Agregat vs Kategori Sosial: Ruang atau Label?

Terjebak di Tempat yang Sama

Pernahkah kamu menunggu kereta di stasiun atau mengantre panjang untuk membeli tiket konser? Sadar atau tidak, pada momen itu kamu sedang menjadi bagian dari kelompok yang oleh para sosiolog disebut sebagai agregat (atau kolektivitas).

Kerumunan orang di stasiun kereta pada tahun 1927 Gambar: Snyder, Frank R., No restrictions — Wikimedia Commons

Syarat mutlak dari sebuah agregat adalah keberadaan fisik yang terkumpul. Kalian berbagi ruang dan waktu yang sama secara nyata. Di dalam agregat, kamu tidak harus saling kenal dengan orang di sebelahmu. Tidak ada struktur organisasi seperti ketua atau bendahara. Dan yang paling khas: kerumunan ini bersifat sementara. Begitu keretanya datang atau tiketnya habis terjual, kerumunan itu bubar jalan begitu saja dan kalian kembali menjadi individu yang terpisah.

Coba ingat-ingat lagi waktu menjawab soal tadi. Kamu mungkin sempat bingung kenapa penonton di stasiun kereta (Opsi A) bukan jawaban kecualinya. Kuncinya ada di wujud fisiknya! Karena mereka sedang ngumpul bareng secara nyata di satu stasiun, mereka murni merupakan contoh sebuah agregat.

ilustrasi

Mana dari contoh berikut yang paling pas disebut sebagai agregat sosial?

  • Semua pria dewasa di Indonesia
  • Orang-orang yang antre di kasir supermarket
  • Kumpulan pecinta kucing di grup Facebook
  • Pegawai bank yang tergabung dalam serikat pekerja

Jawaban: Orang-orang yang antre di kasir supermarket

Orang yang antre di kasir berada di tempat dan waktu yang sama secara kebetulan (fisik terkumpul), yang merupakan syarat utama agregat. Opsi lain tidak terkumpul secara fisik di satu lokasi nyata.

Agregat mengharuskan individu berada di tempat dan waktu fisik yang sama secara nyata tanpa interaksi mendalam.

Beda Tempat, Satu Label

Sekarang coba bayangkan kelompok yang lain: "Seluruh mahasiswa berusia 19 tahun di Indonesia". Apakah mereka semua sedang berkumpul di satu lapangan raksasa saat ini? Tentu saja tidak.

Nah, pengelompokan yang seperti ini disebut kategori sosial. Berbeda dengan agregat yang menuntut anggotanya kumpul fisik di satu ruang, kategori sosial itu ibarat folder pengelompokan di dalam lemari arsip yang dibuat "di atas kertas" (biasanya oleh peneliti atau pencatat statistik).

Orang-orang dimasukkan ke dalam satu kategori sosial semata-mata karena mereka memiliki satu label, status, atau ciri yang sama. Ciri ini bisa berupa usia (para remaja), jenis kelamin, pekerjaan, atau asal instansi pendidikan. Anggota kategori sosial bisa saja tersebar di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Mereka tidak pernah kumpul bareng secara keseluruhan, dan sebagian besar dari mereka tidak saling kenal.

Tentukan apakah pernyataan berikut benar atau salah mengenai 'kategori sosial'!

  • Anggota dari sebuah kategori sosial wajib saling mengenal dan berinteraksi secara rutin. — Salah
  • Seseorang dimasukkan ke dalam kategori sosial karena memiliki minimal satu ciri, label, atau status yang sama. — Benar

Kategori sosial adalah pengelompokan berdasarkan kesamaan ciri. Mereka tidak harus saling kenal, berinteraksi, atau berada di tempat yang sama.

Kategori sosial didasarkan pada kesamaan label atau ciri, tanpa mensyaratkan keberadaan di lokasi yang sama atau interaksi antaranggota.

Membedah Jebakan Nama Institusi

Seringkali di soal sosiologi, kita dijebak dengan penggunaan nama institusi besar seolah-olah itu kelompok yang nyata. Mari kita aplikasikan konsep yang sudah kita bahas untuk membedah opsi soal tadi, khususnya pada Opsi C: "Para mahasiswa dari berbagai fakultas yang terdaftar di Universitas Indonesia."

Membawa nama besar "Universitas Indonesia" bisa mengecoh kita seolah-olah seluruh mahasiswanya sedang kumpul. Gunakan trik imajinasi berikut untuk mengetesnya:

Apakah seluruh mahasiswa UI sedang kumpul di satu tempat yang sama? Tidak. Sebagian sedang di kos, ada yang di kafe, ada yang rebahan di rumah. Karena mereka tersebar secara fisik namun diikat oleh status/label yang sama (yakni sama-sama terdaftar di UI), maka Opsi C adalah kategori sosial.

Sebaliknya, perhatikan opsi lain di soal: pengunjung di pusat perbelanjaan (Opsi D), antrean tiket konser (Opsi B), penonton di alun-alun (Opsi E). Wujud fisik mereka jelas sedang terkumpul nyata di satu lokasi (mall, loket, alun-alun). Jadi, ketiganya murni sebuah agregat.

Berdasarkan cara membedakan agregat dan kategori sosial, mana di bawah ini yang merupakan **kategori sosial**?

  • Seluruh penonton yang sedang duduk di dalam bioskop XXI.
  • Para dokter yang terdaftar dalam Ikatan Dokter Indonesia di seluruh negeri.
  • Kerumunan massa yang berkumpul menonton konser di lapangan.
  • Penumpang pesawat penerbangan GA-123 yang sedang mengudara.

Jawaban: Para dokter yang terdaftar dalam Ikatan Dokter Indonesia di seluruh negeri.

Para dokter yang terdaftar tidak berada di satu tempat fisik secara bersamaan, melainkan tersebar dan disatukan oleh label profesi yang sama. Opsi lainnya adalah kerumunan nyata di lokasi fisik (agregat).

Jika sebuah kelompok tidak terkumpul secara fisik dalam satu waktu dan hanya diikat oleh kesamaan status/institusi, maka itu adalah kategori sosial.