpaku hanya pada satu mazhab atau figur, menutup mata dari referensi lain.
Sikap ini sangat bertolak belakang dengan cara kerja otak pemikir eklektik yang selalu haus akan berbagai perspektif baru.
Sikap manakah di bawah ini yang merupakan contoh dari tindakan 'Taklid'?
- A. Mencari referensi dari 5 ahli berbeda sebelum mengambil keputusan.
- B. Setuju dengan sebuah teori ekonomi murni karena tokoh idolanya yang mengucapkannya.
- C. Menolak semua tradisi dan aturan lama yang ada di masyarakat.
- D. Mencampur-adukkan dua ideologi tanpa melihat kecocokannya.
Jawaban: B. Setuju dengan sebuah teori ekonomi murni karena tokoh idolanya yang mengucapkannya.
Opsi B adalah bentuk taklid karena mengikuti pendapat tokoh (idola) secara buta tanpa mengecek dasar argumennya.
Taklid adalah sikap pasif mengikuti suatu pandangan tanpa mempertanyakan atau mengetahui dasar alasannya.