Suksesi Ekologi: Kota Alam yang Bangkit
Membangun Kota dari Nol

Bayangkan sebuah lahan kosong tak berpenghuni. Kalau kita mau membangun kota metropolis di sana, kita nggak bisa langsung tiba-tiba membangun gedung pencakar langit. Prosesnya pasti bertahap.
Awalnya, datang sekelompok pekerja yang mendirikan tenda darurat. Mereka mulai meratakan tanah dan membangun sumur. Setelah kondisi dasar membaik, datanglah keluarga-keluarga perintis yang membangun perumahan sederhana. Perlahan, jalanan diaspal, listrik masuk, dan akhirnya berdirilah gedung perkantoran raksasa yang mengundang ribuan orang dengan berbagai profesi untuk tinggal di dalamnya.
Dalam ekosistem, proses "pembangunan kota" ini disebut suksesi ekologi.
Suksesi bukanlah sulap semalam. Ini adalah proses berurutan di mana penghuni awal memodifikasi lingkungan sehingga perlahan cocok untuk penghuni berikutnya yang lebih kompleks.
Mengapa organisme perintis (seperti lumut kerak) pada akhirnya akan digantikan oleh tumbuhan yang lebih besar dalam proses suksesi?
- A. Karena organisme perintis dimangsa habis oleh hewan herbivora pendatang.
- B. Karena organisme perintis mengubah lingkungan (misal: membentuk tanah) sehingga lebih cocok untuk tumbuhan besar, yang kemudian menaunginya.
- C. Karena tumbuhan besar memiliki racun yang mematikan organisme perintis.
- D. Karena organisme perintis memiliki siklus hidup yang sangat pendek dan punah dengan sendirinya.
Jawaban: B. Karena organisme perintis mengubah lingkungan (misal: membentuk tanah) sehingga lebih cocok untuk tumbuhan besar, yang kemudian menaunginya.
Organisme perintis 'menyiapkan' lingkungan dengan memecah batuan menjadi tanah. Setelah tanah terbentuk, tumbuhan besar datang, tumbuh lebih tinggi, dan merebut sinar matahari (ternaungi), sehingga organisme perintis tergantikan.
Suksesi adalah proses di mana spesies awal memodifikasi lingkungan yang justru membuatnya lebih cocok untuk spesies berikutnya.
Primer vs Sekunder: Lihat Tanahnya!
Siswa sering kali punya miskonsepsi: "Pokoknya kalau di suatu tempat dulunya pernah ada kehidupan, lalu hancur, pasti pemulihannya disebut suksesi sekunder". Ini keliru!
Kunci sebenarnya bukan pada masa lalunya, melainkan pada keberadaan tanah (substrat) setelah bencana terjadi.
Gambar: NASA image created by Jeff Schmaltz, MODIS Rapid Response team., Public domain — Wikimedia Commons
Mari kita bandingkan dua skenario ini:
Kasus Letusan Gunung (Suksesi Primer) Bayangkan letusan dahsyat seperti letusan Gunung Krakatau atau Barren Island pada gambar di atas. Lahar panas dan abu vulkanik mengeras, menutup seluruh area. Tanahnya hilang atau tertutup batuan baru. Meskipun dulunya di sana ada hutan lebat, ekosistem kini harus membuat tanah lagi dari nol. Lumut kerak butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun hanya untuk memecah batu menjadi tanah tipis.
Kasus Penebangan atau Kebakaran Hutan (Suksesi Sekunder) Setelah hutan ditebang (seperti pada soal yang dikerjakan) atau terbakar hebat, pohon-pohonnya memang lenyap. Tapi, tanahnya masih ada di situ! Bahkan, di dalam tanah tersebut biasanya masih tersimpan biji-bijian sisa, akar, dan cadangan nutrisi. Karena "fondasi" tanahnya sudah siap, pemulihan suksesi sekunder jauh lebih cepat dan langsung melompat ke tahap tumbuhnya rumput atau semak belukar.
Tentukan apakah contoh peristiwa berikut termasuk suksesi primer atau sekunder dengan memilih label yang tepat!
- Hutan yang terbakar habis hingga menyisakan abu, namun tanahnya tetap ada. — Sekunder
- Lahar dingin pasca letusan gunung yang mengeras menjadi batu, menutup seluruh area tanpa sisa tanah. — Primer
Kuncinya ada pada tanah. Jika tanahnya masih ada (kebakaran), itu suksesi sekunder. Jika tanah hilang/tertutup batuan baru (lahar gunung), itu suksesi primer.
Perbedaan suksesi primer dan sekunder terletak pada keberadaan tanah/substrat, bukan sekadar sejarah pernah ada kehidupan atau tidak.
Makin Kompleks, Makin Ramai
Pernah mempertanyakan kenapa di soal tadi, setelah pohon-pohon kecil tumbuh barulah berbagai jenis burung, mamalia, serangga, dan reptil bermunculan? Mengapa keanekaragaman hayati (biodiversitas) selalu meningkat seiring berjalannya suksesi menuju tahap klimaks?
Jawabannya ada pada penciptaan relung (niche), alias ruang hidup dan spesialisasi peran suatu organisme.
Sebuah padang rumput yang datar itu seperti lapangan terbuka; ia hanya punya sedikit 'ruang'. Biasanya, ekosistem datar hanya bisa menampung serangga tanah atau herbivora kecil yang bisa sembunyi di sela rumput.
Namun, ketika semak dan pohon besar mulai tumbuh, struktur fisik ekosistem berubah drastis menjadi layaknya "apartemen bertingkat". Tiba-tiba, bermunculan ruang-ruang baru yang belum pernah ada:
Kanopi dan dahan tinggi menjadi tempat aman bagi burung untuk bersarang.
Sela-sela akar pohon yang rindang menjadi tempat sembunyi mamalia.
Daun dan buah pepohonan mengundang beragam jenis serangga spesifik, yang pada gilirannya mengundang reptil predator.
Setiap spesies hewan baru yang datang bertindak sebagai mangsa atau predator baru, membuat jaring-jaring makanan menjadi sangat rumit.
Apa alasan utama keanekaragaman hayati hewan meningkat tajam ketika komunitas tumbuhan beralih dari padang rumput menjadi hutan?
- A. Hutan menghasilkan lebih banyak oksigen daripada padang rumput.
- B. Suhu di dalam hutan selalu lebih dingin sehingga hewan lebih suka.
- C. Pepohonan besar menciptakan banyak relung (niche) atau ruang hidup baru yang spesifik di berbagai ketinggian.
- D. Tumbuhan hutan tidak membutuhkan tanah yang subur.
Jawaban: C. Pepohonan besar menciptakan banyak relung (niche) atau ruang hidup baru yang spesifik di berbagai ketinggian.
Semakin kompleks struktur fisik tumbuhan (seperti pohon yang tinggi), semakin banyak 'ruang' atau relung ekologi baru yang tersedia untuk tempat tinggal dan mencari makan bagi beragam spesies hewan.
Tumbuhan yang kompleks menciptakan relung (niche) baru yang memungkinkan lebih banyak jenis hewan untuk hidup bersama.