Peta Fauna: Mengungkap Zona Peralihan
Indonesia Dibagi Tiga
Pernah nggak kamu kepikiran kenapa di Sumatera dan Kalimantan ada harimau dan orangutan, tapi begitu kamu jalan-jalan ke Papua, hewannya malah kangguru pohon dan burung cendrawasih? Padahal sama-sama di Indonesia loh.
Ini bukan kebetulan! Persebaran hewan di negara kita itu nggak acak. Secara posisi geografis, Indonesia itu sangat unik karena posisinya semacam "jembatan" yang diapit oleh dua benua besar: Benua Asia di sebelah barat dan Benua Australia di sebelah timur.
Zaman es purba dulu, permukaan air laut jauh lebih rendah. Daratan di barat Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan) dulu menyatu sama Benua Asia. Sementara itu, daratan di timur (Papua dan sekitarnya) menyatu sama Benua Australia. Nah, wilayah di tengahnya (seperti Sulawesi dan Nusa Tenggara) posisinya terkurung laut dalam, jadi nggak pernah beneran nyatu sama barat maupun timur.
Makanya, fauna di Indonesia terbagi jadi tiga zona besar yang mirip sama benua asalnya!
Gimana, kebayang kan sekarang kenapa Indonesia bisa kaya banget hewannya? Semuanya gara-gara sejarah zaman es!
Alasan paling utama kenapa fauna di bagian barat Indonesia sangat mirip dengan benua Asia, sedangkan di timur sangat mirip dengan Australia adalah...
- A. Karena cuaca dan suhu di bagian barat dan timur Indonesia berbeda drastis.
- B. Karena dulu bagian barat menyatu dengan Asia, dan bagian timur menyatu dengan Australia.
- C. Karena hewan-hewan besar sengaja bermigrasi mencari makanan ke bagian barat.
- D. Karena wilayah tengah Indonesia banyak gunung berapi yang menghalangi hewan lewat.
Jawaban: B. Karena dulu bagian barat menyatu dengan Asia, dan bagian timur menyatu dengan Australia.
Di zaman es, laut dangkal mengering sehingga Indonesia Barat menyatu dengan Asia dan Timur menyatu dengan Australia, membawa masuk fauna dari benua masing-masing. Wilayah tengah tetap dipisahkan oleh laut dalam.
Penyebab utama pembagian 3 zona fauna Indonesia adalah sejarah penyatuan daratan purba dengan benua Asia dan Australia.
Garis Imajiner Pembatas Fauna
Kalau kita tahu faunanya beda, gimana cara para ilmuwan bikin batas wilayahnya? Kan nggak ada tembok pembatas di lautan.
Di abad ke-19, ada dua ilmuwan jenius yang main ke Indonesia: Alfred Russel Wallace dan Richard Lydekker. Mereka ngelihat pola penyebaran hewan dan akhirnya menarik garis imajiner di peta, berdasarkan batas palung laut dalam purba yang mencegah mamalia darat menyeberang.
Garis Wallace: Wallace berlayar dari Bali ke Lombok. Dia kaget banget, jarak pantainya deket (cuma sekitar 25 km), tapi burung di Bali (Asiatis) beda total sama di Lombok (udah mulai gaya Australia). Dia menarik garis yang memisahkan Zona Asiatis (Barat) dengan Zona Peralihan (Tengah). Garisnya membentang dari Selat Makassar turun hingga antara Bali dan Lombok.
Garis Lydekker: Lydekker menarik garis di sebelah timur. Garis ini memisahkan Zona Peralihan (Tengah) dengan Zona Australis (Timur murni), tepatnya mengikuti tepi paparan benua Sahul (Australia).
Wilayah unik di antara kedua garis ini (tempat Pulau Sulawesi berada) akhirnya sering disebut sebagai Wallacea atau Zona Peralihan.

Jadi, kalau kamu lagi ngerjain soal dan denger kata "Peralihan" atau "Wallacea", otomatis radar otakmu harus langsung ke-zoom ke daerah tengah: Sulawesi dan Nusa Tenggara.
Tentukan Benar atau Salah pernyataan tentang garis pembatas fauna berikut!
- Garis Wallace memisahkan zona Asiatis dengan zona Peralihan. — Benar
- Garis Lydekker memisahkan zona Asiatis dengan zona Australis. — Salah
- Kawasan di antara kedua garis tersebut disebut sebagai kawasan Wallacea atau Zona Peralihan. — Benar
Garis Wallace memisahkan bagian Barat dan Tengah. Garis Lydekker memisahkan bagian Tengah dan Timur. Wilayah di antara keduanya (seperti Sulawesi) disebut kawasan Wallacea/Peralihan.
Posisi Garis Wallace memisahkan Asiatis-Peralihan, dan Lydekker memisahkan Peralihan-Australis.
Bintang Utama: Fauna Peralihan
Nah, sekarang kita fokus ke bintang utamanya soal tadi: Fauna Peralihan. Wilayah ini bener-bener spesial, terutama Pulau Sulawesi yang ada di tengah-tengahnya.
Kenapa spesial? Karena Sulawesi itu udah dikelilingi laut dalam sejak jutaan tahun lalu, dan hewannya terisolasi. Mamalia besar dari benua Asia nggak bisa berenang ke sana, dan hewan berkantung Australia juga kesusahan menyeberang. Akibatnya, beberapa hewan yang entah gimana berhasil terdampar di sana zaman dulu, berevolusi sendiri menyesuaikan wilayahnya yang terbatas.
Hasilnya? Banyak banget hewan endemik alias cuma ada di Sulawesi doang, nggak bakal kamu temuin di belahan bumi mana pun. Ciri fauna peralihan adalah percampuran unsur Asia dan Australia, tapi wujudnya jadi unik.
Ada fenomena menarik namanya island dwarfism (pengerdilan pulau). Karena daratannya lebih kecil dari benua, hewan yang dulunya gede berevolusi jadi berukuran mini biar makanannya cukup.
Gambar: 08deborah, CC BY-SA 3.0 — Wikimedia Commons
Coba lihat foto di atas. Ini adalah Anoa (Bubalus quarlesi). Bentuknya persis kerbau, kan? (Kerbau itu hewan khas benua Asia). Tapi ukurannya kecil banget, tingginya cuma semeja, alias kerbau kerdil! Ini contoh murni fauna peralihan.
Gambar: Stavenn, CC BY-SA 3.0 — Wikimedia Commons
Kalau yang ini burung Maleo (Macrocephalon maleo). Burung yang unik banget karena dia naruh telurnya nggak di sarang ranting, melainkan dikubur di pasir dekat sumber panas bumi/vulkanik biar menetas sendiri!
Jadi, fauna Peralihan Sulawesi bukan fauna Asia murni (nggak ada harimau/badak/gajah), dan bukan pula Australia murni (nggak ada burung kasuari/kakaktua murni).
Apa alasan utama kenapa fauna di zona Peralihan (seperti Sulawesi) banyak yang bersifat endemik (unik dan hanya ada di sana)?
- A. Fauna peralihan berasal dari migrasi gajah dan harimau ke Sulawesi.
- B. Fauna peralihan bisa dengan mudah menyeberang dari Asia ke Australia secara bebas.
- C. Fauna peralihan sering kali endemik karena hewannya terisolasi oleh laut dalam selama jutaan tahun.
- D. Fauna peralihan adalah campuran hewan yang sengaja dibawa manusia pada zaman purba.
Jawaban: C. Fauna peralihan sering kali endemik karena hewannya terisolasi oleh laut dalam selama jutaan tahun.
Karena terkurung laut dalam, hewan yang ada di Zona Peralihan terisolasi dan berevolusi menjadi spesies endemik yang khas (seperti Anoa yang merupakan kerbau kerdil).
Fauna peralihan umumnya adalah hewan endemik (hanya ada di satu tempat) yang berevolusi akibat isolasi daratan laut dalam.