Menjinakkan Kelangkaan: Kuota vs Jatah

Skenario Kelangkaan (Review Kuota)

Bayangkan negara kita lagi krisis minyak goreng, dan pemerintah memutuskan untuk membatasi jumlah minyak goreng yang boleh diimpor dari luar negeri. Kebijakan ini disebut kuota impor.

Apa yang terjadi di lapangan? Toko-toko tiba-tiba kehabisan stok karena barang yang masuk (sisi Penawaran atau Supply) disusutkan paksa oleh aturan. Tapi, karena nggak ada aturan siapa yang boleh beli, orang-orang bebas memborong minyak goreng sisa di toko.

ilustrasi

Akibatnya bisa ditebak: hukum tarik-menarik pasar bekerja. Pembeli saling berebut, dan yang punya uang lebih banyak rela bayar lebih mahal. Di sinilah letak efek utama kuota: karena jumlah barang di pasar dibatasi tapi pembeli bebas bersaing, harga barang yang langka itu akan meroket naik.

ilustrasi

Jika pemerintah memberlakukan kuota ketat pada impor minyak goreng, apa konsekuensi logis yang akan terjadi di pasar domestik?

  • A. Jumlah barang yang diminta masyarakat ikut berkurang.
  • B. Harga minyak goreng akan turun secara drastis.
  • C. Harga barang naik karena pembeli saling berebut pasokan yang sedikit.
  • D. Distribusi barang menjadi lebih merata ke semua kalangan.

Jawaban: C. Harga barang naik karena pembeli saling berebut pasokan yang sedikit.

Kuota impor hanya membatasi pasokan, sementara pembeli bebas membeli. Persaingan antar pembeli untuk barang yang sedikit akan mendorong harga naik.

Kuota impor membatasi sisi penawaran dan memicu kenaikan harga karena persaingan pembeli tidak dibatasi.

Sistem Jatah: Mengerem Pembeli

Sekarang, gimana kalau pemerintah pakai cara yang berbeda? Misal, pemerintah pakai aplikasi (seperti MyPertamina) atau kupon sembako di mana tiap orang cuma boleh beli maksimal 2 liter minyak goreng sebulan. Ini disebut sistem jatah atau rationing.

Bedanya dengan kuota, sistem jatah nggak fokus membatasi jumlah barang yang masuk ke toko. Kebijakan ini justru langsung menargetkan pembeli alias sisi Permintaan (Demand-side).

Pemerintah 'mengerem' keinginan orang untuk beli banyak-banyak, agar distribusi lebih merata ke semua orang. Walaupun barangnya mungkin tetap langka, penyalurannya jadi lebih terkontrol karena orang kaya nggak bisa memborong semuanya.

Fokus utama dari sistem jatah (rationing) untuk mengatasi kelangkaan adalah...

  • A. Membatasi jumlah barang yang diproduksi pabrik.
  • B. Membatasi jumlah barang yang boleh dikonsumsi oleh tiap individu.
  • C. Menaikkan harga jual barang agar orang tidak jadi membeli.
  • D. Menambah kuota impor agar stok kembali penuh.

Jawaban: B. Membatasi jumlah barang yang boleh dikonsumsi oleh tiap individu.

Sistem jatah bekerja di sisi permintaan dengan cara membatasi seberapa banyak tiap orang boleh membeli, misalnya lewat sistem kupon atau penjatahan digital.

Sistem jatah membatasi sisi permintaan dengan mengontrol jumlah konsumsi tiap individu.

Siapa yang Bikin Harga Stabil?

Sering muncul pertanyaan: Kenapa sistem jatah lebih sering dipakai saat krisis di dalam negeri dibanding kuota? Jawabannya ada pada pergerakan harga.

Ingat skenario pertama tadi: di sistem kuota, barangnya sedikit tapi pembeli nggak dibatasi. Orang kaya bisa borong semua barang, makanya terjadi perang harga yang bikin harga naik gila-gilaan.

Tapi di sistem jatah, situasinya beda. Secantik atau sekaya apa pun kamu, kamu nggak bisa beli lebih dari jatah/kupon pribadimu. Karena nggak ada yang bisa memborong, total permintaan di pasar berhasil ditekan sehingga seimbang dengan jumlah barang yang tersedia.

Hasilnya, harga barang bisa dijaga agar tetap stabil alias nggak melonjak tajam. Makanya, kalau pemerintah pengen barang kebutuhan pokok tetap bisa dibeli rakyat kecil tanpa harganya meledak, sistem jatah adalah pilihan yang lebih masuk akal.

Mengapa sistem jatah (rationing) bisa menjaga harga barang tetap stabil di tengah kelangkaan?

  • A. Karena pemerintah memberikan subsidi penuh kepada produsen.
  • B. Karena sistem jatah justru menambah jumlah barang di pasar.
  • C. Karena sistem jatah mencegah aksi borong sehingga permintaan tidak melampaui persediaan.
  • D. Karena penjual dilarang mencari keuntungan sama sekali.

Jawaban: C. Karena sistem jatah mencegah aksi borong sehingga permintaan tidak melampaui persediaan.

Dengan membatasi pembelian per individu, sistem jatah mematikan 'perang harga' atau aksi borong, sehingga tekanan yang membuat harga naik bisa dihilangkan.

Sistem jatah menjaga kestabilan harga dengan menghilangkan persaingan daya beli antar konsumen.