Menyusun Kalimat Bahasa Jepang Dasar

Kata Kerja Selalu di Belakang

Berbeda dengan bahasa Indonesia, kalimat dasar bahasa Jepang selalu diakhiri dengan kata kerja.

Bayangkan kamu baru saja tiba di sekolah dan masuk ke ruang kelas (kyoushitsu / きょうしつ). Di sana, kamu melihat gurumu (sensei / せんせい), lalu ingin menyapa (aisatsushimasu / あいさつします). Dalam tata bahasa Indonesia, kita biasa menyusun kalimat dengan pola Subjek-Predikat-Objek: "Saya (S) menyapa (P) guru (O) di kelas (K)". Namun, tata bahasa Jepang menggunakan aturan yang berbeda.

Diagram analogi kereta api dengan tiga bagian: lokomotif di depan, gerbong tengah kosong, dan gerbong belakang berlabel Kata Kerja di sini!

Kata kerja dalam bahasa Jepang selalu berada di posisi paling belakang. Kita bisa menganalogikan susunan kalimat bahasa Jepang seperti merangkai gerbong kereta api. Lokomotif di barisan depan adalah pengarah kalimat, gerbong penumpang di tengah memuat berbagai keterangan, dan gerbong paling belakang adalah kata kerja yang menjadi mesin pendorong penutup kalimat.

Oleh karena itu, kata kerja aisatsushimasu (あいさつします / menyapa) wajib kamu tempatkan di posisi paling akhir rangkaian kalimat.

Apakah pernyataan berikut benar tentang pola kalimat bahasa Jepang?

  • Kata kerja selalu diletakkan di bagian paling belakang dari sebuah kalimat. — Benar
  • Susunan kalimat bahasa Jepang persis sama dengan tata bahasa Indonesia. — Salah

Dalam tata bahasa Jepang, predikat atau kata kerja selalu menempati bagian paling belakang kalimat. Pola kalimat bahasa Jepang adalah SOV (Subjek-Objek-Predikat), bukan SVO seperti bahasa Indonesia.

Posisi standar kata kerja dalam kalimat tunggal bahasa Jepang

Menentukan Siapa Pelakunya

Partikel 'wa' menempel tepat di belakang subjek atau pelaku utama dalam kalimat.

Dalam bahasa Jepang, Partikel (Joshi) adalah kata bantu pendek yang menempel di belakang kata benda untuk menandai fungsi kata tersebut. Partikel wa (ditulis dengan huruf Hiragana は) berfungsi sebagai penanda topik atau Subjek kalimat—layaknya kepala lokomotif yang memimpin jalannya kereta. Karena tindakan yang dibahas adalah menyapa (aisatsushimasu), kita perlu mencari siapa yang paling logis melakukan tindakan tersebut.

Bagaimana dengan Opsi E (sensei wa watashi ni kyoushitsu de aisatsushimasu)? Secara tata bahasa kalimat tersebut memang sah, tetapi artinya menjadi "Guru menyapa saya di ruang kelas". Dalam situasi umum dan konteks kesopanan sekolah di Jepang, muridlah yang berinisiatif menyapa guru terlebih dahulu. Oleh sebab itu, menempatkan watashi (わたし / saya) sebagai subjek utama dengan pasangan watashi wa (わたし は) adalah pilihan yang paling tepat dan alami.

Jika kamu ingin membuat kalimat 'Kucing makan ikan' dalam bahasa Jepang, kata mana yang seharusnya dipasangkan dengan partikel 'wa' (は)?

  • Kucing
  • Ikan
  • Makan

Jawaban: Kucing

Partikel wa (は) menempel di belakang subjek atau pelaku utama yang melakukan tindakan. Dalam kalimat ini, kucing adalah pelaku yang makan, sehingga dipasangkan menjadi 'kucing wa'. Ikan adalah objek yang dimakan, sedangkan makan adalah kata kerja.

Fungsi partikel wa untuk menandai subjek yang logis

Lokasi dan Sasaran Kegiatan

Partikel 'de' digunakan untuk tempat aktivitas, sedangkan 'ni' untuk orang yang menjadi sasaran tindakan.

Setelah menentukan lokomotif utama di depan, kini kita mengisi gerbong penumpang di tengah kalimat. Gerbong ini berisi keterangan tempat dan sasaran. Setiap keterangan harus ditempeli oleh Partikel (Joshi) yang tepat di belakang katanya agar perannya tidak tertukar:

  1. Partikel de (で) untuk lokasi kegiatan: Menunjukkan tempat berlangsungnya suatu aktivitas fisik. Karena kegiatan menyapa dilakukan di dalam ruang kelas (kyoushitsu / きょうしつ), maka pasangannya adalah kyoushitsu de (きょうしつ で / di ruang kelas).

  2. Partikel ni (に) untuk sasaran tindakan: Menunjukkan target atau orang yang dituju oleh ucapan sapaan kita. Karena salam ditujukan kepada guru (sensei / せんせい), maka pasangannya adalah sensei ni (せんせい に / kepada guru).

Pastikan setiap partikel selalu menempel tepat di belakang kata bendanya masing-masing: kata tempat ditempeli de, sedangkan orang yang menjadi sasaran ditempeli ni.