Misteri Koma Apit dan Jebakan Kalimat Panjang

Mencari 'Tulang Punggung' Kalimat

Saat baca kalimat yang panjang banget di soal PBM (Pemahaman Bacaan dan Menulis), wajar kalau ngerasa pusing atau kehilangan arah. Kalimat (3) di soal tadi adalah contoh klasiknya: panjang dan penuh gelar. Tapi, jangan panik dulu!

Setiap kalimat dalam bahasa Indonesia, sepanjang apa pun itu, pasti punya inti yang disebut Subjek (Siapa/Apa) dan Predikat (Ngapain/Ada apa). Inti inilah yang jadi 'tulang punggung' berdirinya sebuah kalimat. Sisanya hanyalah pernak-pernik atau hiasan tambahan.

Coba perhatikan perubahan kalimat ini:

  1. Kakak saya sedang kuliah. (Sangat jelas: S - P)

  2. Kakak saya yang badannya tinggi itu sedang kuliah di luar kota. (Mulai panjang, tapi intinya tetap S - P yang sama!)

Saat ngerjain soal ujian, langkah pertama yang wajib kamu lakuin adalah 'scanning': cari siapa pelakunya (Subjek) dan apa tindakannya (Predikat). Abaikan dulu kata-kata hiasannya!

ilustrasi

Pada kalimat 'Kucing tetangga yang sering mencuri ikan di dapur sedang tidur pulas di teras.', manakah yang menjadi 'tulang punggung' alias Subjek dan Predikat intinya?

  • A. Kucing tetangga yang sering mencuri ikan (Subjek) - di dapur (Predikat)
  • B. Kucing tetangga (Subjek) - sedang tidur pulas (Predikat)
  • C. Kucing tetangga (Subjek) - sering mencuri ikan (Predikat)
  • D. Kucing tetangga (Subjek) - di teras (Predikat)

Jawaban: B. Kucing tetangga (Subjek) - sedang tidur pulas (Predikat)

Inti kalimat ini bercerita tentang 'Kucing tetangga' (Subjek) yang 'sedang tidur pulas' (Predikat). Sisanya hanya keterangan tambahan penjelas subjek dan keterangan tempat.

Kalimat sepanjang apa pun selalu memiliki inti Subjek dan Predikat.

Keterangan Apositif: Si 'Stiker Nama' Tempelan

Setelah kamu bisa nemuin Subjek, kadang kamu bakal nemuin informasi tambahan yang nempel langsung sama si Subjek itu. Inilah yang disebut dengan keterangan apositif. Keterangan apositif ini ibarat stiker nama atau label ekstra yang ditempelkan di atas suatu kata benda.

Coba kita bedah kalimat ini: Kakak saya, Budi, sedang kuliah.

Di sini, 'Budi' adalah stiker nama yang menempel pada 'Kakak saya'. Kalau stiker 'Budi' ini kita kelupas (hapus), kalimatnya menjadi Kakak saya sedang kuliah. Kalimat ini tetap sempurna, kan?

Kita juga bisa menukarnya: Budi, kakak saya, sedang kuliah. Sekarang, 'kakak saya' yang jadi stiker penjelas untuk 'Budi'.

Di kalimat (3) dari soal yang kamu kerjain, jabatan super panjang "Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)" adalah subjeknya. Nah, nama orangnya "Rosa Vivien Ratnawati" adalah stiker nama (apositif) yang ditempel buat ngejelasin siapa sih Pak/Bu Dirjen itu.

Coba perhatikan kalimat ini: 'Pak RT kita, Pak Anton, sedang membersihkan selokan.' Tentukan apakah pernyataan terkait fungsi kata 'Pak Anton' ini benar atau salah berdasarkan konsep stiker tempelan!

  • Kalau kata 'Pak Anton' dihapus, kalimatnya jadi rusak dan tidak masuk akal. — Salah
  • 'Pak Anton' memberikan informasi tambahan mengenai siapa 'Pak RT kita'. — Benar

Kata 'Pak Anton' adalah keterangan apositif. Kalau dihapus, kalimat 'Pak RT kita sedang membersihkan selokan' tetap utuh dan masuk akal.

Keterangan apositif adalah informasi tambahan (stiker) yang jika dihapus tidak akan merusak inti kalimat.

Koma Apit: Dua Pengawal Si 'Stiker'

Karena keterangan apositif itu sifatnya cuma tempelan atau info ekstra di tengah kalimat, dia butuh penanda biar pembaca tahu kalau itu cuma sisipan. Di sinilah peran penting tanda baca koma.

Balik lagi ke kalimat (3) di soal ujian:

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, menyebut tak hanya peran pemerintah...

Di teks soal asli, penulisnya lupa menaruh koma kedua setelah nama 'Ratnawati'. Akibatnya? Si stiker tempelan jadi bocor dan nyampur sama Predikat kalimat! Seakan-olah Subjeknya bertabrakan langsung dengan kata kerja menyebut. Koma pengapit itu wajib sepasang, gak boleh cuma satu.

Kalimat mana yang meletakkan dua koma pengapit apositif dengan tepat?

  • A. Penulis, novel Harry Potter J.K. Rowling, mendapatkan banyak penghargaan.
  • B. Penulis novel Harry Potter, J.K. Rowling, mendapatkan banyak penghargaan.
  • C. Penulis novel, Harry Potter J.K. Rowling mendapatkan banyak penghargaan.
  • D. Penulis novel Harry Potter J.K. Rowling, mendapatkan, banyak penghargaan.

Jawaban: B. Penulis novel Harry Potter, J.K. Rowling, mendapatkan banyak penghargaan.

'J.K. Rowling' adalah apositif yang menjelaskan 'Penulis novel Harry Potter', sehingga harus diapit dua koma sebelum berlanjut ke predikat 'mendapatkan'.

Apositif di tengah kalimat selalu dikawal sepasang tanda koma di awal dan akhirnya.