Negara: Wajib Berusaha atau Wajib Berhasil?

Janji Sembuh vs Janji Mengobati

Bayangkan kamu sedang memesan barang secara online. Kurir yang mengantar paketmu punya satu tugas mutlak: memastikan paket itu sampai di tanganmu dengan selamat. Kalau paketnya hilang, rusak, atau nyasar, kurir tersebut dianggap gagal dan harus mengganti rugi, apa pun alasannya. Ini adalah contoh nyata dari Kewajiban Hasil (Obligation of Result). Keberhasilan dinilai mutlak dari hasil akhirnya.

Sekarang, bayangkan seorang dokter bedah yang sedang menangani pasien kritis. Tugas sang dokter adalah memberikan penanganan medis terbaik sesuai standar prosedur (SOP). Namun, dokter tidak bisa dituntut ke pengadilan atau dipenjara jika pasien tersebut pada akhirnya tidak tertolong (meninggal). Kenapa? Karena dokter dinilai dari upaya dan tindakannya mengobati, bukan dari hasil akhir apakah pasien itu pasti sembuh. Ini disebut Kewajiban Proses (Obligation of Conduct).

ilustrasi

Dalam hukum internasional dan konstitusi Hak Asasi Manusia (HAM), kewajiban negara juga dibagi menjadi dua kategori ini. Memahami bedanya adalah kunci untuk melihat apakah suatu negara dianggap melanggar konstitusinya atau tidak.

Berdasarkan analogi di atas, jika pemerintah diwajibkan untuk 'mengesahkan undang-undang anti diskriminasi pendidikan', ini termasuk contoh dari...

  • A. Kewajiban Hasil (karena ada bentuk fisik undang-undangnya)
  • B. Kewajiban Hasil (karena negara pasti bisa mewujudkannya seketika)
  • C. Kewajiban Proses (karena ini adalah tindakan atau upaya spesifik yang harus dilakukan)
  • D. Kewajiban Proses (karena undang-undang butuh waktu lama untuk dibuat)

Jawaban: C. Kewajiban Proses (karena ini adalah tindakan atau upaya spesifik yang harus dilakukan)

Mengesahkan undang-undang adalah sebuah *tindakan atau langkah spesifik* yang harus diambil oleh negara, sehingga masuk ke dalam kategori Kewajiban Proses (Obligation of Conduct).

Kewajiban proses (obligation of conduct) adalah kewajiban untuk melakukan tindakan atau langkah tertentu.

Realita Mengurus Negara

Kamu mungkin berpikir, "Pendidikan kan hak dasar, harusnya negara wajib 100% memenuhinya (Kewajiban Hasil) dong!"

Ide itu sangat mulia. Tapi mari kita lihat realitanya. Membangun sekolah fisik, mencetak jutaan buku, dan menggaji guru yang berkualitas untuk ratusan juta penduduk Indonesia membutuhkan uang dan waktu yang sangat masif. Negara tidak punya tongkat ajaib untuk menyulap 100% anak bersekolah secara instan dalam semalam. Jika hak atas pendidikan dijadikan 'Kewajiban Hasil' yang mutlak hari ini juga, negara akan langsung dinyatakan melanggar hukum setiap kali ada 1 anak yang putus sekolah.

Oleh karena itu, dalam hukum HAM, pemenuhan hak ekonomi dan sosial (seperti hak atas pendidikan) masuk ke dalam kategori Kewajiban Proses dan bersifat progresif (bertahap).

Lalu, bagaimana cara menilai apakah negara melanggar HAM atau tidak? Jawabannya ada pada upayanya.

Kalau ada 1 anak di desa terpencil belum sekolah, dan negara diam saja tanpa membuat program apa-apa, maka negara melanggar konstitusi. Tapi, kalau negara sedang dalam proses membangun jalan ke desa itu, mengalokasikan anggaran, dan merekrut guru (walau belum selesai 100%), negara tidak melanggar hukum. Negara dinilai sedang menjalankan Obligation of Conduct dengan maksimal.

Tentukan Benar atau Salah pernyataan mengenai hak yang bersifat progresif ini!

  • Sifat progresif berarti negara boleh menunda pemenuhan hak pendidikan sampai negaranya berstatus negara maju. — Salah
  • Negara tetap dianggap tidak melanggar hukum jika masih ada anak yang belum bersekolah, asalkan negara dapat membuktikan sedang secara maksimal membangun fasilitas pendidikan. — Benar

Progressive realization BUKAN alasan untuk diam (escape clause). Negara WAJIB berupaya maksimal dengan sumber daya yang ada sekarang.

Pemenuhan hak ekonomi dan sosial bersifat progresif (bertahap) sesuai ketersediaan sumber daya maksimal negara.

Membedah Kasus Sekolah Zonasi

Sekarang, mari kita bawa konsep tadi untuk membedah soal asli yang kamu kerjakan. Di soal, ada seorang anak miskin yang ditolak sekolah negeri di zonanya gara-gara kuota penuh.

Kasus ini adalah contoh nyata di mana 'kewajiban proses' negara sedang diuji. Kebijakan negara sebenarnya sudah ada (sistem zonasi), tetapi proses/upaya penyediaan fasilitasnya belum maksimal. Terdapat gap (celah) antara jumlah anak di zona tersebut dengan jumlah bangku sekolah yang disediakan.

Inilah alasan mengapa opsi yang paling tepat adalah Kewajiban proses (B). Negara belum sepenuhnya maksimal menunjukkan obligation of conduct karena ketersediaan sekolah tidak sebanding dengan kebijakan zonasi yang dibuat.

Bagaimana dengan opsi lainnya?

Mengapa argumen 'menjaga kualitas sekolah' (seperti pada Opsi C) tidak bisa membenarkan penolakan siswa miskin dalam kasus zonasi?

  • A. Karena kualitas sekolah swasta sudah lebih baik dari sekolah negeri.
  • B. Karena kualitas pendidikan bukan tanggung jawab negara.
  • C. Karena alasan kualitas tidak boleh mencederai hak dasar warga negara untuk mendapat pendidikan.
  • D. Karena sistem zonasi tidak peduli dengan kualitas pendidikan.

Jawaban: C. Karena alasan kualitas tidak boleh mencederai hak dasar warga negara untuk mendapat pendidikan.

Hak atas pendidikan adalah hak asasi dasar. Menjaga kualitas sekolah adalah hal baik, tapi tidak boleh dilakukan dengan cara mengorbankan akses kelompok tidak mampu terhadap hak dasar mereka.

Pemenuhan hak dasar warga tidak boleh dikorbankan atas alasan eksklusivitas kualitas.