Bongkar Logika Pengangguran: Siapa di Pasar Kerja?
Satu Tongkrongan, Beda Kasta Pekerjaan
Bayangkan kamu lagi kumpul di sebuah kafe bareng teman-teman sebaya berumur 20-an tahun. Secara usia biologis, kalian semua sudah masuk kategori Penduduk Usia Kerja (di Indonesia dan standar ILO, batasnya adalah usia 15 tahun ke atas). Tapi, apakah aktivitas kalian di mata negara sama semua? Jelas beda!

Di tongkrongan itu, kamu bisa membagi teman-temanmu ke dalam dua kubu besar berdasarkan keterlibatan mereka di "pasar kerja":
Angkatan Kerja (Labor Force): Mereka yang aktif terjun ke gelanggang pasar kerja untuk mencari uang. Kubu ini berisi dua tipe orang:
Bekerja: Temanmu yang sudah punya kantor tetap, jualan online, ataupun kerja serabutan.
Pengangguran: Temanmu yang belum punya kerjaan tapi sedang aktif mencari kerja (sebar CV, ikut tes wawancara) dan siap langsung kerja begitu ada tawaran.
Bukan Angkatan Kerja (Outside the Labor Force): Mereka yang memang sedang tidak berminat atau belum bisa menawarkan tenaga di pasar kerja, seperti mahasiswa yang fokus kuliah, pengurus rumah tangga, atau pensiunan.
Jadi, rumus dasar yang harus selalu kamu ingat:
Manakah dari individu berikut yang tergolong ke dalam kelompok 'Angkatan Kerja'?
- Mahasiswa semester akhir yang seharian penuh menyusun skripsi tanpa mencari pekerjaan
- Ibu rumah tangga yang mencurahkan seluruh waktunya mengurus kebutuhan keluarga
- Lulusan baru yang belum bekerja dan rutin mengirim berkas lamaran setiap minggu
- Seseorang yang memilih pensiun dini untuk menikmati masa tua dan tidak berniat bekerja
Jawaban: Lulusan baru yang belum bekerja dan rutin mengirim berkas lamaran setiap minggu
Angkatan kerja hanya mencakup mereka yang sudah bekerja atau yang belum bekerja tetapi aktif mencari pekerjaan (pengangguran terbuka). Mahasiswa, pengurus rumah tangga, dan pensiunan tergolong Bukan Angkatan Kerja karena tidak sedang menawarkan tenaganya di pasar kerja.
Angkatan kerja mencakup penduduk yang sedang bekerja dan pengangguran yang aktif mencari kerja.
Miskonsepsi: Kuliah = Setengah Menganggur?
Sering kali muncul pertanyaan: "Loh, kan anak kuliah atau ibu rumah tangga punya waktu luang dan belum kerja penuh, masa mereka nggak dihitung setengah menganggur?"
Jawabannya: Sama sekali bukan! Ini adalah salah satu jebakan konsep yang paling sering mengecoh.

Mari kita bedah perbedaan krusialnya:
Setengah Menganggur (Underemployed): Orang ini sudah resmi bekerja dan berada di dalam Angkatan Kerja. Namun, jam kerjanya di bawah jam normal (di Indonesia standarnya kurang dari 35 jam seminggu) dan ia masih mencari atau bersedia menambah jam kerja. Contoh: barista paruh waktu yang hanya mendapat giliran kerja 12 jam seminggu, padahal ia butuh pemasukan dari 40 jam seminggu.
Bukan Angkatan Kerja: Orang yang secara sukarela tidak menawarkan tenaganya ke pasar kerja saat ini. Mahasiswa fokus menuntut ilmu, dan pengurus rumah tangga fokus mengelola keluarga. Selama mereka tidak aktif memburu loker, mereka tidak dihitung bekerja maupun menganggur.
Pada data soal:
Penduduk yang sedang sekolah/kuliah ($4.000.000\text{ jiwa}$)
Ibu rumah tangga dan mengurus keluarga ($2.000.000\text{ jiwa}$)
Keduanya berjumlah $6.000.000\text{ jiwa}$ dan berstatus Bukan Angkatan Kerja. Karena itu, mereka sama sekali tidak dihitung saat kita mencari total Angkatan Kerja!
Siapakah di antara individu berikut yang paling tepat diklasifikasikan sebagai 'setengah menganggur'?
- Mahasiswa sarjana yang hanya memiliki jadwal perkuliahan dua hari dalam seminggu
- Pengemudi daring yang bekerja 18 jam seminggu dan masih aktif mencari tambahan jam kerja
- Pengurus rumah tangga yang menghabiskan waktu luang dengan melakukan hobi memasak
- Fresh graduate yang belum pernah bekerja dan sedang menunggu panggilan wawancara kerja
Jawaban: Pengemudi daring yang bekerja 18 jam seminggu dan masih aktif mencari tambahan jam kerja
Setengah menganggur adalah pekerja yang jam kerjanya kurang dari normal (biasanya <35 jam seminggu) serta masih ingin dan bersedia menerima tambahan kerja. Pengemudi daring tersebut sudah bekerja namun jam kerjanya di bawah normal. Mahasiswa dan pengurus rumah tangga masuk Bukan Angkatan Kerja, sedangkan fresh graduate pencari kerja masuk Pengangguran Terbuka.
Kriteria setengah menganggur mensyaratkan seseorang sudah memiliki pekerjaan dengan jam kerja di bawah batas normal.
TPAK: Seberapa Ramai Pasarnya?
Kalau sebuah kota punya $20.000.000$ warga usia kerja, berapa banyak sih dari mereka yang beneran "turun ke gelanggang" mencari nafkah?
Untuk menjawab ini, ekonom menggunakan indikator bernama Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). TPAK mengukur persentase penduduk usia kerja yang aktif berpartisipasi di pasar kerja.
Rumus TPAK sangat intuitif:
Mari kita kumpulkan siapa saja yang berhak masuk ke barisan Angkatan Kerja dari data kota Sejuk:
Penduduk yang sedang bekerja penuh: $11.500.000\text{ jiwa}$
Penduduk setengah menganggur (ingat, mereka ini pekerja!): $1.500.000\text{ jiwa}$
Penduduk yang aktif mencari kerja (pengangguran terbuka): $1.000.000\text{ jiwa}$
Sekarang, bandingkan dengan seluruh penduduk usia kerja kota Sejuk: