Ikatan Kimia: Patungan atau Serah Terima?

Aturan "Mapan" ala Atom

Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa atom-atom di alam semesta ini repot-repot bergabung membentuk zat seperti air atau garam? Kenapa mereka nggak sendirian aja?

ilustrasi

Jawabannya mirip dengan tujuan hidup banyak orang: mereka ingin "mapan" dan stabil.

Dalam dunia atom, standar kemapanan ini sangat jelas: memiliki tepat 8 elektron di kulit terluarnya. Elektron yang ada di kulit terluar ini disebut elektron valensi. Keadaan memiliki 8 elektron valensi ini dikenal sebagai aturan oktet, dan ini adalah kondisi paling stabil yang meniru golongan gas mulia (seperti Neon atau Argon) yang memang sudah terlahir "sultan" alias stabil dari sananya.

Masalahnya, jarang sekali atom yang terlahir dengan 8 elektron valensi secara natural. Ada yang cuma punya 1, ada yang punya 6. Karena kurang dari target impian mereka, atom-atom ini jadi gelisah. Mereka terpaksa mencari jalan keluar dengan cara berikatan satu sama lain supaya bisa mencapai angka ajaib 8 tersebut.

Cheat-Sheet: Tim Buang vs Tim Cari

Kalau tujuan semua atom adalah mencapai angka 8, gimana cara tercepat ke sana? Jawabannya tergantung seberapa banyak "modal" awal (elektron valensi) yang mereka punya.

Bayangkan kamu harus mengumpulkan 8 stempel. Kalau kamu baru punya 1, 2, atau 3 stempel, rasanya berat banget buat nyari sisa 5 sampai 7 stempel lagi, kan? Lebih gampang "buang" aja buku stempelnya dan pakai buku yang udah penuh sebelumnya. Tapi kalau kamu udah punya 5, 6, atau 7 stempel, kamu tinggal "cari" sedikit lagi buat genap jadi 8.

Pola pikir atom juga persis seperti ini!

ilustrasi

Jika suatu atom (seperti unsur S pada soal dengan nomor atom 20) memiliki 2 elektron valensi, atom tersebut akan cenderung bersifat sebagai...

  • A. Nonlogam, karena butuh 6 elektron tambahan.
  • B. Logam, karena lebih mudah membuang 2 elektron.
  • C. Nonlogam, karena akan patungan 2 elektron.
  • D. Logam, karena sudah memiliki konfigurasi stabil.

Jawaban: B. Logam, karena lebih mudah membuang 2 elektron.

Atom dengan elektron valensi 2 termasuk "Tim Buang". Jauh lebih hemat energi untuk membuang 2 elektron daripada mencari 6 tambahan, sehingga ia bersifat logam.

Unsur dengan elektron valensi 1-3 cenderung membuang elektron dan diklasifikasikan sebagai logam.

Sedekah vs Patungan

Nah, sekarang bayangkan Tim Buang (Logam) dan Tim Cari (Nonlogam) berinteraksi. Apa yang terjadi?

Kalau ada si Logam (ingin membuang) bertemu dengan si Nonlogam (ingin mencari), solusinya sangat mudah. Si Logam akan menyerahkan elektronnya secara cuma-cuma kepada si Nonlogam. Mekanisme serah terima elektron layaknya sedekah ini menghasilkan Ikatan Ionik.

Tapi, ceritanya beda lagi kalau yang bertemu adalah sesama Nonlogam (Tim Cari). Dua-duanya sama-sama "miskin" elektron dan butuh tambahan untuk mencapai 8. Nggak ada yang mau ngalah membuang elektronnya!

Lalu gimana solusinya? Patungan! Mereka sepakat untuk menaruh beberapa elektron di tengah-tengah untuk dipakai bersama-sama. Persis seperti dua teman yang patungan bayar langganan Netflix supaya dua-duanya bisa nonton. Mekanisme bagi-pakai elektron di antara sesama atom yang kekurangan ini disebut Ikatan Kovalen.

Tentukan benar atau salah pernyataan berikut terkait mekanisme pembentukan ikatan:

  • Ikatan kovalen terjadi ketika atom logam membuang elektronnya ke atom nonlogam. — Salah
  • Ikatan kovalen ibarat patungan karena tidak ada atom yang mau membuang elektronnya. — Benar
  • Dua atom logam (Tim Buang) dapat membentuk ikatan kovalen satu sama lain. — Salah

Ikatan ion terjadi karena serah terima elektron (Logam + Nonlogam). Ikatan kovalen terjadi karena patungan antar atom yang sama-sama kekurangan elektron (Nonlogam + Nonlogam). Dua atom logam biasanya membentuk ikatan logam, bukan kovalen.

Ikatan kovalen adalah pemakaian bersama elektron antar sesama nonlogam, sedangkan ikatan ion adalah serah terima elektron antara logam dan nonlogam.