Kalimat Efektif: Jebakan Pemborosan Kata

Sabuk dan Tali Selempang

Pernahkah kamu melihat orang yang memakai ikat pinggang (sabuk) sekaligus tali selempang (suspender) di celananya?

ilustrasi

Keduanya punya fungsi yang persis sama: menahan celana agar tidak melorot. Memakai keduanya sekaligus bukan bikin celana "makin kuat menempel", tapi justru berlebihan, mubazir, dan aneh dilihat.

Dalam bahasa Indonesia, menumpuk kata-kata yang punya fungsi atau makna yang sama persis ini disebut pleonasme atau pemborosan kata. Banyak yang mengira menumpuk kata bersinonim akan mempertegas atau memperjelas makna, padahal dalam aturan kalimat efektif tidak begitu.

Satu makna atau fungsi cukup diwakili oleh satu kata yang paling tepat.

Berdasarkan analogi sabuk dan tali selempang, mengapa menumpuk kata yang bermakna sama membuat kalimat menjadi tidak efektif?

  • A. Karena akan mengubah pesan dan makna asli dari kalimat tersebut.
  • B. Karena menciptakan pemborosan yang mubazir tanpa menambah kejelasan makna.
  • C. Karena pembaca akan kesulitan membedakan mana subjek dan predikat kalimat.
  • D. Karena menyalahi aturan tata bahasa mengenai penggunaan kata sifat.

Jawaban: B. Karena menciptakan pemborosan yang mubazir tanpa menambah kejelasan makna.

Sama seperti sabuk dan suspender yang fungsinya sama persis, kata bersinonim yang ditumpuk hanya akan menyebabkan pemborosan kata (pleonasme) tanpa menambah informasi baru.

Menumpuk kata yang bermakna sama (pleonasme) bukanlah penegas makna, melainkan sebuah pemborosan yang membuat kalimat tidak efektif.

Segera vs Bergegas

Sekarang, mari kita terapkan prinsip tadi ke soal. Kita bedah frasa "segera bergegas". Kenapa ini termasuk pemborosan?

Mari kita lihat makna masing-masing kata:

Kalau kamu menggabungkannya menjadi "segera bergegas", secara harfiah kamu sedang bilang "cepat-cepat berjalan cepat-cepat". Ini jelas sebuah tumpang tindih makna yang boros dan tidak efisien!

Manakah dari kalimat berikut yang memiliki kasus pemborosan kata (pleonasme) akibat tumpang tindih makna kata?

  • A. Ia hanya sekadar mampir ke rumah temannya.
  • B. Ia datang terlambat karena kehujanan.
  • C. Para siswa berlari kencang menuju lapangan.
  • D. Ibu membeli berbagai macam buah-buahan di pasar.

Jawaban: A. Ia hanya sekadar mampir ke rumah temannya.

Kata 'hanya' dan 'sekadar' memiliki makna yang sama (sinonim). Menggunakan keduanya secara bersamaan adalah bentuk pemborosan kata (pleonasme) yang mirip dengan 'segera bergegas'.

Dua kata yang bersinonim jika digabungkan dalam satu frasa akan menimbulkan pleonasme leksikal.

Menuju vs Ke

Jebakan pemborosan berikutnya di soal adalah penggunaan frasa "menuju ke". Kenapa ini tidak logis secara bahasa?

Kata "menuju" adalah kata kerja yang di dalamnya sudah memiliki arti dasar "pergi ke arah".

Coba bayangkan jika kita tambahkan kata "ke" persis setelahnya. Maknanya akan menjadi berulang, yaitu "pergi ke arah ke lapangan apel". Kata depan (preposisi) penunjuk arah tidak perlu didobel jika kata kerja sebelumnya sudah mengandung makna arah tersebut.

Untuk membuat kalimat di soal menjadi efektif, kamu cukup menggunakan salah satu: "menuju lapangan apel" (tanpa ke) ATAU "bergegas ke lapangan apel" (tanpa menuju).

Tentukan apakah penggunaan penunjuk arah pada frasa berikut ini merupakan pemborosan atau efektif!

  • Maju ke depan — Pemborosan
  • Pergi ke pasar — Efektif
  • Turun ke bawah — Pemborosan

'Maju' sudah pasti ke depan, dan 'turun' sudah pasti ke bawah. Menambahkan arah lagi adalah pleonasme. Sedangkan 'pergi' belum jelas arahnya, sehingga butuh 'ke pasar'.

Kata kerja yang sudah mengandung makna arah (maju, turun) tidak perlu lagi diikuti oleh preposisi arah (ke depan, ke bawah).