Faktor Fisik Penentu Keanekaragaman Hayati

Lebih dari Sekadar 'Banyak Hewan'

Kalau kamu dengar kata "keanekaragaman hayati", mungkin yang terbayang di pikiran adalah hutan yang dipenuhi berbagai macam satwa liar. Tapi ternyata, di dunia biologi, keanekaragaman hayati itu bukan cuma tentang seberapa panjang daftar spesies yang ada di suatu tempat.

Coba bayangkan sebuah pulau yang punya 100 jenis burung berbeda. Wow, kelihatannya sangat beragam! Tapi tunggu dulu, bagaimana kalau 99% burung di pulau itu adalah burung dara, sedangkan 99 jenis lainnya sangat langka dan hampir tidak pernah terlihat? Dalam hitungan ekologi, kondisi seperti ini belum disebut sebagai keanekaragaman yang tinggi atau ideal.

Keanekaragaman hayati yang sejati mencakup tiga tingkat:

  1. Gen: Variasi sifat bawaan antar individu dalam satu spesies yang sama (misal: perbedaan warna bulu pada populasi burung dara tadi).

  2. Jenis (Spesies): Banyaknya kelompok spesies yang berbeda di suatu kawasan (Species Richness).

  3. Ekosistem: Variasi habitat tempat makhluk-makhluk ini tinggal.

Nah, kriteria penting untuk menilai apakah keanekaragaman spesies di suatu tempat itu "tinggi" ada dua hal:

Sebuah pulau memiliki 50 jenis burung. Namun, 95% dari total populasi burung di pulau tersebut adalah burung gereja, sedangkan 49 jenis lainnya sangat jarang ditemui. Apakah pulau ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi?

  • A. Ya, karena jumlah jenis burungnya (50 jenis) sudah cukup banyak.
  • B. Ya, karena burung gereja memiliki populasi yang kuat dan sehat.
  • C. Tidak, karena perbandingan populasinya sangat tidak seimbang dan didominasi oleh satu jenis.
  • D. Tidak, karena keanekaragaman hayati hanya diukur dari variasi genetik saja.

Jawaban: C. Tidak, karena perbandingan populasinya sangat tidak seimbang dan didominasi oleh satu jenis.

Keanekaragaman yang ideal bukan hanya soal banyak jenis (richness), tapi juga bagaimana jumlah individu tersebar merata antar jenis-jenis tersebut (evenness). Kalau didominasi satu jenis, keanekaragamannya dihitung rendah.

Keanekaragaman spesies yang tinggi menuntut jumlah jenis yang banyak DAN persebaran individu yang seimbang antar jenis.

Kenapa Hutan Tropis Sangat Ramai?

Sekarang kita sudah tahu seperti apa kondisi keanekaragaman yang tinggi. Pertanyaannya, apa yang membuat suatu tempat bisa punya banyak spesies yang populasinya seimbang, sementara tempat lain sepi? Jawabannya ada pada panggung kehidupannya, alias lingkungan fisik (abiotik).

Banyak yang sering mengira faktor alam seperti iklim, hujan, dan suhu adalah hal yang terpisah dari makhluk hidup. Padahal, faktor fisik inilah yang menjadi "bos penentu" berapa banyak spesies yang bisa numpang hidup di sana.

Bayangkan lingkungan fisik yang stabil sepanjang tahun, tanpa musim kemarau ekstrem, dan curah hujan selalu tinggi (seperti Hutan Hujan Tropis). Kondisi ini sangat ramah bagi tumbuhan. Tumbuhan bisa berbunga dan berbuah lebat tanpa henti. Karena makanannya selalu ada, herbivora bisa hidup tenang. Kehadiran herbivora kemudian memancing para predator karnivora untuk ikut menetap. Ekosistem ini memiliki "stres lingkungan" yang sangat minim. Semakin stabil alamnya, semakin banyak pemain yang bisa berbagi peran tanpa perlu bersusah payah memikirkan cara ekstrem bertahan hidup.

Hutan hujan tropis yang lebat, basah, hijau, dan kaya akan sumber daya Gambar: Guilhem Vellut, CC BY 2.0 — Wikimedia Commons

Coba bandingkan dengan gurun pasir. Cuacanya luar biasa panas di siang hari, dingin menusuk di malam hari, dan curah hujan sangat fluktuatif (jarang turun, tapi kalau turun bisa banjir seketika).

Ekosistem gurun yang tandus dengan lingkungan yang berfluktuasi ekstrem Gambar: Ramesh Lalwani, CC BY-SA 4.0 — Wikimedia Commons

Ini adalah lingkungan yang sangat "keras". Tingkat stresnya amat tinggi. Makhluk hidup di sini harus berjuang melawan cuaca ekstrem, bukan cuma mencari makan. Karena itu, hanya segelintir spesies istimewa (seperti kaktus dengan jaring akarnya atau hewan nokturnal yang bisa menyimpan air) yang sanggup bertahan hidup di panggung yang tidak stabil ini.

Tentukan apakah pernyataan berikut Benar atau Salah berdasarkan hubungan antara kondisi iklim dan kekayaan makhluk hidup!

  • Iklim yang stabil dan curah hujan tinggi menjamin ketersediaan makanan yang stabil, yang kemudian memungkinkan ekosistem mendukung beragam spesies. — Benar
  • Spesies di lingkungan dengan cuaca ekstrem (seperti gurun) biasanya lebih beraneka ragam karena tingkat kompetisi mencari makanan lebih rendah. — Salah
  • Faktor fisik (abiotik) berada di luar sistem komunitas biologis sehingga tidak menentukan batas maksimum jumlah jenis makhluk hidup di suatu wilayah. — Salah

Lingkungan fisik sangat krusial menentukan keanekaragaman (Pernyataan 3 salah). Ekosistem ekstrem memiliki stres yang tinggi sehingga hanya sedikit spesies spesialis yang bisa bertahan (Pernyataan 2 salah). Iklim stabil berarti banyak sumber daya (Pernyataan 1 benar).

Faktor abiotik yang stabil meminimalkan stres lingkungan, sehingga menyediakan kapasitas daya dukung yang lebih tinggi bagi banyak ragam makhluk hidup.

Analisis: Wilayah 1 vs Wilayah 2

Sekarang kita bawa pemahaman tentang stabilitas iklim dan species evenness ke dalam contoh perbandingan kasus seperti yang sering muncul. Ada dua wilayah dengan kondisi yang sangat kontras:

Mari kita bedah alur sebab-akibatnya. Di Wilayah 1, cuaca yang selalu "baik" berarti tidak ada ancaman kekeringan mendadak atau musim beku. Hewan dan tumbuhan tidak perlu stres. Sumber daya (makanan dan air) terus-menerus mengalir. Kondisi ini membuat berbagai jenis hewan dan tumbuhan bebas bersaing dengan imbang, beradaptasi dengan peran-peran spesifik (ada yang di dahan atas, ada yang di semak), dan berkembang biak tanpa takut cuaca ekstrem. Hasil akhirnya? Keanekaragaman sangat tinggi.

Di sisi lain, kehidupan di Wilayah 2 bagai perlombaan daya tahan tubuh ekstrem. Karena hujan fluktuatif, makanan kadang melimpah kadang lenyap. Spesies yang butuh makan terus tiap hari, atau tidak punya kulit tebal, atau tidak bisa hibernasi/menyimpan air pasti akan mati kelaparan atau kehausan. Alam menyeleksi dengan sangat keras, meninggalkan hanya spesies tangguh. Dengan sedikitnya "kursi bertahan hidup" yang tersedia, maka tingkat keanekaragamannya cenderung lebih rendah.

Berdasarkan logika stabilitas lingkungan yang telah kita bahas, apa kemungkinan yang akan terjadi jika Wilayah 1 (yang awalnya stabil) tiba-tiba mengalami fluktuasi musim yang sangat ekstrem selama puluhan tahun?

  • A. Keanekaragaman jenis hayati akan semakin meningkat karena munculnya tantangan dan peluang baru bagi makhluk hidup.
  • B. Jumlah total individu akan meningkat drastis secara bersamaan pada semua jenis yang ada.
  • C. Spesies yang tidak sanggup beradaptasi menahan cuaca ekstrem akan punah atau pergi, menurunkan nilai keanekaragaman total.
  • D. Keadaan fisik lingkungan tidak akan menyebabkan dampak jangka panjang, ekosistem akan memulihkan populasinya.

Jawaban: C. Spesies yang tidak sanggup beradaptasi menahan cuaca ekstrem akan punah atau pergi, menurunkan nilai keanekaragaman total.

Fluktuasi musim ekstrem menciptakan tingkat stres yang sangat keras. Hewan dan tumbuhan yang sebelumnya "dimanja" iklim stabil tidak akan bertahan, sehingga banyak jenis akan punah lokal, mengakibatkan merosotnya angka kekayaan jenis.

Stabilitas fisik (abiotik) berbanding lurus dengan kemampuan ekosistem menampung dan mempertahankan keanekaragaman jenis hayati.