Bongkar Majas: Kata Kunci Penakluk Puisi

Jangan Terkecoh Suasana Puisi

Pernah baca kalimat puitis kayak "Angin membisikkan rahasia malam"? Kalau kita cuma fokus ke betapa indahnya kata "rahasia malam", kita bakal gampang terkecoh waktu ditanya gaya bahasa (majas) apa yang dipakai.

Di dalam puisi, majas itu bukan sekadar soal kata-kata romantis atau suasana yang dramatis. Rahasia buat nemuin majas—terutama dalam puisi—adalah dengan mengamati relasi antara Subjek dan Kata Kerjanya.

ilustrasi

Coba kita bedah kalimat tadi. Subjeknya adalah "Angin" (benda mati). Tapi, lihat kata kerjanya: "membisikkan". Di sinilah kejanggalan logika terjadi! Secara logika nyata, benda mati nggak punya mulut buat berbisik. Kejanggalan inilah letak di mana majasnya bersembunyi.

Saat kamu menganalisis kalimat *"Ombak laut mengamuk menghantam karang"*, di bagian mana kita bisa menemukan petunjuk utama bahwa majas sedang digunakan?

  • A. Pada kata "laut" yang mewakili keindahan alam yang luas.
  • B. Pada ketidakcocokan antara subjek "ombak" dan aksi manusiawi "mengamuk".
  • C. Pada kata "karang" yang membuktikan bahwa itu adalah benda mati.
  • D. Pada penggunaan gaya bahasa yang bernada keras dan seram.

Jawaban: B. Pada ketidakcocokan antara subjek "ombak" dan aksi manusiawi "mengamuk".

Fokuslah pada relasi subjek dan kata kerjanya. Ombak (benda mati) disifati melakukan aksi 'mengamuk' (emosi/tindakan manusia). Inilah inti majasnya.

Majas (terutama personifikasi) dalam puisi ditemukan pada ketidakcocokan logika antara subjek (benda mati) dan kata kerja (aksi makhluk hidup).

Personifikasi: Benda Mati Jadi 'Manusia'

Kata "Personifikasi" berasal dari kata dasar persona, yang artinya manusia. Majas ini bekerja dengan cara memberi sifat, niat, atau bahkan organ tubuh manusia kepada benda mati atau kekuatan alam.

ilustrasi

Kuncinya sederhana: temukan benda mati yang bertingkah seolah ia punya nyawa dan emosi.

Misalnya pada kalimat "Awan menangis". Awan adalah benda mati (kumpulan uap air). Tapi "menangis" adalah aksi emosional makhluk hidup. Karena si awan disifati bisa bersedih dan menangis layaknya manusia, maka ini jelas adalah majas Personifikasi.

Mengingat kata kunci Personifikasi adalah "benda mati yang bertingkah seperti manusia", manakah dari kalimat berikut yang merupakan contoh Personifikasi yang tepat?

  • A. Hatiku hancur berkeping-keping saat mendengar kabarnya.
  • B. Suaranya selembut sutra sutra terbaik dari negeri timur.
  • C. Motor tuaku menjerit kelelahan saat mendaki tanjakan curam itu.
  • D. Aku sudah mengingatkanmu sejuta kali tentang hal ini!

Jawaban: C. Motor tuaku menjerit kelelahan saat mendaki tanjakan curam itu.

Motor tua adalah benda mati, sedangkan 'menjerit kelelahan' adalah sifat manusia/makhluk hidup. Ini adalah personifikasi. Opsi A dan D adalah hiperbola, sedangkan B adalah simile.

Personifikasi bekerja dengan cara memberi sifat atau aksi manusia pada benda mati.

Hiperbola: Si Paling 'Lebay'

Banyak yang sering tertukar, "Kalau awan menangis kan nggak mungkin terjadi di dunia nyata, berarti itu Hiperbola dong?" Nah, ini miskonsepsi yang umum banget. Sesuatu yang "tidak mungkin" belum tentu hiperbola.

Bedanya ada di skala. Personifikasi mengubah hakikat (benda mati seolah jadi hidup). Sedangkan Hiperbola mengubah ukuran atau skala menjadi mustahil dan lebay (berlebihan).

Coba bandingin tiga tingkatan ini:

  1. Kalimat biasa: Hujan deras turun dari awan hitam. (Fakta)

  2. Personifikasi: Awan hitam itu menangis sedih. (Awan diberi emosi dan sifat manusiawi)

  3. Hiperbola: Air matanya membanjiri kota sampai setinggi gunung. (Skalanya dibesar-besarkan secara berlebihan sampai tidak masuk akal sehat)

Jadi, kata kunci buat Hiperbola adalah skala lebay. Kalau cuma sekadar bilang "menangis" itu personifikasi, tapi kalau nangisnya "sampai bikin lautan", nah itu baru hiperbola!

Tentukan apakah pernyataan berikut Benar atau Salah dalam membedakan Hiperbola dan Personifikasi!

  • Kalimat 'Matahari tersenyum menyapa pagi' adalah contoh mutlak dari hiperbola karena matahari tidak mungkin tersenyum. — Salah
  • Hiperbola berfokus pada melebih-lebihkan skala atau ukuran suatu kejadian hingga menjadi sangat mustahil. — Benar

Kalimat pertama adalah Personifikasi karena memberi sifat manusia pada benda mati, skalanya tidak dilebih-lebihkan. Pernyataan kedua benar, Hiperbola cirinya adalah membesarkan ukuran/skala menjadi lebay/mustahil.

Hiperbola berfokus pada skala yang dilebih-lebihkan secara ekstrem, bukan sekadar 'sesuatu yang mustahil/tidak masuk akal' seperti personifikasi.