Biaya Peluang: Yang Hilang Saat Memilih

Awal Mula: Keterbatasan

Keterbatasan waktu dan uang memaksa kita untuk memilih hanya satu kegiatan pada satu waktu.

Remaja sedang menatap jam dinding kamar pada pukul 8 malam sambil memikirkan pilihan aktivitas.

Bayangkan kamu memiliki waktu luang selama 2 jam di malam hari. Waktu ini ibarat sebuah kupon tunggal: begitu kupon tersebut kamu pakai untuk satu kegiatan, kupon itu langsung hangus dan tidak bisa dipakai lagi untuk kegiatan lain.

Keinginan kita sebenarnya banyak—bisa main game, nongkrong bareng teman, atau maraton nonton film. Namun, karena kita tidak punya kemampuan menggandakan diri, kelangkaan waktu luang ini memaksa kita mengambil keputusan dan merelakan kegiatan lainnya.

Bukan Ditotal, Pilih Satu!

Biaya peluang hanyalah nilai dari alternatif terbaik yang ditinggalkan, bukan gabungan seluruh alternatif yang batal dilakukan.

Misalkan dalam 2 jam waktu luang tadi, kamu menyusun tiga kegiatan favorit secara berurutan:

  1. Pilihan Pertama: Nonton bioskop

  2. Pilihan Kedua: Belajar buat ujian besok

  3. Pilihan Ketiga: Tidur

Ketika kamu memutuskan pergi menonton bioskop, kamu memang batal belajar dan batal tidur. Namun, apakah biaya peluangmu adalah kehilangan waktu belajar ditambah tidur? Bukan!

Alasannya sederhana: seandainya kamu tidak jadi nonton bioskop, kamu tetap tidak bisa belajar sekaligus tidur dalam rentang 2 jam yang sama. Hal terbaik berikutnya yang sebetulnya akan kamu jalani hanyalah Pilihan Kedua (belajar). Pilihan ketiga (tidur) sejak awal memang sudah gugur karena kalah prioritas dari belajar.

Inilah alasan mendasar mengapa pada soal, Opsi A mendefinisikan biaya peluang sebagai nilai alternatif terbaik yang dikorbankan, bukan akumulasi dari seluruh alternatif yang tidak dipilih.

Kamu mendapat tiga tawaran pekerjaan paruh waktu untuk mengisi liburan: Jaga Toko (gaji Rp 100.000), Admin Sosmed (gaji Rp 150.000), atau Tutor (gaji Rp 180.000). Karena jadwal bentrok, kamu memutuskan mengambil pekerjaan sebagai Tutor. Berapakah biaya peluang dari keputusanmu?

  • Rp 100.000 (menjadi Jaga Toko)
  • Rp 150.000 (menjadi Admin Sosmed)
  • Rp 180.000 (menjadi Tutor)
  • Rp 250.000 (gabungan Toko dan Sosmed)

Jawaban: Rp 150.000 (menjadi Admin Sosmed)

Biaya peluang adalah nilai dari satu alternatif terbaik yang tidak dipilih. Dari dua opsi yang dikorbankan (Admin Sosmed Rp 150rb dan Jaga Toko Rp 100rb), alternatif terbaik yang dilepaskan adalah menjadi Admin Sosmed seharga Rp 150rb, bukan penjumlahannya (Rp 250rb) dan bukan nilai yang dipilih (Rp 180rb).

Biaya peluang adalah satu opsi terbaik yang ditinggalkan, bukan akumulasi semua opsi yang tidak dipilih.

Beda 'Biaya' di Pikiran dan Dompet

Biaya peluang tidak sama dengan uang yang benar-benar dikeluarkan untuk membeli barang, apalagi utang.

Diagram perbandingan Biaya Eksplisit dan Biaya Peluang.

Dalam percakapan harian, kata "biaya" sering diasosiasikan dengan uang tunai yang keluar dari dompet atau rekening saat membayar kasir. Dalam ekonomi, uang keluar ini disebut sebagai biaya eksplisit (Opsi D pada soal). Sebaliknya, biaya peluang mengukur hilangnya manfaat atau kesempatan yang gagal kamu peroleh akibat memilih jalan lain—bahkan tanpa ada transaksi uang sama sekali.

Memahami esensi pengorbanan kesempatan ini membantu kita memilah pilihan lain pada soal:

Tentukan apakah pernyataan berikut Benar atau Salah mengenai konsep biaya dalam ekonomi:

  • Biaya peluang adalah nominal uang yang kita setorkan saat membeli suatu barang. — Salah
  • Biaya peluang mengharuskan kita menanggung sejumlah utang akibat keputusan yang diambil. — Salah
  • Manfaat terbaik yang hilang karena kita tidak memilihnya adalah definisi biaya peluang. — Benar

Nominal uang yang disetorkan saat bertransaksi adalah biaya eksplisit, bukan biaya peluang. Biaya peluang juga bukan timbulnya utang atau kewajiban finansial. Definisi presisi dari biaya peluang adalah nilai manfaat terbaik yang hilang karena tidak dipilih.

Biaya peluang berbeda dengan biaya eksplisit dan bukan merupakan utang finansial.