Membaca Kurva Inflasi & Stagflasi

Mengenal Peta Makro: Sumbu P & Q

Sebelum kita bisa memecahkan misteri inflasi dari soal tadi, kita harus bisa "membaca peta" perekonomiannya dulu. Di ekonomi makro, petanya adalah kurva permintaan dan penawaran agregat (keseluruhan). Jangan pusing lihat garis menyilangnya dulu; fokus ke pinggir-pinggirnya (sumbu X dan Y).

Membaca posisi di kurva ini sebenarnya sesederhana menarik garis lurus dari titik keseimbangan (titik E tempat kurva Demand dan Supply bertemu):

Saat Biaya Produksi Meroket

Sekarang, bayangkan tiba-tiba harga minyak dunia naik gila-gilaan, atau ada gangguan rantai pasok impor. Apa yang terjadi pada pabrik-pabrik di negara kita? Biaya produksi mereka jadi membengkak!

Inilah yang disebut Cost-Push Inflation (inflasi dorongan biaya). Karena bahan baku mahal, modal yang sama cuma bisa buat bikin barang lebih sedikit. Profit perusahaan tergerus, sehingga secara serentak banyak produsen yang ngerem atau mengurangi produksi.

Di atas kertas (kurva), fenomena ngurangin produksi massal ini digambar sebagai bergesernya kurva Supply (S) ke kiri (dari S1 ke S3).

Coba perhatikan titik temu yang baru (E3) akibat pergeseran itu. Tarik garisnya ke sumbu P dan Q:

  1. Sumbu P jadi naik (harga makin mahal karena barang makin langka, produsen terpaksa naikin harga buat tutup ongkos).

  2. Sumbu Q jadi turun (jumlah barang yang beredar beneran menyusut).

Misteri Q yang Turun: Pabrik Sepi!

Nah, apa artinya saat sumbu Q turun di dunia nyata? Kurva di kertas itu bukan sekadar garis; Q yang merosot (dari Q1 ke Q3) artinya pabrik-pabrik lagi memangkas jumlah produksinya secara drastis (kontraksi ekonomi).

Kalau pabrik mengurangi produksi, mesin-mesin dimatikan. Kalau mesin dimatikan, perusahaan tidak butuh pekerja sebanyak sebelumnya. Ujung-ujungnya? PHK massal.

Gerbang pabrik yang ditutup dan digembok Gambar: Des Blenkinsopp, CC BY-SA 2.0 — Wikimedia Commons

Kondisi ini ibarat mimpi buruk buat pemerintah. Bayangin aja: harga bahan pokok lagi mahal-mahalnya (Inflasi), tapi di saat bersamaan orang-orang malah pada di-PHK dan nganggur (Pengangguran naik). Gabungan antara Stagnasi (ekonomi macet) dan Inflasi (harga naik) ini melahirkan monster ekonomi yang disebut Stagflasi.

ilustrasi

Berdasarkan konsep Stagflasi, mengapa turunnya output (Q dari Q1 ke Q3) pada kurva selalu dikaitkan dengan meningkatnya angka pengangguran di dunia nyata?

  • A. Produsen sedang libur panjang musim panas sehingga Q turun sementara.
  • B. Perusahaan memangkas produksi karena biaya bahan baku mahal, sehingga mereka memberhentikan sebagian pekerjanya.
  • C. Masyarakat sengaja mengurangi belanja sehingga pabrik tidak perlu merekrut pekerja baru.
  • D. Sumbu Q menurun berarti harga barang semakin murah, sehingga perusahaan tidak mampu menggaji karyawan.

Jawaban: B. Perusahaan memangkas produksi karena biaya bahan baku mahal, sehingga mereka memberhentikan sebagian pekerjanya.

Q yang turun berarti output total negara merosot akibat mahalnya biaya produksi (S geser ke kiri). Pabrik yang berproduksi lebih sedikit tidak membutuhkan banyak karyawan, sehingga memicu PHK dan naiknya pengangguran (stagflasi).

Penurunan Q pada kurva AD-AS akibat pergeseran Supply ke kiri mencerminkan turunnya kapasitas produksi nyata, yang berakibat langsung pada pengurangan tenaga kerja (naiknya pengangguran).