Nasionalisme ASN: Eksekutor Visi Negara

Pelatih, Pemain, dan Riuh Penonton

Bayangkan sebuah pertandingan sepak bola yang sedang berlangsung sengit. Di pinggir lapangan, ada sosok Pelatih (Pemerintah/Negara) yang sudah meracik taktik strategis di ruang ganti. Di atas lapangan, ada Pemain (Aparatur Sipil Negara/ASN) yang bertugas mengeksekusi taktik tersebut. Di tribun, duduk ribuan Penonton (Publik/Pakar) yang selalu punya pendapat sendiri.

Terkadang, pelatih menerapkan taktik yang aneh atau berisiko di mata penonton. Penonton di tribun mungkin tidak setuju, mengkritik keras, bahkan menyoraki taktik tersebut.

Lalu, apa yang harus dilakukan pemain di lapangan?

ilustrasi

Jika pemain itu memilih 'netral', diam saja, atau menolak menendang bola karena takut disoraki penonton, tim pasti akan hancur. Pemain yang profesional dan loyal akan tetap mengeksekusi taktik pelatih dengan sebaik mungkin, karena ia percaya pada visi jangka panjang demi kemenangan tim.

Begitu juga dengan birokrasi negara. ASN adalah eksekutor taktik. Berdasarkan UU ASN terbaru (UU No. 20 Tahun 2023), salah satu fungsi utama ASN adalah sebagai pelaksana kebijakan publik. Ketika sebuah kebijakan resmi sudah disahkan, tugas ASN adalah menjalankannya, terlepas dari seberapa riuh kritik di "tribun".

Kapan ASN Harus Netral?

Banyak orang salah kaprah mengira bahwa ASN harus bersikap netral dalam segala hal, termasuk urusan kebijakan negara. Ini adalah miskonsepsi yang sangat umum.

Konsep netralitas ASN itu punya batas wilayah yang jelas. Mari kita bedah.

ASN wajib netral dalam urusan politik praktis. Ini artinya ASN tidak boleh memihak partai politik tertentu, tidak ikut kampanye pemilu/pilkada, dan tidak menggunakan fasilitas negara untuk memenangkan pasangan calon. Netralitas di sini bertujuan agar pelayanan publik tidak diskriminatif.

Namun, terhadap hukum, undang-undang, dan kebijakan resmi pemerintah, ASN TIDAK BOLEH netral.

Sebagai alat negara, ASN secara hukum diwajibkan (loyal) untuk berpihak pada keputusan negara. Bersikap 'netral' atau menolak ikut campur terhadap program pemerintah yang sah justru melanggar Core Values ASN itu sendiri. Ibarat pemain bola tadi, kamu digaji untuk menjalankan taktik pelatih, bukan untuk memihak pada opini penonton.

Pemerintah pusat baru saja mengesahkan undang-undang baru terkait pajak yang memicu demo besar-besaran. Sebagai ASN di kementerian terkait, tindakan mana yang paling tepat?

  • A. Memutuskan untuk tidak ikut campur atau netral karena program tersebut banyak dikritik pakar.
  • B. Ikut memberikan kritik terbuka di media sosial agar kebijakan tersebut dievaluasi.
  • C. Tetap menjalankan tugas untuk menyukseskan program tersebut sesuai porsinya di instansi.
  • D. Menunda pengerjaan tugasnya sampai pro-kontra di masyarakat mereda.

Jawaban: C. Tetap menjalankan tugas untuk menyukseskan program tersebut sesuai porsinya di instansi.

ASN wajib loyal pada kebijakan resmi negara dan menjadi eksekutornya, terlepas dari adanya pro-kontra publik. Netralitas (tidak ikut campur) justru melanggar fungsi ASN sebagai pelaksana kebijakan.

Netralitas ASN hanya berlaku pada politik praktis/pemilu, sedangkan pada kebijakan resmi pemerintah, ASN wajib loyal dan mendukung.

ASN di Tengah Badai Kritik

Kebijakan strategis berskala besar—seperti pemindahan ibu kota, pemotongan subsidi, atau kenaikan pajak—seringkali terasa pahit di awal. Kebijakan ini butuh waktu untuk menunjukkan hasilnya, sehingga sangat wajar jika memicu kritik tajam, kekhawatiran anggaran, atau penolakan dari pakar dan masyarakat.

Dalam situasi krisis atau penuh kritik inilah, Nasionalisme seorang ASN benar-benar diuji.

Bagi aparatur negara, nasionalisme bukan sekadar upacara bendera. Nasionalisme wujudnya adalah loyalitas dalam menjalankan roda pemerintahan. Ketika kebijakan negara diserang badai kritik, tugas ASN bukanlah ikut ragu atau bersembunyi mencari aman.

ASN adalah 'wajah' pemerintah yang berhadapan langsung dengan masyarakat (pelayan publik). Karena itu, langkah yang harus diambil ASN adalah:

  1. Memahami Why (Visi): Menggali alasan dan tujuan jangka panjang dari kebijakan tersebut.

  2. Mensosialisasikan: Menjelaskan visi tersebut ke masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga keraguan publik perlahan berubah menjadi pemahaman.

Pemerintah daerah merelokasi pasar tradisional untuk dibangun bendungan pencegah banjir. Warga sekitar menolak keras. Sikap ideal seorang ASN yang tinggal di lingkungan tersebut adalah...

  • A. Meminta pemerintah membatalkan kebijakan demi meredam amarah warga.
  • B. Mengedukasi warga sekitar mengenai manfaat jangka panjang bendungan tersebut.
  • C. Diam saja karena itu bukan wewenang utamanya sebagai staf biasa.
  • D. Menyarankan warga untuk terus berdemo agar suara mereka didengar.

Jawaban: B. Mengedukasi warga sekitar mengenai manfaat jangka panjang bendungan tersebut.

ASN bertugas sebagai komunikator kebijakan (wajah pemerintah). Mengedukasi masyarakat adalah bentuk nyata loyalitas dan fungsi pelayan publik.

Peran ASN saat kebijakan negara dikritik adalah menjadi agen sosialisasi yang menjelaskan visi jangka panjang pemerintah kepada publik.