Nilai Integritas: Peduli, Adil, atau Partisipatif?
Ronda Malam: Integritas Level RT
Waktu denger kata integritas, wajar banget kalau yang kepikiran pertama kali adalah "kejujuran" atau "konsistensi antara omongan dan perbuatan di dalam hati". Itu nggak salah. Tapi, di soal TWK CPNS/Kedinasan, integritas punya dimensi yang lebih luas: integritas sosial.
Coba bayangkan negaramu itu seperti lingkungan RT tempat kamu tinggal.

Kalau ada maling ayam (alias korupsi) yang lagi beraksi, warga yang berintegritas nggak akan cuma mengunci pintu rumah rapat-rapat dan membatin, "Yang penting aku nggak ikutan nyuri."
Integritas di ranah sosial butuh aksi nyata. Tindakan warga yang mau keluar rumah, ikut ronda malam, nyari tahu sumber suara berisik, atau melapor ke Pak RT—itulah wujud nyata dari integritas sosial. Kamu nggak cuma menjaga diri sendiri bersih, tapi juga ikut andil menjaga lingkungan sekitarmu bersih dari masalah.
Bedanya Peduli, Adil & Partisipatif
Banyak yang sering ketukar pas ngerjain soal antara nilai Peduli, Adil, dan Partisipatif. Wajar kok, soalnya ketiganya sama-sama "sikap baik". Biar gampang ngerjain soalnya, kita bedah perbedaannya lewat fokus tindakannya.
Intinya ada di domain apa subjek dalam cerita tersebut bertindak:
Nilai Peduli (Domain Perasaan/Empati): Kamu merasa sedih, kasihan, atau prihatin saat melihat fasilitas panti asuhan terbengkalai karena anggarannya disunat. Fokusnya di rasa iba.
Nilai Adil (Domain Pikiran/Cara Menilai): Kalau ternyata yang korupsi itu adalah sahabatmu sendiri, kamu tetap menganggapnya salah dan harus diproses hukum. Fokusnya di objektivitas dan tidak pilih kasih.
Nilai Partisipatif (Domain Tindakan/Aksi Nyata): Kamu nggak cuma kasihan atau batin "ini salah", tapi kamu aktif mencermati, mengkritik, mengawasi, atau melaporkan kejanggalan itu. Fokusnya di turun tangan mengawasi.

Saat Tono melihat jalan desanya rusak parah, ia merasa iba melihat anak-anak SD kesulitan melintas. Namun, Tono tidak hanya diam; ia memfoto kerusakan itu dan melaporkannya lewat aplikasi aduan warga. Tindakan *melaporkan* yang dilakukan Tono ini masuk ke dalam nilai integritas apa?
- A. Peduli
- B. Adil
- C. Partisipatif
- D. Independen
Jawaban: C. Partisipatif
Rasa kasihan Tono adalah bentuk 'Peduli', tapi tindakan nyatanya yang memfoto dan melapor ke Pemda adalah bentuk pengawasan aktif atau 'Partisipatif'.
Membedakan nilai rasa kasihan (peduli) dengan tindakan pengawasan/pelaporan (partisipatif).
Kenapa Jawabannya Partisipatif?
Sekarang mari kita bawa konsep tadi untuk membongkar soal yang baru aja kamu kerjakan. Kenapa kok jawabannya bisa Keterbukaan Partisipatif?
Coba perhatikan baik-baik kata kerja (verb) yang dilakukan warga di dalam teks soal: warga tersebut secara aktif "melihat permasalahan" dan "mencermati tingkat korupsi".
Tindakan warga yang ikut campur mengawasi urusan negaranya ini murni disebut sebagai partisipasi.
Nah, dalam sistem pemerintahan dan pemberantasan korupsi (misalnya oleh KPK), agar warga bisa ikut mengawasi dengan baik, negara juga wajib membuka akses informasi yang seluas-luasnya. Perpaduan antara negara yang membuka data dan warga yang aktif mengawasi inilah yang melahirkan sebuah nilai penting bernama Keterbukaan Partisipatif.
Jadi rumus logikanya: Warga yang kritis = Warga yang berpartisipasi (Partisipatif).
Berdasarkan konsep 'Keterbukaan Partisipatif', tentukan apakah pernyataan berikut ini Benar atau Salah!
- Keterbukaan partisipatif sudah tercapai apabila pemerintah sekadar mengunggah dokumen tanpa butuh respons warga. — Salah
- Warga yang aktif mencari tahu, membaca APBD, dan melaporkan dugaan korupsi sedang menerapkan keterbukaan partisipatif. — Benar
Keterbukaan partisipatif butuh dua sisi: negara yang transparan (buka data) dan warganya yang tidak pasif, melainkan ikut mengawasi atau merespons.
Keterbukaan Partisipatif adalah kombinasi transparansi (negara) dan pengawasan aktif (warga).