Biaya Peluang: Bukan Sekadar Uang Tunai

Memilih = Mengorbankan Sesuatu

Setiap hari kita selalu dihadapkan pada pilihan. Tapi, pernahkah kamu sadar bahwa setiap kali kamu memilih sesuatu, kamu otomatis kehilangan sesuatu yang lain?

Bayangkan kamu punya uang pas-pasan dan harus memilih secara mutlak: beli skin game favorit ATAU nongkrong minum kopi sama teman-teman. Kamu tidak bisa melakukan keduanya karena uang sakumu terbatas (dalam ekonomi, ini disebut kelangkaan).

Kalau kamu akhirnya memutuskan untuk membeli skin game:

Jika sumber daya (uang/waktu) kita tidak terbatas, biaya peluang tidak akan pernah ada karena kita bisa memilih semuanya. Tapi di dunia nyata, memilih A berarti merelakan B.

ilustrasi

Tentu saja, "biaya" dalam kacamata ekonomi tidak melulu soal perasaan atau waktu yang hilang, tapi juga sering berwujud barang nyata yang batal kita nikmati.

Bayangkan kamu punya waktu luang 2 jam. Kamu bisa memakainya untuk tidur siang ATAU menonton episode terbaru anime favoritmu. Jika kamu memutuskan untuk tidur siang, apa biaya peluang dari keputusanmu?

  • A. Rasa segar setelah bangun tidur siang
  • B. Hilangnya kesempatan menikmati episode terbaru anime
  • C. Waktu luang 2 jam yang terbuang
  • D. Tagihan listrik atau kuota karena menyalakan kipas angin saat tidur

Jawaban: B. Hilangnya kesempatan menikmati episode terbaru anime

Biaya peluang adalah alternatif terbaik yang tidak jadi kamu pilih. Rasa segar (A) adalah manfaat/benefit yang kamu dapat, waktu (C) adalah sumber daya, sementara kesempatan nonton anime (B) adalah alternatif yang dikorbankan.

Biaya peluang (opportunity cost) adalah nilai dari alternatif terbaik yang harus dikorbankan saat membuat pilihan.

Akuntansi vs Ekonomi (Kacamata Kasir vs Realita)

Ketika kita membeli sesuatu, kita sering berpikir bahwa "biaya"-nya adalah sejumlah uang yang kita bayarkan. Misalnya, uang jajanmu habis untuk membeli satu porsi burger seharga Rp30.000 (alih-alih membeli es krim yang juga sangat kamu pengen).

Bagi seorang kasir, biaya dari burger tersebut ya lembaran uang Rp30.000 itu. Kasir hanya peduli pada uang fisik yang berpindah tangan. Dalam ilmu ekonomi, uang yang benar-benar keluar dari dompetmu ini disebut Biaya Eksplisit (atau biaya akuntansi).

Tapi, coba pakai kacamata ekonom. Ekonom melihat uang hanyalah alat tukar. Saat uangmu sebesar Rp30.000 itu habis diserahkan ke kasir burger, daya beli dari uang itu ikut hilang.

Biaya eksplisit adalah biaya di atas kertas, sementara biaya peluang adalah wujud realita dari alternatif yang hilang. Keduanya berbeda, dan dalam soal ekonomi, kita sering dituntut untuk melihat menggunakan kacamata ekonom, bukan kasir.

Tentukan apakah pernyataan berikut mengacu pada Biaya Eksplisit (Kacamata Kasir) atau Biaya Peluang (Kacamata Ekonom).

  • Uang tunai Rp150.000 yang kamu bayarkan untuk membeli sepatu. — Biaya Eksplisit
  • Satu buah tas punggung yang batal kamu beli karena uangnya dipakai beli sepatu. — Biaya Peluang

Uang yang benar-benar keluar dari dompet disebut biaya eksplisit, sementara barang/jasa lain yang batal didapat karena uangnya habis disebut biaya peluang.

Biaya eksplisit adalah uang riil yang dibayarkan, sedangkan biaya peluang adalah nilai barang/jasa alternatif yang hilang.

Menerjemahkan Uang Jadi Barang

Setelah tahu bahwa biaya peluang adalah bentuk trade-off (pengorbanan barang/jasa lain), muncul pertanyaan baru: gimana cara menghitung nilai pasti dari pengorbanan itu jika ada angka harganya?

Dalam soal-soal ekonomi atau manajemen uang saku sehari-hari, kita tidak selalu mengorbankan barang dalam jumlah yang sama (satu banding satu). Di sinilah label harga berguna untuk menerjemahkan uang menjadi kuantitas barang yang dikorbankan.

Misalnya begini, uang jajan bulananmu sisa Rp100.000. Kamu punya dua opsi:

Jika kamu nekat membeli skin game, uang Rp100.000 yang kamu bayarkan itu secara matematika setara dengan 4 gelas kopi ($Rp100.000 \div Rp25.000 = 4$).

Artinya, setiap keputusan untuk menekan tombol "beli" pada 1 skin game, biaya peluangnya adalah 4 gelas kopi yang harus kamu relakan. Angka pengorbanan ini didapat murni dari menghitung rasio harga barang yang dipilih dibandingkan barang yang ditinggalkan.

Dengan menerjemahkan uang ke dalam unit barang lain, kita bisa mengukur persis seberapa "mahal" keputusan yang kita ambil.

Kamu punya uang jajan Rp150.000. Harga langganan Netflix sebulan adalah Rp50.000, sedangkan harga minuman boba adalah Rp25.000 per gelas. Jika kamu memutuskan untuk berlangganan Netflix, secara hitungan berapa biaya peluangmu dalam bentuk minuman boba?

  • A. 1 boba drink
  • B. 2 boba drink
  • C. 3 boba drink
  • D. 4 boba drink

Jawaban: B. 2 boba drink

Biaya peluang secara kuantitas dihitung dari rasio harga. Harga Netflix Rp50.000 dibagi harga boba Rp25.000 = 2 boba drink yang harus dikorbankan.

Jumlah barang alternatif yang dikorbankan dihitung dengan membagi harga barang yang dipilih dengan harga alternatifnya.