Kalimat Efektif: Jangan Asal Enak Dibaca

Kalimat Sebagai Kepanitiaan

Kalimat yang sah minimal harus memiliki Subjek sebagai pelaku dan Predikat sebagai tindakan, ibarat kepanitiaan yang wajib memiliki ketua dan tugas yang jelas. Bayangkan kamu sedang membentuk suatu panitia acara. Siapa yang bertanggung jawab memimpin jalannya acara? Tentu saja Ketua Panitia. Lalu, apa yang sedang dilakukan sang ketua? Itulah Tugasnya. Jika ada tugas yang dikerjakan tetapi tidak ada orang yang memimpin atau bertanggung jawab, kepanitiaan tersebut bakal bubar dan kehilangan arah.

Seekor kucing memakai topi ketua panitia yang tertidur di atas meja rapat kepanitiaan.

Dalam tata bahasa, Subjek adalah sang "Ketua Panitia" (siapa atau apa yang dibahas), sedangkan Predikat adalah "Tugasnya" (apa yang dikerjakan atau keadaan dari subjek tersebut). Tanpa kehadiran salah satunya, susunan kata yang panjang sekalipun tidak bisa disebut sebagai kalimat yang efektif. Contohnya kalimat sederhana: "Kucing tidur." Di sini, Kucing adalah Ketua Panitia (Subjek), dan tidur adalah tugas atau tindakannya (Predikat). Kalimat ini sah dan utuh.

Hal ini terlihat nyata pada Opsi A dan Opsi D di soal. Pada Opsi A, ada Riset modern yang bertindak sebagai Subjek (Ketua), dan kata kerja membuktikan yang bertindak sebagai Predikat (Tugas). Begitu pula pada Opsi D, frasa Neuroplastisitas berdiri kokoh sebagai Subjek, diikuti kata merupakan yang menjadi Predikatnya. Keduanya adalah contoh kalimat efektif dengan struktur kepanitiaan yang solid.

Jebakan Kata Depan

Menambahkan kata depan tepat sebelum Subjek akan mengubah fungsinya menjadi Keterangan, sehingga kalimat kehilangan Subjek. Sering kali kita merasa sebuah kalimat sudah benar hanya karena "kedengaran enak" atau mengalir lancar saat dibaca dalam hati. Padahal, memasang preposisi (kata depan seperti di, dalam, untuk, bagi, kepada, pada) di depan calon subjek sama saja dengan mencopot jabatan Ketua Panitia menjadi sekadar penonton di bangku undangan.

Mari kita bedah alasan mengapa Opsi C ("Di dalam latihan mental yang intensif dapat meningkatkan ketebalan korteks pada area otak tertentu") keliru. Keberadaan frasa kata depan Di dalam di baris awal menyebabkan frasa benda latihan mental yang intensif turun pangkat menjadi fungsi Keterangan (situasi/wadah), bukan lagi Subjek. Akibatnya, kalimat tersebut punya Predikat (dapat meningkatkan), tetapi tidak punya pelaku yang mengerjakannya. Kalimat itu berjalan tanpa Ketua Panitia!

Cara memperbaikinya sangat sederhana: lepaskan kata depan yang mengunci sang ketua. Jika kata Di dalam pada Opsi C dihapus, kalimatnya berubah menjadi "Latihan mental yang intensif dapat meningkatkan ketebalan korteks..." Kini, latihan mental yang intensif resmi menjabat kembali sebagai Subjek yang sah, dan kalimatnya menjadi efektif.

Mana kalimat di bawah ini yang TIDAK efektif karena kehilangan Ketua Panitia (Subjek)?

  • Untuk para peserta lomba diharap berkumpul di lapangan.
  • Para peserta lomba diharap berkumpul di lapangan.
  • Di lapangan, para peserta lomba sedang berkumpul.
  • Peserta lomba berkumpul di lapangan untuk persiapan.

Jawaban: Untuk para peserta lomba diharap berkumpul di lapangan.

Kalimat pada opsi A tidak memiliki Subjek karena frasa 'para peserta lomba' diawali kata depan 'Untuk', sehingga fungsinya turun menjadi Keterangan. Pada opsi B, 'Para peserta lomba' berfungsi sebagai Subjek yang sah. Pada opsi C, 'para peserta lomba' tetap menjadi Subjek setelah tanda koma. Pada opsi D, strukturnya lengkap dengan Subjek 'Peserta lomba' dan Predikat 'berkumpul'.

Kata depan di awal kalimat menghilangkan fungsi subjek.

Pemborosan Kata atau Pleonasme

Kalimat efektif harus hemat kata; menggunakan beberapa kata yang bermakna sama secara bersamaan membuat kalimat menjadi tidak efektif. Kehematan dalam kalimat berarti kita tidak boleh menaruh kata-kata mubazir yang maknanya saling tumpang tindih. Gejala pemborosan makna ini disebut sebagai pleonasme.

Ibarat dalam sebuah kepanitiaan, pleonasme sama seperti menugaskan tiga orang untuk memegang satu tugas mikrofon yang sama persis padahal satu orang saja sudah cukup. Hal ini tampak jelas pada Opsi B dari soal: "Banyak para peneliti-peneliti saat ini sedang berusaha keras..."

Perhatikan tiga kata yang berjejer di awal kalimat Opsi B:

  1. Banyak sudah menandakan jumlah lebih dari satu.

  2. Para juga merupakan penanda kelompok jamak.

  3. Bentuk ulang peneliti-peneliti secara tata bahasa juga berarti jamak.

Menggabungkan ketiganya sekaligus membuat kalimat menjadi sangat boros dan rancu. Agar efektif, cukup gunakan salah satu penanda saja: "Banyak peneliti saat ini..." atau "Para peneliti saat ini..." Dengan begitu, pesan tersampaikan dengan ringkas, lugas, dan sesuai kaidah baku.

Tentukan apakah kalimat berikut sudah efektif secara tata bahasa (Benar) atau mengalami pemborosan kata (Salah)!

  • Para hadirin sekalian dimohon berdiri. — Salah
  • Banyak siswa yang mengikuti ekstrakurikuler. — Benar

Pernyataan 1 Salah karena menggunakan kata 'Para', 'hadirin', dan 'sekalian' yang ketiganya bermakna jamak secara beruntun (pleonasme). Pernyataan 2 Benar karena hanya menggunakan satu penanda jamak, yaitu kata 'Banyak', sehingga kalimatnya hemat dan efektif.

Menghindari penggunaan kata jamak yang berlebihan (pleonasme).