Merakit Kalimat Jepang dari Nol
Lokomotif di Akhir
Dalam tata bahasa standar bahasa Jepang, kata kerja selalu ditempatkan di posisi paling akhir kalimat.
Bayangkan sebuah kalimat bahasa Jepang seperti rangkaian gerbong kereta api. Dalam bahasa Indonesia, urutan normal yang sering kita temui adalah Subjek - Predikat - Objek (S-P-O), contohnya: "Saya membeli payung". Kata kerja berada di tengah, memisahkan pelaku dan barang yang dibeli.
Namun, dalam bahasa Jepang, predikat (kata kerja) berperan seperti lokomotif penutup yang berada di paling belakang. Tugasnya bukan menarik dari depan atau menyelip di tengah, melainkan menjadi penentu akhir dari seluruh rangkaian kalimat. Struktur dasarnya adalah S-O-P (Subjek - Objek - Predikat).
Jika melihat pilihan kata pada soal:
Kata かいます (kaimasu / B) berarti membeli, yang merupakan predikat (kata kerja).
Karena perannya adalah lokomotif penutup, posisi B pasti berada di ujung paling akhir kalimat.
Pengait Gerbong
Partikel menempel persis setelah kata benda untuk menentukan fungsinya sebagai subjek, tempat, atau objek.
Jika kata kerja adalah lokomotif di ujung belakang, apa yang menentukan peran kata-kata lainnya? Jawabannya adalah partikel. Dalam analogi kereta api, partikel adalah pengait yang menempel langsung di belakang kata benda agar kata tersebut memiliki peran yang jelas di dalam kalimat.
Mari kita telaah kata beserta partikel dari soal:
わたしは (watashi wa / C): Kata watashi (saya) ditempeli partikel wa, menandainya sebagai subjek atau topik pembicaraan. Gerbong subjek ini secara standar diletakkan paling depan.
みせで (mise de / E): Kata mise (toko) ditempeli partikel de, menandai tempat terjadinya suatu aktivitas (di toko).
かさを (kasa o / D): Kata kasa (payung) ditempeli partikel o, menandai benda tersebut sebagai objek yang dikenai perbuatan (membeli payung).
Dalam susunan tertulis standar bahasa Jepang, urutan yang paling berterima dan rapi setelah Subjek adalah Keterangan Tempat, baru kemudian Objek.
Bagaimana susunan frasa yang paling tepat untuk menyatakan 'membaca buku' (hon: buku, yomimasu: membaca)?
- yomimasu o hon
- hon o yomimasu
- hon wa yomimasu
- yomimasu wa hon
Jawaban: hon o yomimasu
Dalam bahasa Jepang, objek penderita diberi pengait partikel 'o' (hon o), dan kata kerja/predikat selalu diletakkan di akhir (yomimasu), sehingga urutan yang tepat adalah 'hon o yomimasu'. Pilihan A dan D salah karena menaruh kata kerja di depan objek (pola bahasa Indonesia). Pilihan C keliru menggunakan partikel 'wa' yang berfungsi menandai topik/subjek, bukan objek tindakan.
Fungsi partikel penanda objek sebelum kata kerja.
Sifat Menempel di Depan
Kata sifat dalam bahasa Jepang harus diletakkan persis sebelum kata benda yang diterangkannya (Aturan Menerangkan-Diterangkan).
Di dalam bahasa Indonesia, kita menggunakan aturan Diterangkan-Menerangkan (DM). Benda disebut terlebih dahulu, baru diikuti sifatnya:
payung (benda) + ungu (sifat penjelas) $\rightarrow$ payung ungu
Sebaliknya, tata bahasa Jepang menggunakan Aturan MD (Menerangkan-Diterangkan). Penjelas atau kata sifat wajib ditaruh persis di depan kata benda yang dijelaskannya:
むらさきいろの (murasakiiro no / A = berwarna ungu) mendahului かさを (kasa o / D = payung).
Gabungan yang benar adalah むらさきいろの かさを (A $\rightarrow$ D).
Tentukan kebenaran susunan kata benda dan kata sifat berikut berdasarkan tata bahasa Jepang!
- ookii kuruma — Benar
- kuruma ookii — Salah
Bahasa Jepang menganut aturan MD (Menerangkan-Diterangkan). Kata sifat 'ookii' (besar) harus diletakkan persis di depan kata benda 'kuruma' (mobil), sehingga 'ookii kuruma' bernilai Benar. Sebaliknya, 'kuruma ookii' mengikuti pola DM bahasa Indonesia dan bernilai Salah dalam tata bahasa frasa benda bahasa Jepang.
Aturan MD (Menerangkan-Diterangkan) untuk menggabungkan kata sifat dan kata benda.