Anatomi Kalimat: Menyambung Predikat & Objek

Mengamankan Subjek & Aposisi

Keterangan aposisi harus diisolasi dengan sepasang koma agar identitas subjek inti tidak kabur.

Dalam kalimat soal, subjek pembicara intinya adalah Prof. Dr. Muhammad Nuh. Tepat setelah nama tersebut, muncul frasa penjelas jabatan: Menteri Pendidikan Nasional. Frasa ini berkedudukan sebagai aposisi, yaitu keterangan tambahan yang menerangkan identitas subjek di depannya.

Diagram struktur subjek dan aposisi yang diapit sepasang tanda koma

Dalam aturan sintaksis bahasa Indonesia, aposisi bersifat menjepit atau menyisip di antara subjek dan predikat. Ibarat rangkaian gerbong kereta api, nama tokoh adalah bodi lokomotif utama, sedangkan aposisi adalah stiker penjelas yang ditempelkan di sisinya. Agar stiker ini terbaca jelas sebagai sisipan dan tidak menyatu rancu dengan kata kerja berikutnya, ia wajib diapit oleh sepasang tanda koma: satu koma di awal untuk membuka sisipan, dan satu koma di akhir untuk menutupnya.

Menghalau Koma Sembarangan

Verba transitif tidak boleh dipisahkan dari objeknya dengan tanda koma.

Setelah subjek dan aposisinya tertata, kita menemukan predikat kalimat pada kata mengatakan. Pada kalimat di soal, terdapat tanda koma tepat setelah kata mengatakan:

$$\text{... mengatakan, hasil Ujian Nasional tahun ini ...}$$

Ilustrasi lokomotif kereta api di atas rel yang sambungannya terhalang tumpukan batu bata

Tanda koma yang menyelinap di antara kata kerja aktif dan objeknya adalah pelanggaran sintaksis. Dalam analogi rel kereta, predikat dan objek adalah sambungan mekanis langsung. Menaruh tanda koma di antara keduanya ibarat menumpuk batu bata di tengah rel—laju rangkaian kalimat menjadi tersentak dan terputus secara tidak wajar.

Banyak penulis terjebak membubuhkan koma di posisi ini karena terbawa intonasi jeda saat berbicara atau mengambil napas. Padahal, jeda pernapasan lisan tidak otomatis diterjemahkan menjadi tanda koma tertulis. Karena mengatakan membutuhkan kelanjutan isi perkataan sebagai objek langsungnya, tanda koma tersebut wajib dihapus. Tindakan pada Opsi C (menghilangkan koma setelah kata mengatakan) adalah langkah perbaikan yang sah dan benar.

Perbaikan tanda baca mana yang harus dilakukan pada kalimat: 'Polisi menegaskan, insiden tersebut murni kecelakaan tunggal.'?

  • Menghapus tanda koma setelah kata 'menegaskan'
  • Menambahkan tanda koma setelah kata 'tersebut'
  • Mengganti tanda koma menjadi tanda titik dua
  • Mempertahankan susunan tanda baca apa adanya

Jawaban: Menghapus tanda koma setelah kata 'menegaskan'

Kata kerja 'menegaskan' adalah verba transitif yang langsung membutuhkan objek informasi di belakangnya. Menyisipkan tanda koma di antara predikat dan objek memutus hubungan sintaksis kalimat. Opsi lain keliru karena kata 'tersebut' bukan akhir klausa penjelas, titik dua bukan penanda objek kalimat tak langsung, dan mempertahankan koma menyalahi kaidah ejaan.

Koma tidak boleh diletakkan di antara verba aktif dan objeknya.

Tuas Penyambung Bernama 'Bahwa'

Verba pewarta membutuhkan konjungsi subordinatif 'bahwa' untuk mengantar objek yang berupa klausa lengkap.

Mari kita amati gerbong informasi yang berada di belakang kata kerja: hasil Ujian Nasional tahun ini sudah dapat digunakan sebagai penentu penerimaan mahasiswa baru melalui SNMPTN. Rangkaian kata ini bukanlah kata benda tunggal yang sederhana, melainkan sebuah kalimat utuh tersendiri yang memiliki subjek dan predikatnya sendiri. Dalam struktur kalimat majemuk bertingkat, bagian ini bertindak sebagai klausa objek.

Kata mengatakan tergolong sebagai verba pewarta, yaitu kata kerja yang menyatakan tindakan menyampaikan kabar atau berita. Saat verba pewarta diikuti oleh sebuah anak kalimat panjang, pembaca membutuhkan penanda gramatikal yang tegas agar anak kalimat tersebut sah berfungsi sebagai objek penderita.

Diagram struktur kalimat dari Predikat menjembatani Klausa Objek melalui konjungsi bahwa

Kembali ke analogi kereta api: lokomotif (mengatakan) dan gerbong penumpang (klausa objek) membutuhkan tuas penyambung besi yang kokoh. Tuas penyambung tersebut adalah konjungsi penjelas bahwa.

Dengan menyisipkan kata bahwa, kalimat menjadi:

$$\text{... mengatakan \textbf{bahwa} hasil ujian nasional ...}$$

Langkah perbaikan pada Opsi B (kata bahwa ditambahkan setelah kata mengatakan) adalah langkah yang sangat tepat. Penambahan ini merapikan hierarki kalimat tak langsung sehingga anak kalimat di belakangnya terkunci rapi menjadi objek pelengkap dari kata kerja pewarta.

Tentukan kebenaran tindakan struktural berikut terhadap kalimat bertipe pewarta.

  • Verba seperti 'mengabarkan' bisa diikuti kata 'bahwa' untuk mengubah kalimat setelahnya menjadi fungsi objek. — Benar
  • Kata 'bahwa' hanya boleh dipakai jika ada sepasang tanda koma sebelumnya. — Salah

Pernyataan pertama benar karena konjungsi subordinatif 'bahwa' berfungsi mengaitkan anak kalimat sehingga sah berkedudukan sebagai klausa objek bagi verba pewarta. Pernyataan kedua salah karena kata 'bahwa' langsung melekat setelah predikat transitif dan justru tidak boleh disela oleh tanda koma.

Verba pewarta tak langsung mengandalkan konjungsi bahwa untuk menyambung objek anak kalimat.