Toksin Difteri: Pembunuh Sel dari Dalam

Misteri Selaput Abu-Abu

ilustrasi

Kalau kamu melihat tenggorokan pasien difteri, gejala klinis yang paling khas adalah adanya selaput abu-abu tebal (pseudomembran) yang menutupi saluran napas. Secara intuitif, kita mungkin mengira selaput itu adalah gumpalan koloni bakteri yang menumpuk. Namun, dari kacamata patofisiologi medis, kenyataannya jauh lebih mengerikan.

Bakteri Corynebacterium diphtheriae sebenarnya hanya menempel dan berkembang biak secara lokal di lapisan mukosa saluran pernapasan atas. Selagi hidup, bakteri ini memproduksi dan melepaskan protein beracun ke lingkungan sekitarnya, yang kita kenal sebagai eksotoksin.

Selaput abu-abu tersebut sejatinya adalah "kuburan masal". Eksotoksin yang dilepaskan bakteri secara masif membunuh jaringan sel epitel tenggorokan inang. Sel-sel yang mati ini kemudian bercampur dengan sel darah putih (yang datang mencoba melawan infeksi) dan jaringan fibrin penutup luka. Akumulasi dari semua material sisa peradangan inilah yang membentuk pseudomembran tebal, yang bisa sangat solid hingga berisiko menyumbat jalan napas secara fatal.

Selaput pseudomembran difteri di tenggorokan Gambar: User:Dileepunnikri, CC BY-SA 3.0 — Wikimedia Commons

Berdasarkan pemahamanmu tentang patofisiologi tenggorokan pasien difteri, manakah pernyataan berikut yang menjelaskan asal mula terbentuknya pseudomembran?

  • A. Selaput tersebut sepenuhnya merupakan koloni bakteri yang menumpuk di saluran napas.
  • B. Selaput tersebut adalah akumulasi jaringan epitel mati, sel darah putih, dan fibrin akibat kerusakan oleh eksotoksin.
  • C. Selaput terbentuk sebagai respon autoimun antibodi yang menyerang jaringan tenggorokan.
  • D. Bakteri difteri memicu pembekuan darah lokal yang menebal menjadi selaput.

Jawaban: B. Selaput tersebut adalah akumulasi jaringan epitel mati, sel darah putih, dan fibrin akibat kerusakan oleh eksotoksin.

Pseudomembran bukan sekadar tumpukan bakteri, melainkan 'kuburan' dari sel inang yang terbunuh oleh eksotoksin, bercampur dengan sisa peradangan (sel darah putih dan fibrin).

Selaput difteri (pseudomembran) terbentuk dari jaringan sel inang yang mati akibat toksin, bukan sekadar penumpukan bakteri.

Sang Pembunuh Diam-Diam

ilustrasi

Lalu, bagaimana persisnya eksotoksin difteri ini membunuh sel-sel tenggorokan kita? Toksin ini tidak merusak dinding atau membran sel dari luar (seperti opsi A pada soal). Ia bertindak bagai seorang pembunuh bayaran diam-diam yang menyusup ke dalam sel.

Setelah berhasil masuk ke sitoplasma sel inang, target spesifik toksin difteri adalah sebuah protein penting bernama Faktor Elongasi 2 (EF-2). EF-2 adalah "mesin" yang sangat vital bagi ribosom saat melakukan sintesis protein eukariotik (ia bertugas untuk menggeser rantai polipeptida yang sedang dirakit di ribosom).

Toksin difteri mengikat dan menonaktifkan EF-2 secara mutlak. Seperti pemahamanmu saat mendiagnosa soal: jika proses perakitan sintesis protein berhenti seketika, sel kehilangan kemampuan untuk membentuk enzim dan struktur vital yang menopang kehidupannya. Hasilnya? Pabrik protein mogok total, dan sel perlahan-lahan mati dari dalam (nekrosis). Karena toksin ini sangat kuat, hanya butuh molekul toksin dalam jumlah sangat kecil untuk melumpuhkan satu sel tubuh secara keseluruhan.

Tentukan benar atau salah pernyataan berikut terkait cara eksotoksin difteri melumpuhkan sel-sel tubuh!

  • Toksin difteri menyusup ke dalam sel target untuk mematikan mesin pembuat protein (ribosom). — Benar
  • Efek mematikan difteri terjadi karena eksotoksinnya mengikis dan membocorkan membran luar sel secara langsung. — Salah

Eksotoksin difteri masuk ke dalam sel dan memblokir EF-2 sehingga ribosom berhenti merakit protein, menyebabkan sel mati (nekrosis). Toksin ini tidak menghancurkan dinding sel dari luar secara langsung.

Toksin difteri membunuh sel dari dalam dengan menghentikan sintesis protein, bukan melisiskan membran dari luar.

Dari Tenggorokan ke Jantung

Satu hal yang membuat infeksi difteri sangat mematikan adalah kemampuannya menyerang organ yang jauh, meskipun bakterinya sendiri tidak pergi ke mana-mana. Bakteri C. diphtheriae tetap berdiam secara lokal di tenggorokan, tidak ikut bersirkulasi menyebar dalam darah.

Namun, efek dari eksotoksin yang mereka sekresikan jauh dari kata lokal. Eksotoksin difteri sangat kuat, mudah larut, dan diserap masuk ke dalam aliran darah (kondisi penyebaran racun lewat darah ini disebut toksemia). Lewat pembuluh darah, racun ini menyebar ke seluruh tubuh layaknya penumpang gelap.

Toksin ini akan masuk dan merusak jaringan yang selnya memiliki "pintu masuk" (reseptor) khusus untuk toksin tersebut. Reseptor ini kebetulan paling banyak terekspresi di otot jantung dan jaringan saraf. Sesampainya di sana, toksin mengeksekusi metode mematikannya yang khas: menyusup masuk sitoplasma, memblokir EF-2, menghentikan sintesis protein seluler, dan membunuh sel dari dalam. Inilah alasan klinis mengapa pasien difteri parah sering kali meninggal karena kegagalan sekunder seperti miokarditis (kerusakan fatal pada otot jantung) atau neuropati (kelumpuhan jaringan saraf pusat).