Anatomi Puncak Parabola: Bedah Aljabar

Sifat Mutlak Bilangan Kuadrat

Pernahkah kamu menyadari kalau ada satu bentuk matematika yang sifatnya 'keras kepala'? Bentuk itu adalah kuadrat.

Bayangkan sebuah ekspresi seperti $(x-2)^2$. Mau kamu masukin angka $x$ berapa pun ke dalamnya—negatif ekstrem, nol, atau positif sejuta—hasil setelah dikuadratkan pasti positif atau minimal nol ($0$). Hasilnya tidak akan pernah negatif. Sifat dasar inilah yang jadi kunci buat nyari nilai puncak.

Coba balik logikanya. Bayangkan kita punya rumus $10 - (x-2)^2$. Karena bagian $(x-2)^2$ selalu bernilai $0$ atau lebih, dia bertugas sebagai pengurang yang menggerogoti angka $10$. Biar hasil akhirnya maksimal, kita harus bikin pengurangnya sekecil mungkin. Karena gak bisa negatif, nilai paling kecil dari kuadrat adalah $0$.

Kapan pengurangnya jadi $0$? Ya, cuma pas $(x-2) = 0$, alias saat $x = 2$. Logika inilah pondasi utama kita untuk mecahin misteri parabola laser!

Jika kamu memiliki fungsi $f(x) = 15 - (x+3)^2$, berapakah nilai maksimum yang bisa dicapai fungsi tersebut dan pada saat $x$ berapa?

  • A. Maksimum 15 saat x = 3
  • B. Maksimum 15 saat x = -3
  • C. Maksimum 0 saat x = -3
  • D. Maksimum 9 saat x = 3

Jawaban: B. Maksimum 15 saat x = -3

Nilai maksimum 15 dicapai saat pengurangnya bernilai sekecil mungkin (yaitu 0). Kuadrat $(x+3)^2 = 0$ terjadi ketika $x = -3$.

Nilai maksimum dari bentuk $k - a(x-h)^2$ adalah $k$, yang tercapai saat nilai di dalam kurung kuadrat sama dengan nol.

Merekayasa Persamaan Laser

Sekarang, gimana cara pakai logika tadi ke soal laser kita? Fungsi ketinggian laser adalah: $h(t) = -3t^2 + 12t + 15$

Masalahnya, variabel $t$-nya mencar di dua tempat ($t^2$ dan $t$). Kita butuh teknik melengkapkan kuadrat sempurna buat 'membungkus ulang' persamaan ini, supaya semua variabel $t$ ngumpul di dalam satu kurung kuadrat.

Langkah ajaibnya ada di bagian menyisipkan angka $+4$ dan $-4$. Kenapa $4$? Karena untuk bikin kuadrat sempurna $(t-2)^2$, kita butuh ekspresi $t^2 - 4t + 4$. Tapi di matematika, kita gak boleh asal nambahin angka dari langit. Jadi, kalau kita pinjam $+4$, kita harus langsung balikin dengan nambahin $-4$ biar nilainya impas dan persamaan aslinya gak berubah.

Membaca Puncak dari Aljabar

Setelah direkayasa, persamaan ketinggian laser kita berubah wujud jadi jauh lebih informatif: $h(t) = -3(t-2)^2 + 27$, atau biar enak dibaca: $h(t) = 27 - 3(t-2)^2$

Bentuk ini bukan cuma sekadar manipulasi aljabar, tapi langsung membocorkan rahasia kapan laser mencapai puncaknya!

Mengingat konsep awal kita, bentuk $3(t-2)^2$ pasti selalu $\ge 0$. Karena di depannya ada tanda minus, dia berfungsi mengurangi si $27$. Agar ketinggian $h(t)$ maksimal, kita harus mencegah si $27$ dikurangi sedikit pun. Kita butuh pengurangnya jadi $0$.

Kapan itu terjadi? Jelas saat $t - 2 = 0$, yang berarti $t = 2$ detik. Dan boom! Kita dapet jawabannya tanpa perlu ngafal rumus. Saat $t = 2$, pengurangnya lenyap, dan tinggi lasernya mencapai maksimal, yaitu $27$ meter.

Dari bentuk persamaan $h(t) = 40 - 5(t-4)^2$, pada detik keberapakah objek mencapai tinggi maksimumnya?

  • A. Detik ke-5
  • B. Detik ke-40
  • C. Detik ke-4
  • D. Detik ke-8

Jawaban: C. Detik ke-4

Tinggi maksimum tercapai saat pengurang bernilai 0. Bagian $-5(t-4)^2$ menjadi 0 ketika $t = 4$.

Waktu untuk mencapai ketinggian maksimum adalah nilai $t$ yang membuat bagian dalam kurung kuadrat sempurna menjadi nol.