Menebak Sikap Penulis: Apatis vs Kritis
Apatis = Bodo Amat, Bukan Menolak
Dari pilihan jawaban soal, kamu sebelumnya memilih "Cenderung apatis". Banyak orang sering keliru mengira bahwa bersikap apatis itu sama dengan mengkritik, sinis, atau menolak keras suatu hal. Padahal, maknanya justru kebalikan total!
Mari kita bedah asal katanya. Apatis berasal dari bahasa Yunani: awalan a- yang berarti "tidak", dan pathos yang berarti "perasaan". Jadi, apatis secara harfiah berarti tidak ada perasaan simpati, tidak peduli, atau masa bodoh.

Dalam teks soal, penulis membandingkan minimnya pendapatan tambang versus pertanian, lalu dengan tegas menuntut agar penyelamatan sumber air diprioritaskan. Orang yang menyodorkan argumen dan tuntutan sekuat ini mustahil bersikap apatis. Dia sangat peduli, dan itulah yang membuatnya menentang keras eksploitasi tersebut.

Jika seorang penulis mendeskripsikan suatu kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, lalu ia menutup teks dengan kalimat 'Biarlah waktu yang menjawab, lagipula masalah ini bukan urusan kita', sikap penulis tersebut paling tepat disebut...
- A. Mengkritik keras
- B. Apatis
- C. Sangat peduli
- D. Menentang kebijakan
Jawaban: B. Apatis
Kalimat 'bukan urusan kita' dan 'biarlah waktu yang menjawab' menunjukkan ketiadaan rasa peduli atau masa bodoh, yang merupakan definisi dari apatis.
Apatis berarti tidak peduli dan lepas tangan dari suatu masalah, bukan menentangnya.
Spektrum Emosi Penulis (Glosarium Sikap)
Kalau penulis tidak bersikap apatis, lalu bedanya apa dengan ragu atau pesimistis? Sikap penulis dalam sebuah teks (tone) bisa kita ukur dari dua hal: tingkat keterlibatannya (kepedulian) dan harapannya terhadap suatu isu.
Berikut adalah bedah spektrum sikap yang sering muncul di opsi soal:
Sangat Menentang (Oposisi Aktif): Penulis tidak sekadar melihat masalah, tapi ia aktif melawan dengan menyajikan argumen tandingan dan menuntut perubahan. (Sama seperti penulis di teks soal kita).
Agak Pesimistis (Kehilangan Harapan): Penulis melihat dampak buruk dan peduli, tapi ia merasa pasrah seolah tidak ada jalan keluar. Contoh kalimatnya: "Sia-sia saja kita berharap krisis air akan selesai jika praktik lama terus berulang."
Cukup Ragu (Bimbang/Netral): Penulis melihat sisi positif dan negatif secara bersamaan, sehingga kebingungan memihak. Contoh kalimatnya: "Pertambangan memang merusak sumber air, namun di sisi lain kita butuh bahan baku, hal ini menjadi dilema."
Manakah dari kutipan kalimat berikut yang paling jelas menunjukkan sikap penulis yang **Agak pesimistis**?
- A. "Kita harus segera menghentikan proyek ini sebelum kerusakan semakin parah!"
- B. "Kerusakan alam ini memang menyedihkan, tapi rasanya sudah terlambat dan percuma saja kita mencoba memperbaikinya."
- C. "Saya bingung apakah proyek ini akan membawa manfaat ekonomi atau justru malapetaka ekologi."
- D. "Biarkan saja proyek ini berjalan, toh itu bukan urusan saya."
Jawaban: B. "Kerusakan alam ini memang menyedihkan, tapi rasanya sudah terlambat dan percuma saja kita mencoba memperbaikinya."
Pilihan B menunjukkan kepedulian ('menyedihkan') tapi diikuti kepasrahan ('percuma saja'), yang merupakan ciri utama sikap pesimistis. Opsi A = menentang, C = ragu, D = apatis.
Sikap pesimistis ditandai dengan kesadaran akan masalah, namun diikuti oleh rasa pasrah dan hilangnya harapan.
Menyinkronkan Diksi dengan Sikap
Kamu sebelumnya punya intuisi yang sangat baik saat menyadari bahwa kalimat "justru mengeringkan harapan" dan "harus diprioritaskan ketimbang eksploitasi" berfungsi untuk menunjukkan penolakan tegas.
Tugas kita sekarang adalah menautkan hasil analisis teksmu itu dengan kosakata sikap yang tepat di opsi jawaban.
Kalimat "Penyelamatan sumber daya air harus diprioritaskan..." bukanlah keluhan biasa—itu adalah sebuah tuntutan mutlak.
Setiap kali kamu melihat penulis memberikan saran kuat, mendesak sebuah kebijakan, atau menawarkan solusi alternatif sebagai penutup teks yang mengkritik, kuncinya selalu mengarah ke sikap yang paling aktif: Sangat menentang atau Sangat mengkritik. Penulis yang bersikap apatis atau sekadar pesimis tidak akan repot-repot merumuskan tuntutan sekeras itu.
Tentukan apakah pernyataan berikut Benar atau Salah berdasarkan penggunaan diksi dan tuntutan dalam teks!
- Penggunaan kata 'justru' dan 'harus diprioritaskan' menunjukkan bahwa penulis bersikap pasif dan menerima keadaan. — Salah
- Adanya kalimat yang menawarkan solusi atau tuntutan kuat di akhir teks merupakan penanda sikap aktif (seperti menentang atau mendukung keras). — Benar
Kata 'justru' dan 'harus' adalah diksi aktif yang menunjukkan tuntutan kuat, sehingga tidak mungkin pasif. Adanya tuntutan di akhir paragraf selalu menjadi ciri khas sikap tegas seperti mendukung penuh atau menolak keras.
Tuntutan dan kata-kata bersentimen negatif yang tajam adalah bukti kuat bahwa penulis mengambil sikap aktif menentang, bukan bersikap pasif.