Jejak Evolusi di Balik Garis Wallace & Weber
Jejak Purba Jembatan Pasang-Surut
Penurunan permukaan laut saat Zaman Es (Glasial) menyatukan sebagian kepulauan Indonesia dengan benua Asia dan Australia.
Banyak orang mengira bentuk peta kepulauan Indonesia sejak dahulu kala selalu persis seperti yang kita lihat di peta modern. Faktanya, bentang daratan Nusantara mengalami perubahan dramatis seiring siklus iklim global. Pada zaman glasial purba, sebagian besar volume air dunia membeku menjadi tudung es raksasa di kutub, menyebabkan permukaan laut global menyusut drastis.
Gambar: Christophe cagé, CC BY-SA 3.0 — Wikimedia Commons
Laut-laut dangkal di kawasan barat mengering dan membuka jembatan daratan raksasa yang disebut Paparan Sunda, menyatukan pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan langsung ke daratan utama benua Asia. Di saat yang sama, laut dangkal di bagian timur juga mengering menjadi Paparan Sahul, menyatukan daratan Papua langsung dengan Australia.
Sebuah fosil harimau purba ditemukan di daratan pulau yang saat ini terpisah 100 kilometer dari benua utama oleh perairan laut dangkal. Bagaimana harimau tersebut bisa mencapai pulau tersebut pada masa lalu?
- Menyeberang saat pulau itu masih menyatu dengan benua akibat penyusutan air laut.
- Berenang melintasi lautan lepas sejauh ratusan kilometer antarbenua.
- Dibawa oleh manusia purba menggunakan rakit penyeberangan kayu.
- Berevolusi secara mandiri dari jenis hewan air menjadi harimau di pulau tersebut.
Jawaban: Menyeberang saat pulau itu masih menyatu dengan benua akibat penyusutan air laut.
Saat zaman es, permukaan air laut menyusut drastis sehingga laut dangkal mengering menjadi jembatan darat yang dilintasi oleh mamalia besar seperti harimau. Harimau tidak berenang melintasi laut lepas sejauh ratusan kilometer, tidak dibawa oleh rakit manusia purba, dan harimau adalah mamalia darat yang tidak berevolusi langsung dari hewan air di pulau tersebut.
Turunnya permukaan air laut memungkinkan migrasi hewan dari benua ke kepulauan yang sebelumnya terpisah.
Misteri Pulau Karantina Wallacea
Wilayah laut dalam di Indonesia bagian tengah menjebak hewan di pulau-pulau terisolasi sehingga mereka berevolusi menjadi spesies endemik yang unik.
Di antara Paparan Sunda dan Paparan Sahul terbentang kawasan kepulauan tengah—dikenal sebagai kawasan Wallacea—yang mencakup pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Nusa Tenggara. Berbeda dari laut dangkal Sunda atau Sahul, perairan yang mengelilingi Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya berupa palung laut yang sangat dalam.

Bahkan ketika permukaan laut turun paling rendah sekalipun pada puncak zaman es, palung laut dalam ini tidak pernah mengering. Akibatnya, pulau-pulau di wilayah Wallacea tidak pernah tersambung menjadi daratan terusan dengan Asia maupun Australia. Satwa purba yang entah bagaimana berhasil menyeberangi celah sempit di masa lampau akhirnya terperangkap di sana laksana berada di Pulau Karantina.
Menelusuri Garis Wallace dan Garis Weber
Garis Wallace membatasi persebaran terjauh fauna Asia ke timur, sedangkan Garis Weber membatasi penyebaran fauna Australia ke barat.
Dua garis biogeografis imajiner ini sering disalahartikan seolah-olah memiliki fungsi yang sama atau dianggap sebagai tembok pembatas mutlak. Padahal, keduanya mencerminkan titik jangkauan maksimal penyebaran fauna dari dua benua induk yang berbeda serta mengapit sebuah gradasi ekologis yang dinamis.

Mari kita bedah perbedaan posisi dan maknanya di kawasan kepulauan Nusantara:
Garis Wallace: Melintas di antara Kalimantan dan Sulawesi serta membelah selat sempit antara Bali dan Lombok. Garis ini menandai batas terjauh penyebaran fauna bertipe Asiatis ke arah timur (Opsi A benar). Di sebelah timur garis ini, mamalia darat plasental besar seperti harimau dan gajah Asia tidak lagi mampu menyeberang secara alami.
Garis Weber: Terletak jauh di timur kawasan Wallacea (di perairan Maluku dan Laut Banda). Garis ini menandai batas penetrasi terjauh fauna bertipe Australia ke arah barat, bukan pembatas fauna Asiatis (Opsi D salah).
Zona Transisi: Wilayah di antara kedua garis ini, termasuk kepulauan Nusa Tenggara, merupakan zona transisi percampuran. Pola sebarannya bergradasi halus: semakin bergerak ke arah timur menuju Papua, komposisi jenis hewan berkantung dan burung khas Australia ditemukan semakin dominan (Opsi C benar).
Dua kelompok monyet dari satu spesies nenek moyang terpisahkan oleh terbentuknya palung laut yang tidak pernah mengering. Jutaan tahun kemudian, sebuah pergeseran lempeng mempertemukan kembali habitat mereka. Apa yang kemungkinan besar terjadi pada kedua kelompok monyet tersebut?
- Mereka langsung berbaur kembali tanpa ada kendala reproduksi sama sekali.
- Salah satu kelompok langsung punah akibat kompetisi di habitat yang sama.
- Mereka tidak bisa saling kawin lagi karena telah berevolusi menjadi dua spesies berbeda.
- Mereka tidak mengalami perubahan fisik maupun genetik karena waktu jutaan tahun belum cukup.
Jawaban: Mereka tidak bisa saling kawin lagi karena telah berevolusi menjadi dua spesies berbeda.
Isolasi geografis jutaan tahun tanpa aliran gen menyebabkan akumulasi perbedaan genetik hingga terjadi spesiasi (pembentukan spesies baru). Akibatnya, saat bertemu kembali, isolasi reproduksi membuat mereka tidak dapat saling kawin. Mereka tidak otomatis kembali seperti nenek moyang atau langsung punah seketika, dan waktu jutaan tahun sangat cukup untuk spesiasi.
Isolasi geografis yang berkelanjutan memicu evolusi mandiri (spesiasi).