Pertumbuhan yang Tersesat: Akromegali
Sinyal yang Tak Kunjung Berhenti
Sistem endokrin kita bekerja mirip seperti stasiun pemancar radio. Kelenjar hipofisis (pituitari) yang letaknya tersembunyi di dasar otak bertindak sebagai menara pemancar utama, sedangkan Growth Hormone (GH) alias hormon pertumbuhan adalah gelombang sinyal yang dipancarkannya.

Hormon tidak berjalan lewat kabel saraf khusus, melainkan menumpang aliran darah. Karena darah mengalir ke setiap sudut tubuh, "sinyal" GH ini otomatis menyentuh tulang, otot, hingga jaringan organ dalam secara bersamaan. Normalnya, produksi sinyal ini diatur dengan ketat sesuai kebutuhan tubuh.
Namun, pada Pasien B, terdapat tumor jinak di kelenjar hipofisisnya. Tumor ini bertingkah seperti mesin siaran yang rusak dan tidak bisa dimatikan—ia terus-menerus memproduksi dan menyemburkan sinyal GH dalam jumlah masif tanpa henti. Akibatnya, darah membawa banjir hormon "perintah tumbuh" ke segala arah setiap saat, mengacaukan keseimbangan seluruh tubuh.
Mengapa tumor yang hanya berada di kelenjar hipofisis (di otak) dapat menyebabkan komplikasi di seluruh tubuh, seperti pembesaran tulang dan pembengkakan organ dalam?
- A. Hormon mengalir melalui saraf khusus yang terhubung langsung dari otak ke organ target.
- B. Kelenjar hipofisis membesar dan secara fisik menekan organ-organ lain hingga rusak.
- C. Hormon pertumbuhan (GH) menumpang aliran darah sehingga dapat mencapai dan memengaruhi hampir semua jaringan tubuh.
- D. Sinyal hormon tertahan di otak dan merusak pembuluh darah pusat sebelum mencapai organ lain.
Jawaban: C. Hormon pertumbuhan (GH) menumpang aliran darah sehingga dapat mencapai dan memengaruhi hampir semua jaringan tubuh.
Sistem endokrin tidak memiliki saluran khusus; hormon seperti GH disekresikan langsung ke pembuluh darah dan beredar secara sistemik ke seluruh tubuh.
Hormon diedarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah, sehingga gangguan pada satu kelenjar pusat berdampak pada banyak organ.
Pintu Tulang yang Terkunci
Waktu menebak Pasien B mengalami gigantisme, mungkin hal pertama yang terlintas adalah, "Kalau hormon pertumbuhannya melimpah ruah, orangnya pasti bakal tumbuh tinggi raksasa." Logika ini benar terjadi pada Pasien A (remaja 15 tahun), tapi keliru jika diterapkan pada Pasien B yang sudah berumur 38 tahun. Kenapa beda efeknya?
Kuncinya ada pada cakram epifisis (pintu pertumbuhan) yang ada di setiap ujung tulang panjang manusia.
Pada anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, cakram epifisis (terbuat dari tulang rawan) masih berwujud celah yang terbuka. Sinyal GH ekstra akan mendorong tulang tumbuh memanjang ke atas tanpa ampun, memicu Gigantisme.
Namun, saat manusia melewati masa pubertas dan dewasa, cakram ini mengeras menjadi tulang padat yang menyatu. Celahnya tertutup dan terkunci secara permanen.
Saat pintu ke atas sudah terkunci rapat, tulang yang terus dibombardir GH berlebih tak lagi punya ruang untuk bertambah panjang. Akhirnya, sisa sel di jaringan tulang merespons dengan tumbuh menebal ke samping. Penebalan abnormal ekstremitas inilah yang membuat jari tangan membesar (cincin tak muat), ukuran sepatu bertambah lebar, dan rahang makin menonjol—kondisi khas yang kita sebut Akromegali.
Berdasarkan status pertumbuhannya, mengapa kelebihan hormon GH pada Pasien B (38 tahun) menyebabkan ukuran tangan dan wajah membesar, bukannya membuat ia bertambah tinggi secara ekstrem?
- A. GH yang dihasilkan saat dewasa kualitasnya berbeda dan hanya berfungsi untuk melebarkan tulang.
- B. Cakram epifisis pada ujung tulang orang dewasa telah menutup permanen, sehingga dorongan GH membuat tulang menebal.
- C. Tulang orang dewasa tidak memiliki reseptor GH sama sekali, sehingga otot yang membesar menarik tulang ke samping.
- D. Orang dewasa memproduksi kalsium lebih banyak sehingga mencegah pemanjangan tulang.
Jawaban: B. Cakram epifisis pada ujung tulang orang dewasa telah menutup permanen, sehingga dorongan GH membuat tulang menebal.
Pada orang dewasa, lempeng/cakram epifisis sebagai area pertumbuhan memanjang sudah mengeras menjadi tulang. Sisa jaringan yang masih bisa merespons GH hanyalah jaringan pembentuk tulang yang arahnya ke samping (penebalan).
Akromegali terjadi pada orang dewasa karena cakram epifisis sudah menutup, sehingga tulang menebal ke samping, bukan memanjang (gigantisme).
Saat Jantung Ikut Membengkak
Masalah dari tumor hipofisis ini jauh lebih dalam ketimbang sekadar ukuran sepatu yang membesar. Target dari Growth Hormone (GH) bukan semata-mata sistem rangka. Ketika tulang sudah menolak untuk memanjang, hormon yang menumpuk di darah ini mulai 'merangsang' sel-sel di jaringan lunak dan organ dalam untuk terus berkembang.
Gambar: BruceBlaus, CC BY-SA 4.0 — Wikimedia Commons
Otot jantung adalah salah satu organ yang sangat sensitif terhadap perintah GH. Paparan hormon dalam dosis masif dan durasi panjang memicu kondisi hipertrofi, di mana dinding otot jantung dipaksa menebal dan membesar secara abnormal.
Penebalan otot yang tak terkendali ini membuat bayangan jantung ikut membesar (membengkak), sebuah kondisi klinis yang disebut kardiomegali. Bahayanya, jantung yang kebesaran ini ototnya menjadi lebih kaku. Ruang pompanya justru menyempit sehingga efisiensinya dalam memompa darah menurun drastis. Jika dibiarkan berlarut-larut, pembengkakan ini akan melemahkan jantung secara permanen dan berujung pada gagal jantung fatal. Komplikasi ini adalah salah satu penyumbang angka kematian tertinggi pada pasien akromegali.