Mitos Trade-off: Estetika vs Fungsi

Ilusi "Pasti Jadi Jelek"

Pernah kepikiran nggak, pas sebuah produk harus diubah biar lebih gampang dipakai orang banyak (termasuk lansia atau penyandang disabilitas), otomatis desainnya bakal jadi jelek dan kaku bak alat medis?

Mari kita ambil contoh dari dunia yang kamu suka: UI/UX (User Interface/User Experience) di smartphone.

Pernah dengar fitur Dynamic Type? Fitur ini memungkinkan pengguna (misalnya lansia yang penglihatannya mulai menurun) untuk memperbesar ukuran teks secara sistem. Atau coba perhatikan mode kontras tinggi (Dark Mode). Saat fitur-fitur ini diaktifkan, apakah tampilan iPhone atau Android-mu mendadak jadi jelek? Tentu tidak. Desainer antarmuka telah merancangnya sedemikian rupa sehingga layar tetap terlihat elegan, modern, dan tetap memiliki "DNA" merek tersebut, meskipun fungsionalitasnya diubah drastis untuk menyesuaikan kebutuhan pengguna.

ilustrasi

Desain yang inklusif bukan berarti membuat "versi cacat" yang jelek untuk kelompok tertentu. Sebaliknya, ini tentang merancang sistem yang fleksibel sejak awal, di mana keindahan visual (form) dan kemudahan penggunaan (function) berjalan beriringan.

Mengenal Universal Design

Filosofi merancang produk yang bisa dipakai oleh siapa saja tanpa mengorbankan penampilannya ini dikenal dengan istilah Universal Design.

Dalam dunia gadget, salah satu contoh paling luar biasa dari konsep ini adalah Xbox Adaptive Controller.

Alat ini dirancang khusus untuk gamer dengan disabilitas fisik yang kesulitan memegang controller standar. Alih-alih membuat alat bantu medis yang kaku dan membosankan, Microsoft merancangnya dengan body yang sangat sleek, putih bersih, minimalis, dan sangat stylish. Bahkan gamer non-disabilitas pun banyak yang tergiur memilikinya karena desainnya yang sangat premium!

Xbox Adaptive Controller V&A Gambar: Geni, CC BY-SA 4.0 — Wikimedia Commons

Mempertimbangkan fungsi penggunaan (ergonomi) sejak awal justru tidak membatasi kreativitas. Sebaliknya, hal ini sering kali melahirkan inovasi bentuk baru yang tetap cantik dan elegan.

ilustrasi

Berdasarkan konsep Universal Design yang diterapkan pada Xbox Adaptive Controller, apa tujuan utama dari filosofi desain ini?

  • Membuat produk khusus versi murah untuk penyandang disabilitas.
  • Mengorbankan estetika agar tombol-tombol fungsional lebih mudah diakses.
  • Menciptakan satu rancangan yang mudah digunakan semua orang sekaligus tetap terlihat estetis.
  • Memisahkan desain estetis untuk konsumen umum dan desain fungsional untuk konsumen khusus.

Jawaban: Menciptakan satu rancangan yang mudah digunakan semua orang sekaligus tetap terlihat estetis.

Universal design bukan soal membuat versi khusus atau mengorbankan estetika, melainkan mengintegrasikan kemudahan pakai ke dalam satu desain yang bisa dinikmati semua kalangan secara elegan.

Universal Design bertujuan membuat satu produk estetis yang bisa digunakan semua orang, bukan merusak tampilan.

Berevolusi Tanpa Hilang Jati Diri

“Tapi, kalau bagian botolnya diubah, nanti identitas merek MoveEase hilang dong?”

Di sinilah kita perlu memahami konsep DNA Brand dan Iterasi Desain.

Sebuah produk tidak dilihat sebagai satu balok utuh yang kaku. Produk terdiri dari dua lapisan utama:

  1. Core Identity (DNA): Siluet utama, color palette, jenis material, dan tipografi logo yang mendefinisikan feel merek.

  2. Functional Components: Bagian-bagian yang berinteraksi langsung dengan pengguna (tombol, layar, pegangan, tutup botol).

Sama halnya dengan kasus botol MoveEase. Mengubah desain tutup botol agar tidak butuh tenaga besar saat diputar (komponen fungsional) bisa dilakukan secara independen. Desainer dapat memodifikasi alur gerigi atau menambahkan tekstur ergonomis pada tutupnya, namun tetap menggunakan material matte dan warna premium yang menjadi DNA botol utamanya.

Jadi, memperbaiki satu kelemahan tidak berarti harus membuang seluruh karakter visual yang disukai konsumen.

Tentukan apakah pernyataan berikut terkait Iterasi dan Core DNA benar atau salah!

  • Merombak antarmuka agar mudah dipakai lansia mengharuskan desainer membuang warna dan font utama merek. — Salah
  • Iterasi desain berarti memperbaiki sebagian kecil komponen bermasalah tanpa menghancurkan identitas produk secara keseluruhan. — Benar
  • Tutup botol yang sulit diputar dapat diganti mekanismenya dengan tetap mempertahankan warna dan material yang sama. — Benar

Iterasi dilakukan pada komponen fungsional (seperti tombol/tutup) tanpa mengubah identitas inti (Core DNA) dari keseluruhan desain.

Core DNA dipertahankan, sementara komponen fungsional diiterasi untuk kenyamanan.