Tarik Tambang Elektron dalam Molekul
Satu Pasang Sepatu
Pernahkah kamu menghitung jumlah sepatumu? Kalau kamu punya sepatu kiri dan kanan, jumlah sepatunya ada 2 buah. Tapi kalau ditanya berapa pasang, jawabannya adalah 1 pasang, kan?
Hal sepele ini sering bikin kita terjebak saat membicarakan elektron dalam atom!

Mari kita bedah atom Nitrogen (N) pada molekul amonia (NH₃). Atom N berada di Golongan VA, artinya ia punya 5 elektron valensi (elektron terluar yang siap dipakai berikatan).
Dari 5 elektron ini, N "patungan" masing-masing 1 elektron dengan 3 atom Hidrogen (H). Artinya, ada 3 elektron N yang dipakai berikatan. Lalu, berapa sisa elektron N yang "jomblo" alias tidak berikatan dengan H? Sisa elektron = 5 - 3 = 2 elektron bebas.
Jadi, pada atom pusat N di NH₃, hanya terdapat 1 PEB, bukan 2. Pemahaman ini sangat penting karena jumlah PEB bakal menentukan bentuk 3D molekulnya nanti.

Jika suatu atom pusat memiliki 6 elektron valensi dan 4 di antaranya dipakai berikatan dengan atom lain, berapa jumlah Pasangan Elektron Bebas (PEB) yang tersisa?
- A. 4 PEB
- B. 2 PEB
- C. 1 PEB
- D. 0 PEB
Jawaban: C. 1 PEB
Sisa elektron yang tidak dipakai adalah 6 - 4 = 2 elektron. Ingat analogi sepatu, 2 buah elektron membentuk 1 pasang. Jadi ada 1 PEB.
Sisa elektron bebas harus dibagi dua untuk menentukan jumlah Pasangan Elektron Bebas (PEB).
Tarik Tambang Elektron
Bayangkan ikatan kimia kovalen (patungan elektron) itu seperti permainan tarik tambang, di mana tali tambangnya adalah elektron yang sedang dipakai bersama.
Gambar: Joy Agyepong, CC BY-SA 4.0 — Wikimedia Commons
Walaupun namanya "patungan", pembagian elektron ini jarang yang adil. Kenapa? Karena tiap jenis atom punya "otot" alias kekuatan menarik elektron yang beda-beda. Kekuatan otot ini dalam kimia disebut keelektronegatifan.
Dalam ikatan N-H pada amonia, atom Nitrogen (N) punya otot yang lebih kekar (keelektronegatifan N = 3,0) dibanding atom Hidrogen (H = 2,1). Akibatnya, elektron ikatan akan tertarik bergeser mendekati N.
Karena elektron itu bermuatan negatif, penumpukan elektron di sekitar N bikin atom N jadi sedikit bermuatan negatif (parsial negatif, $\delta^-$), sementara H yang ditinggalkan jadi sedikit bermuatan positif (parsial positif, $\delta^+$).
Kondisi punya ujung positif dan negatif ini disebut polar (punya kutub). Jadi, ikatan N-H adalah ikatan kovalen polar.
Seberapa Kuat Tarikannya?
Oke, ikatan N-H itu polar karena tarikannya nggak seimbang. Tapi apakah ini tarikan paling ekstrem yang ada?
Mari berkenalan dengan Momen Dipol, yaitu besaran yang mengukur seberapa ekstrem pembagian elektron yang nggak adil tadi. Ibaratnya, makin jomplang beda ototnya, makin besar momen dipolnya.
Atom Fluor (F) adalah "juara dunia" tarik tambang di tabel periodik (keelektronegatifan 4,0). Coba bandingkan pertarungan N vs H dengan F vs H lewat simulasi berikut!
Pada ikatan N-H: Selisihnya 3,0 - 2,1 = 0,9
Pada ikatan F-H: Selisihnya 4,0 - 2,1 = 1,9
Karena selisih kekuatan F-H jauh lebih besar, elektron di molekul HF terseret sangat ekstrem ke arah F. Hasilnya, kepolaran (atau momen dipol) dari molekul HF lebih tinggi dibandingkan NH₃. Makin tinggi perbedaan keelektronegatifannya, makin tinggi nilai momen dipolnya.
Berdasarkan nilai keelektronegatifan O (3,5) dan C (2,5), ikatan mana yang memiliki momen dipol lebih besar jika dibandingkan dengan ikatan C-H (H = 2,1)?
- A. C-O, karena beda keelektronegatifannya 1,0
- B. C-H, karena atom H sangat kecil
- C. Sama besar karena C adalah atom pusat
- D. C-O, karena oksigen lebih ringan
Jawaban: A. C-O, karena beda keelektronegatifannya 1,0
Selisih keelektronegatifan C-O = 3,5 - 2,5 = 1,0. Selisih C-H = 2,5 - 2,1 = 0,4. Makin besar selisih kekuatan tarik-menariknya, makin besar momen dipol ikatan tersebut.
Besar momen dipol ikatan berbanding lurus dengan selisih keelektronegatifan antara dua atom yang berikatan.