Aksi vs Argumen: Hubungan Antarkalimat

Kenyataan vs Pendapat

Sebelum kita bedah soalnya, mari kita luruskan dulu bedanya melaporkan kejadian (fakta) dengan berdebat (argumen/opini). Banyak yang sering tertukar di sini!

ilustrasi

Bayangkan dua situasi ini:

  1. Temanmu bilang, "Aku lagi makan nasi goreng." Ini adalah fakta atau aksi nyata. Kejadiannya sudah jelas, dan kamu tidak perlu berdebat apakah dia benar-benar sedang makan atau tidak. Kalau ada kalimat selanjutnya, biasanya itu akan menceritakan latar belakang kejadiannya (misal: mengapa dia makan itu, atau di mana).

  2. Temanmu bilang, "Nasi goreng buatan ibu paling enak se-dunia!" Ini adalah argumen atau opini. Orang lain bisa saja setuju atau tidak. Kalau ada kalimat selanjutnya, kalimat itu biasanya berfungsi untuk memperinci atau memberi bukti pendukung (misal: "Buktinya bumbunya pas dan nasinya pulen") untuk meyakinkanmu.

Jadi, kalau kamu membaca sebuah teks berita, ingatlah bahwa jurnalis biasanya sedang melaporkan kejadian nyata, bukan sedang memaksakan pendapatnya.

Mana dari kalimat berikut yang membutuhkan 'bukti pendukung' (memperinci argumen) pada kalimat selanjutnya?

  • A. Polisi menangkap pelaku pencurian di minimarket kemarin malam.
  • B. Kebijakan melarang sepeda motor masuk jalan tol adalah keputusan yang sangat tepat.
  • C. Gunung Merapi mengeluarkan awan panas pada pukul 08.00 pagi.
  • D. Ayah sedang memperbaiki genteng yang bocor karena hujan semalam.

Jawaban: B. Kebijakan melarang sepeda motor masuk jalan tol adalah keputusan yang sangat tepat.

Kalimat B adalah opini/argumen yang butuh bukti agar orang lain setuju. Kalimat A, C, dan D adalah fakta/aksi nyata.

Membedakan kalimat fakta kejadian nyata dengan kalimat opini yang membutuhkan argumen pendukung.

Aksi dan Alasan di Baliknya

Kalau kamu melakukan sebuah aksi, pasti ada alasannya, kan? Nah, dalam teks narasi atau kehidupan sehari-hari, alasan di balik tindakan itu sebenarnya adalah penyebab terjadinya tindakan tersebut.

Misalnya begini: "Aku belajar (Aksi) karena besok ada ujian (Alasan)". Coba tanya pada dirimu: Apa yang menyebabkan kamu belajar? Jawabannya jelas: Adanya ujian.

Artinya, hubungan antara 'Tindakan' dan 'Alasan' pada dasarnya adalah hubungan Sebab-Akibat (Kausalitas). Alasan kamu bertindak adalah Sebab, dan tindakan yang kamu lakukan adalah Akibat-nya.

Pola ini sangat sering muncul dalam teks berita: jurnalis melaporkan apa yang dilakukan seseorang (Aksi), lalu menjelaskan mengapa atau apa penyebab mereka melakukannya (Alasan).

Perhatikan kalimat berikut: 'Andi berlari kencang karena takut terlambat masuk sekolah.' Manakah bagian yang merupakan 'Sebab/Alasan' dalam kalimat tersebut?

  • A. Andi berlari kencang
  • B. Takut terlambat masuk sekolah
  • C. Andi masuk sekolah
  • D. Berlari karena takut

Jawaban: B. Takut terlambat masuk sekolah

Rasa takut terlambat (alasan) adalah PENYEBAB yang membuat Andi melakukan aksi berlari kencang (akibat).

Alasan di balik sebuah tindakan bertindak sebagai penyebab terjadinya tindakan tersebut.

Membedah Kasus Tanimulya

Sekarang mari kita bawa konsep tadi ke teks berita yang ada di soal. Kita bedah dua kalimat pertamanya!

Coba perhatikan Kalimat (1): "Tim forensik... akan memeriksa dua kerangka manusia". Apakah kalimat ini sebuah argumen yang bisa diperdebatkan? Tentu bukan. Ini adalah fakta atau tindakan nyata (Aksi) yang akan dilakukan oleh tim forensik.

Lalu, kita lihat Kalimat (2): "Mereka memeriksa untuk memastikan identitas korban dan apakah terdapat unsur pidana." Kalimat ini memberikan tujuan atau alasan dari tindakan mereka. Mengapa tim forensik melakukan pemeriksaan? Jawabannya ada di kalimat (2).

Berdasarkan konsep kausalitas yang kita pelajari: Alasan tim forensik melakukan sesuatu adalah penyebab terjadinya tindakan pemeriksaan tersebut. Kesimpulannya, kalimat (2) menjelaskan penyebab dari kejadian di kalimat (1).