Rumus Anti-Jebakan Kata Serapan: -isir vs -isasi

Jebakan Kata Dasar Tersembunyi

Pernahkah kamu merasa sebuah kata sudah "terdengar benar" karena imbuhannya terasa pas? Waktu mengerjakan soal tadi, banyak peserta UTBK yang terjebak memilih opsi C (Dilegalisirkan). Alasannya masuk akal: ada awalan di- dan akhiran -kan yang biasa dipakai untuk kata kerja pasif. Secara pendengaran, kata ini terdengar sangat "Indonesia".

Tapi, bayangkan kamu sedang merakit mainan Lego.

Imbuhan (seperti awalan dan akhiran) hanyalah aksesoris tambahan, sedangkan kata dasar adalah blok utama di tengahnya. Jika kita mempreteli kata dilegalisirkan, kita akan mendapatkan anatomi seperti ini:

Masalahnya langsung terlihat di sini: blok utama yang ada di tengah, yaitu legalisir, ternyata cacat!

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata dasar legalisir adalah bentuk tidak baku. Sebelum kita sibuk mencocokkan imbuhan apa yang pas (apakah di-, me-, atau -kan), syarat mutlaknya adalah kata dasar di tengahnya wajib baku terlebih dahulu. Kalau fondasinya rapuh, mau ditambah imbuhan sekeren apa pun, keseluruhan kata itu tetap salah secara kaidah bahasa.

Apa alasan utama mengapa kata 'dinetralisirkan' dianggap salah dalam penulisan bahasa Indonesia baku?

  • A. Imbuhannya kurang lengkap
  • B. Kata dasarnya tidak baku menurut KBBI
  • C. Seharusnya menggunakan awalan me-
  • D. Kata tersebut merupakan bahasa daerah

Jawaban: B. Kata dasarnya tidak baku menurut KBBI

Kata 'dinetralisirkan' dibentuk dari kata dasar 'netralisir' yang tidak baku. Sebelum merakit imbuhan, kata dasarnya harus diubah ke bentuk baku terlebih dahulu.

Syarat mutlak pembentukan kata berimbuhan yang benar adalah kata dasarnya wajib baku terlebih dahulu.

Rumus Sakti: -isir menjadi -isasi

Lalu, kalau legalisir itu cacat, bagaimana cara membenarkannya?

Untuk menjawab ini, kita harus tahu sedikit tentang sejarah bahasa kita. Bahasa Indonesia banyak menyerap kosakata dari bahasa Belanda. Dalam bahasa Belanda, ada banyak kata kerja yang berakhiran -eren (seperti lokaliseren, legaliseren) dan kata benda berakhiran -atie (seperti legalisatie).

Pada masa lalu, lidah orang Indonesia sering meminjamnya dengan akhiran -isir (sehingga muncul kata lokalisir, netralisir, legalisir). Namun, seiring berjalannya waktu, KBBI membuat pedoman standar yang tegas: akhiran serapan -isir tidak diakui sebagai bentuk baku.

Sebagai gantinya, bahasa Indonesia menggunakan pola serapan yang jauh lebih konsisten. Semua kata serapan yang berakhiran -isir wajib diubah mengikuti rumus -isasi.

Cobalah amati pola perubahannya melalui alat di bawah ini:

Intuisimu mungkin sudah merasakannya saat mendengar kata lokalisasi atau netralisasi. Rumus ini berlaku universal. Dengan menerapkan pola baku ini, kata dasar cacat yang kita temukan di halaman sebelumnya (legalisir) akhirnya menemukan bentuk kokohnya: legalisasi.

Sekarang, kita punya blok utama yang sah dan diakui oleh KBBI!

Merakit Kembali dengan Imbuhan

Bagus! Sekarang kita sudah memegang kata dasar yang baku, yaitu legalisasi. Langkah terakhir adalah memasangkan imbuhan yang tepat sesuai dengan konteks kalimat soal.

Mari kita lihat kembali kutipan kalimatnya: "...sebelum menyerahkan lembar fisik SKCK yang telah (....)."

Di sini, "Lembar fisik SKCK" adalah objek yang dikenai suatu tindakan pengesahan. Artinya, kita membutuhkan kata kerja pasif. Kata kerja pasif dalam bahasa Indonesia umumnya ditandai dengan awalan di-.

Mari kita rakit: [di-] + [legalisasi] = dilegalisasi

Tapi tunggu dulu, kenapa tidak kita tambahkan akhiran -kan agar menjadi dilegalisasikan?

Nah, di sinilah letak seninya. Akhiran -isasi (seperti pada legalisasi, organisasi, swastanisasi) sebenarnya sudah mengandung makna "proses" atau "pembuatan".

Jika kamu menambahkan lagi akhiran -kan (yang fungsinya juga membuat kata menjadi bermakna proses/kausatif), maknanya akan saling tumpang tindih. Penggunaan imbuhan yang berlebihan ini membuat kata menjadi mubazir (pleonasme) dan kurang efektif.

Oleh karena itu, cukup tempelkan awalan di- saja. Hasil akhirnya adalah dilegalisasi. Singkat, padat, dan seratus persen sesuai kaidah KBBI!

Jika pemerintah ingin membatasi wilayah wabah suatu penyakit, kalimat pasif yang paling baku untuk menggambarkan tindakan tersebut adalah 'Wabah penyakit itu segera...'

  • A. dilokalisir
  • B. dilokalisirkan
  • C. dilokalisasi
  • D. dilokalisasikan

Jawaban: C. dilokalisasi

Kata dasar baku adalah 'lokalisasi'. Untuk membuat bentuk pasif, cukup tambahkan 'di-' menjadi 'dilokalisasi'. Penambahan '-kan' (dilokalisasikan) menjadi mubazir.

Kata berakhiran -isasi sudah mengandung makna proses, sehingga penambahan akhiran -kan sering kali mubazir dalam pembentukan pasif dasar.