Mengurai Majas: Metafora hingga Hiperbola
Kenapa Penulis Pakai Majas?

Pernahkah kamu membaca sebuah kalimat, lalu tiba-tiba kepalamu otomatis membayangkan adegan yang diceritakan? Itu bukan sihir, itu adalah efek dari gaya bahasa atau majas.
Penulis menggunakan majas bukan sekadar buat pamer kata-kata sulit, tapi untuk meminjamkan "kacamata" mereka kepada pembaca. Alih-alih cuma bilang "hari sudah sore dan pemandangannya bagus", penulis meminjam konsep dari hal lain supaya kamu ikut merasakan atau melihat langsung suasananya secara emosional. Kata-kata ini tidak dimaksudkan untuk diartikan secara harfiah (makna aslinya).
Coba kita lihat teks soal tadi. Penulis bilang bahwa senja adalah "lukisan alam" dan menyebut "punggung-punggung bukit". Secara fisik, senja bukanlah sebuah kanvas yang dilukis dengan kuas, dan bukit jelas tidak punya tulang punggung. Tapi, frasa ini sengaja dipakai supaya otak kita memvisualisasikan keindahan (seperti lukisan) dan bentuk bukit yang berlekuk-lekuk (seperti punggung).
Di sinilah seninya: untuk bisa menjawab soal tentang gaya bahasa, kita perlu tahu "rumus" dari setiap majas tersebut. Yuk, kita bedah satu per satu!
Simile vs Metafora
Kamu kemarin menjawab bahwa Metafora adalah majas yang tidak ada di teks, karena kamu bingung saat melihat frasa "selimut jingga". Wajar banget! Metafora dan Simile memang sering bikin tertukar karena keduanya sama-sama majas perbandingan. Bedanya ada pada "jembatan"-nya.
1. Simile (Perbandingan Eksplisit / Terbuka) Simile itu ibarat orang yang jujur dan terus terang kalau dia sedang membandingkan sesuatu. Dia selalu pakai kata jembatan sebagai penanda, seperti: laksana, seperti, bagai, bak, umpama.
Rumus: Objek A + [kata jembatan] + Objek B
Contoh di teks: "...laksana nyanyian alam" (Suara angin disamakan dengan nyanyian alam pakai kata jembatan 'laksana'). Jadi, Simile ada di teks.
2. Metafora (Perbandingan Implisit / Langsung) Nah, metafora ini lebih nekat. Dia membandingkan dua hal dengan cara menabrakkan mereka secara langsung tanpa aba-aba kata jembatan. Seolah-olah Objek A adalah Objek B itu sendiri.
Rumus: Objek A = Objek B
Contoh di teks: "Menebarkan selimut jingga...". Penulis tidak bilang cahaya jingga di langit itu seperti selimut, tapi dia langsung menyebutnya "selimut jingga". Karena cahayanya menutupi bukit seperti fungsi selimut, ini adalah Metafora. Jadi, Metafora juga ada di teks!

Di antara kalimat berikut, manakah yang merupakan contoh majas Simile?
- A. Wajahnya bersinar bagai bulan purnama.
- B. Dia adalah bintang kelas di sekolah kami.
- C. Perpustakaan adalah gudang ilmu.
- D. Senyumnya sehangat mentari pagi.
Jawaban: A. Wajahnya bersinar bagai bulan purnama.
Opsi A menggunakan kata 'bagai' (kata jembatan), sehingga termasuk Simile. Opsi B, C, dan D adalah Metafora karena membandingkan secara langsung (A adalah B).
Simile menggunakan kata jembatan (seperti, laksana), sedangkan Metafora menabrakkan dua hal secara langsung tanpa kata jembatan.
Personifikasi si Benda Hidup

Sekarang kita kenalan dengan majas favorit yang paling gampang dicari wujudnya: Personifikasi.
Dari namanya saja sudah ketahuan: Person (manusia) + ifikasi (menjadikan sesuatu bersifat seperti...). Konsep intinya adalah mengambil benda mati, hewan, atau konsep abstrak, lalu memberinya nyawa dengan cara meminjamkan aktivitas, sifat, atau emosi yang cuma bisa dilakukan oleh manusia.
Cara paling cepat (rumus cepat) untuk mendeteksi majas ini adalah dengan mencari subjek benda mati, lalu perhatikan kata kerjanya. Apakah kata kerja itu wajar dilakukan oleh si benda?
Mari kita bedah teks dari soal:
"Sang mentari perlahan kembali ke peraduannya (tempat tidur)." → Matahari tidak butuh kasur untuk tidur.
"Angin sore berbisik lembut..." → Angin tidak punya mulut atau pita suara, tapi dihidupkan seolah bisa berbisik di telingamu.
"Pepohonan kelapa melambaikan daunnya, seolah mengucapkan selamat tinggal..." → Pohon tidak punya tangan untuk melambai dan tidak bisa bicara.
Penulis sengaja "menghidupkan" alam untuk membangun suasana yang lebih intim dan hidup. Karena ketiga bukti ini jelas-jelas ada, maka Personifikasi bukan jawaban yang tepat untuk soal "majas yang tidak digunakan".
Manakah kalimat di bawah ini yang menggunakan majas Personifikasi?
- A. Rumah itu sebesar istana raja.
- B. Adik menangis tersedu-sedu semalaman.
- C. Sirine ambulans menjerit memecah keheningan malam.
- D. Wajahnya pucat seperti kapas.
Jawaban: C. Sirine ambulans menjerit memecah keheningan malam.
'Menjerit' adalah aktivitas manusia/makhluk hidup, tapi di sini dilakukan oleh 'sirine ambulans' (benda mati). Ini adalah ciri khas majas Personifikasi.
Personifikasi memberikan kata kerja/aktivitas manusia pada benda mati.