Trigonometri: Membedah Dua Sudut Elevasi
Satu Menara, Dua Frame Kamera
Dua sudut elevasi dari dua titik pengamatan yang berbeda berarti kita sedang melihat dua segitiga siku-siku yang saling menempel pada garis tinggi yang sama. Bayangkan kamu adalah seorang fotografer yang sedang memotret puncak sebuah Menara. Saat berdiri di titik $A$, kamu harus mendongakkan lensa kamera sebesar $30^\circ$ ke arah puncak. Ketika kamu berjalan maju lurus sejauh $20\text{ m}$ mendekati menara menuju titik $D$, kamu mendongak lebih tegak hingga sudutnya menjadi $60^\circ$.
Semakin dekat posisi lensa kamera ke dasar menara, garis pandang akan semakin curam sehingga sudut elevasi membesar. Karena fotografer memotret objek yang sama dari dua posisi berbeda, tercipta dua segitiga siku-siku dengan tinggi yang identik, tetapi memiliki panjang alas mendatar yang berbeda.
Seseorang mengamati puncak gedung dari titik P dengan sudut elevasi 45°. Ia kemudian melangkah maju sejauh 15 meter ke titik Q sehingga sudut elevasinya menjadi 60°. Berapakah panjang alas segitiga siku-siku besar yang terbentuk saat pengamat berada di titik P?
- Tepat 15 meter dari titik awal ke dinding gedung
- 15 meter ditambah sisa jarak dari titik Q ke gedung
- Sisa jarak dari titik Q ke gedung tanpa jarak 15 meter
- 15 meter dikurangi sisa jarak dari titik Q ke gedung
Jawaban: 15 meter ditambah sisa jarak dari titik Q ke gedung
Alas segitiga siku-siku besar membentang dari titik pengamatan awal P hingga ke dasar dinding gedung. Oleh karena itu, panjang alasnya adalah gabungan antara jarak pergerakan pengamat (15 meter) dengan sisa jarak dari titik Q ke gedung. Menganggap alasnya hanya 15 meter (Opsi A) adalah miskonsepsi umum yang menyamakan jarak tempuh perpindahan dengan jarak total ke objek.
Membedakan panjang alas segitiga besar dengan jarak pergerakan pengamat.
Menerjemahkan ke Persamaan
Setiap segitiga pengamatan menghasilkan satu persamaan tangen, karena kita menghubungkan tinggi menara dengan jarak mendatar. Pada pengamatan ini, kita tidak mengetahui maupun memerlukan panjang garis pandang (sisi miring). Karena rasio yang menghubungkan sisi tegak di depan sudut dengan sisi mendatar di samping sudut adalah perbandingan sisi depan per samping, fungsi trigonometri yang tepat kita gunakan adalah Tangen (tan).

Mari kita pisahkan gambar yang bertumpuk tersebut menjadi dua bingkai segitiga mandiri:
Segitiga kecil ($\triangle DCB$): Pengamat berada di titik $D$. Sudut elevasinya adalah $60^\circ$, sisi tegak adalah tinggi menara $h$, dan alasnya adalah sisa jarak $DB = x$. Persamaannya:
$$\tan(60^\circ) = \frac{h}{x} \implies \sqrt{3} = \frac{h}{x}$$
Segitiga besar ($\triangle ACB$): Pengamat berada di titik awal $A$. Sudut elevasinya adalah $30^\circ$, sisi tegak tetap sama yaitu tinggi menara $h$, sedangkan alasnya adalah bentangan total $AB = 20 + x$. Persamaannya:
$$\tan(30^\circ) = \frac{h}{20 + x} \implies \frac{1}{\sqrt{3}} = \frac{h}{20 + x}$$
Kedua persamaan ini saling terhubung karena lensa kamera memotret tiang menara dengan tinggi $h$ yang sama persis.
Tentukan apakah pernyataan berikut Benar atau Salah berdasarkan pemisahan dua segitiga pengamatan:
- Nilai $\tan(30^\circ)$ dapat dihitung langsung dengan membagi tinggi $h$ hanya dengan jarak perpindahan 20 meter. — Salah
- Kedua segitiga siku-siku tersebut membagikan variabel tinggi menara $h$ yang nilainya sama persis. — Benar
Pernyataan 1 Salah karena alas segitiga siku-siku untuk sudut 30° mencakup seluruh jarak dari titik A ke menara, yaitu (20 + x), bukan 20 saja. Pernyataan 2 Benar karena kedua segitiga memotret menara yang sama, sehingga sisi vertikal h bernilai identik pada kedua persamaan.
Menyusun persamaan rasio tangen dari dua segitiga siku-siku yang berhimpit pada sisi tinggi.
Taktik Substitusi Variabel
Substitusi mengubah sistem dua persamaan dengan dua variabel menjadi satu persamaan linear yang bisa dihitung secara langsung. Ketika kita melihat dua variabel sekaligus, yaitu jarak mendatar $x$ dan tinggi menara $h$, jangan merasa kewalahan. Ingat bahwa target akhir yang diminta soal adalah nilai $h$. Karena kita hanya membutuhkan $h$, misi utama aljabar kita adalah menyingkirkan variabel $x$ dari perhitungan lewat teknik Substitusi.
Dari segitiga kecil, kita dapat menyatakan $x$ dalam bentuk $h$:
$$\sqrt{3} = \frac{h}{x} \implies x = \frac{h}{\sqrt{3}}$$
Sementara itu, dari segitiga besar kita memperoleh bentuk perkalian silang:
$$\frac{1}{\sqrt{3}} = \frac{h}{20 + x} \implies 20 + x = h\sqrt{3}$$
Sekarang, ganti posisi $x$ pada persamaan segitiga besar dengan pecahan $\frac{h}{\sqrt{3}}$. Dengan begitu, variabel $x$ lenyap dan persamaan kita kini murni hanya memuat satu variabel, yaitu $h$:
$$20 + \frac{h}{\sqrt{3}} = h\sqrt{3}$$
Hasil akhir ini membuktikan bahwa tinggi menara yang tepat adalah Opsi C ($10\sqrt{3}\text{ m}$). Perhatikan mengapa opsi lainnya keliru:
Opsi A ($12$) salah: Terjadi akibat pembulatan hampiran kasar dari operasi $\frac{20}{\sqrt{3}} \approx 11{,}55 \approx 12$ tanpa menjalankan prosedur substitusi yang tepat.
Opsi B ($10$) salah: Terjebak membagi dua jarak perpindahan ($20 / 2 = 10$) secara langsung tanpa melibatkan relasi trigonometri yang semestinya.
Opsi E ($20\sqrt{2}$) salah: Keliru mengaplikasikan rumus perbandingan segitiga siku-siku sama kaki ($45^\circ$) atau salah menganggap angka 20 sebagai sisi miring.
Diberikan sistem persamaan $y = 2z$ dan $15 + y = 5z$. Jika kamu ingin menentukan nilai $z$ dengan cara mensubstitusikan persamaan pertama ke dalam persamaan kedua, persamaan baru yang terbentuk adalah...
- $15 + 2z = 5z$
- $15 + z = 5(2z)$
- $15 + 2y = 5z$
- $15 + y = 10z$
Jawaban: $15 + 2z = 5z$
Untuk mencari nilai z, kita mengganti variabel y pada persamaan kedua dengan nilai kesetaraannya dari persamaan pertama, yaitu y = 2z. Mengganti y menjadi 2z langsung menghasilkan persamaan 15 + 2z = 5z. Opsi B salah meletakkan posisi substitusi pada z, sedangkan Opsi C dan D tidak menyingkirkan variabel y.
Melakukan substitusi satu variabel ke dalam persamaan linear sederhana.