3 Babak Pergerakan Nasional

Babak 1: Bangun dari Tidur (1908-1920)

Bayangkan Indonesia sebelum abad ke-20 seperti tokoh pahlawan di film yang selalu kalah di babak awal. Kenapa? Karena perlawanan saat itu masih bersifat fisik, sporadis, dan kedaerahan (cuma mikirin daerahnya sendiri). Belanda gampang banget mematahkan perlawanan kalau pahlawannya maju sendiri-sendiri bawa keris atau bambu runcing.

Nah, tahun 1908 menjadi titik balik di mana tokoh-tokoh kita "bangun dari tidur" dan menyadari sebuah plot twist: cara lama sudah nggak mempan. Untuk melawan penjajah yang modern, kita juga butuh cara modern, yaitu lewat pemikiran, pendidikan, dan organisasi.

ilustrasi

Berdirinya Budi Utomo di tahun 1908 ibarat episode pengenalan (start) di mana para pelajar mulai membentuk organisasi nasional pertama. Meskipun awalnya masih fokus pada pendidikan dan kebudayaan untuk kalangan tertentu, ini adalah blueprint bagi perjuangan selanjutnya.

Setelah itu, bermunculanlah organisasi besar lain yang semakin memperkuat pergerakan. Ada Sarekat Islam (SI) yang menggunakan agama dan ekonomi untuk menyatukan massa secara luas, serta Indische Partij yang dengan berani mulai menyuarakan ide kesetaraan dan kemerdekaan untuk semua orang di Hindia Belanda. Di babak awal ini, fokus utama adalah membangun kesadaran identitas. Mereka belum terlalu frontal atau ngajak ribut penjajah; mereka masih bersiap-siap.

Babak 2: Ngegas & Frontal (1920-1930)

Setelah bertahun-tahun mencoba bersabar dan menggalang kesadaran, masuklah kita ke babak konflik yang memanas. Di era 1920-an, tokoh-tokoh pergerakan mulai merasa frustrasi. Mereka merasa perubahan yang dijanjikan Belanda (lewat Dewan Rakyat/Volksraad) berjalan sangat lambat dan sekadar basa-basi.

Karena frustrasi, organisasi-organisasi baru memilih jalan yang radikal dan non-kooperatif. Artinya, mereka secara tegas ogah bekerja sama dengan pemerintah kolonial dan menolak duduk di kursi pemerintahan buatan Belanda.

ilustrasi

Lahir partai-partai beraliran keras seperti PKI, Perhimpunan Indonesia (PI), dan PNI (Partai Nasional Indonesia yang didirikan Soekarno). Slogan mereka jelas dan tanpa tedeng aling-aling: "Merdeka sekarang juga!"

Tentu saja, pemerintah kolonial Belanda yang kaget merespons dengan tangan besi. Bagi Belanda, aksi ngegas ini adalah ancaman keamanan. Akibatnya, banyak tokoh pergerakan (termasuk Soekarno, Hatta, Sjahrir) ditangkap, dipenjara, atau dibuang ke tempat pengasingan terpencil.

Papua Boven Digoel Gambar: Bennylin, CC BY-SA 3.0 — Wikimedia Commons

Salah satu tempat pengasingan paling menyeramkan yang dipakai Belanda untuk membungkam tokoh radikal adalah Boven Digoel di Papua (seperti peta di atas). Represi gila-gilaan ini sukses membungkam taktik non-kooperatif, dan memaksa pergerakan masuk ke babak baru.

ilustrasi

Kenapa pada periode 1920-1930 tokoh pergerakan memilih taktik non-kooperatif (radikal) dan menolak bekerja sama dengan Belanda?

  • A. Karena pemerintah kolonial Belanda memberikan kebebasan berpendapat
  • B. Karena tokoh pergerakan merasa frustrasi dengan lambatnya perubahan dan ingin kemerdekaan segera
  • C. Karena mereka ingin menghindari krisis ekonomi global yang sedang melanda
  • D. Karena Belanda mengizinkan mereka membentuk Volksraad

Jawaban: B. Karena tokoh pergerakan merasa frustrasi dengan lambatnya perubahan dan ingin kemerdekaan segera

Tokoh pergerakan di masa ini memilih jalan keras dan menolak kerja sama (non-kooperatif) karena frustrasi melihat janji-janji Belanda yang lambat terealisasi. Mereka menuntut kemerdekaan saat itu juga!

Frustrasi terhadap kelambanan Belanda memicu fase perlawanan radikal dan non-kooperatif.

Babak 3: Taktik Bertahan Sambil Menyerang (1930-1942)

Setelah tokoh-tokoh radikal ditangkapi dan diasingkan, jalannya pergerakan masuk ke mode bertahan (survival). Banyak yang mengira memilih taktik moderat berarti pergerakan nasional menyerah pada Belanda. Padahal, menjadi moderat BUKAN berarti menyerah, melainkan sebuah taktik cerdas agar perjuangan tetap hidup di tengah badai.

Di tahun 1930-an, ada 2 badai besar yang menghantam Indonesia:

  1. Malaise 1929: Krisis ekonomi global yang menghancurkan perekonomian, membuat rakyat makin menderita.

  2. Represi Gubernur Jenderal De Jonge: Pejabat Belanda ini super otoriter dan tidak segan-segan membredel organisasi atau membuang orang ke pengasingan tanpa proses pengadilan.

Biar organisasi tidak dibubarkan dan tetap bisa memperjuangkan nasib rakyat yang kelaparan, tokoh-tokoh pergerakan memilih taktik kooperatif (bekerja sama). Organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi memutuskan untuk masuk dan berjuang dari dalam sistem melalui Volksraad (semacam DPR bikinan Belanda).

Gedung Volksraad Batavia Gambar: Unknown author, CC BY-SA 3.0 — Wikimedia Commons

Gedung Volksraad di Batavia (Jakarta) menjadi saksi bisu para tokoh nasional beradu argumen secara "resmi" dan menuntut otonomi atau pemerintahan mandiri.

Berdasarkan taktik di era 1930-an, tentukan apakah pernyataan berikut Sesuai atau Tidak Sesuai dengan fakta sejarah!

  • Tokoh pergerakan menjadi moderat karena mereka sudah menyerah pada cita-cita kemerdekaan. — Tidak Sesuai
  • Taktik moderat dipilih sebagai strategi bertahan agar organisasi tidak dibubarkan oleh Gubernur Jenderal yang represif. — Sesuai
  • Masa moderat ini berakhir ketika krisis ekonomi global (Malaise) selesai di tahun 1942. — Tidak Sesuai

Moderat bukan berarti menyerah, melainkan taktik cerdas untuk *survive* dari represi De Jonge. Masa ini tamat di 1942 bukan karena krisis ekonomi usai, tapi karena kedatangan Jepang yang mengusir Belanda.

Taktik moderat adalah strategi bertahan hidup dari represi Belanda dan krisis, yang berakhir dengan kedatangan Jepang di 1942.