Nasionalisme Berdaulat: Antara Tegas dan Ekstrem

Batas Antara Mandiri dan Menutup Diri

Bayangkan kamu punya rumah sendiri di sebuah kompleks perumahan. Rumah ini punya aturan mainnya sendiri—kapan gerbang dikunci, warna cat apa yang dipakai, dan siapa yang boleh masuk. Aturan ini adalah kedaulatan kamu sebagai pemilik rumah.

Tapi, namanya juga hidup bertetangga, kamu pasti bakal berinteraksi sama orang lain. Gimana cara kamu nyikapin tetangga-tetanggamu ini? Secara umum, ada tiga jenis sikap yang bisa kamu ambil:

  1. Sikap 'Ekstrem' (Menutup Diri): Kamu ngebangun tembok setinggi lima meter dengan kawat berduri. Kamu nggak mau ikut campur urusan RT, apalagi dengerin masukan tetangga, karena merasa rumahmu paling suci dan nggak butuh siapa-siapa. Hasilnya? Saat rumahmu kebanjiran atau kemalingan, nggak ada satu pun tetangga yang mau bantu. Kamu terisolasi.

  2. Sikap 'Submisif' (Terlalu Nunduk): Demi disukai semua orang, kamu rela nggak pasang pintu. Waktu tetangga nyuruh kamu ganti cat rumah atau ngatur jam tidurmu, kamu nurut-nurut aja. Hasilnya? Kamu kehilangan identitas dan kendali atas rumahmu sendiri. Kamu jadi keset.

  3. Sikap 'Asertif' (Berdaulat): Kamu ikut gotong royong, nongkrong di pos ronda, dan dengerin saran tetangga. Tapi, kalau ada tetangga yang tiba-tiba masuk ke dapurmu dan maksa kamu ganti menu makanan seenaknya, kamu dengan tegas nolak dan ngajak diskusi baik-baik di teras.

ilustrasi

Melihat ilustrasi di atas, rumah ketiga adalah bentuk hubungan ideal yang sehat. Kamu mandiri, tapi tetap terkoneksi. Konsep keseimbangan inilah yang jadi fondasi cara suatu negara seharusnya bersikap di dunia internasional.

Menggunakan analogi di atas, kalau kamu punya cara belajar sendiri di kamar, lalu ada teman yang memaksa kamu mengubah cara belajarmu agar sama dengan gaya belajarnya, respons mana yang mencerminkan sikap 'Asertif'?

  • A. Langsung memblokir nomor temanmu dan keluar dari grup pertemanan.
  • B. Mengikuti saran temanmu sepenuhnya karena takut dijauhi oleh kelompok.
  • C. Menjelaskan ke temanmu bahwa kamu punya cara belajar sendiri, tapi tetap terbuka kalau dia mau mengajak belajar kelompok.
  • D. Menyuruh temanmu diam dan memaksanya untuk mengikuti caramu belajar.

Jawaban: C. Menjelaskan ke temanmu bahwa kamu punya cara belajar sendiri, tapi tetap terbuka kalau dia mau mengajak belajar kelompok.

Opsi C adalah sikap asertif/berdaulat: menjaga aturan diri sendiri (kedaulatan) tanpa menutup diri dari interaksi (belajar bareng). Opsi A dan D ekstrem, opsi B submisif.

Kedaulatan yang asertif berarti mau berdialog dan bekerja sama tanpa membiarkan pihak luar mendikte aturan internal secara sepihak.

Memetakan Spektrum Nasionalisme

Sekarang, mari kita tarik analogi tongkrongan dan rumah tadi ke panggung dunia formal: tata negara dan Hubungan Internasional. Dalam dunia nyata, negara-negara sangat saling bergantung (interdependent), baik untuk urusan ekonomi, keamanan, hingga mengatasi bencana global.

Berdasarkan riset kebijakan luar negeri, sikap negara dalam merespons tekanan atau pengaruh luar bergerak di sebuah spektrum (rentang).

Bagan di atas merangkum bagaimana kedaulatan tidak diartikan sebagai kebebasan mutlak tanpa batas (seperti zaman dulu), melainkan kemampuan untuk bernavigasi secara mandiri di tengah lautan interaksi global yang rumit. Ikut campur tangan di forum dunia justru adalah cara terbaik mempertahankan kedaulatan itu sendiri.

Tegas vs Ekstrem: Cara Bedainnya

Waktu ngerjain soal TWK, banyak siswa (termasuk kamu di tes awal!) bingung bedain mana opsi yang beneran "nasionalis tegas" dan mana yang diam-diam "chauvinis ekstrem". Pembuat soal sering banget bikin jebakan pakai kalimat patriotik yang kedengarannya gagah, kayak "menolak segala bentuk campur tangan asing secara mutlak!". Hati-hati, itu jebakan batman.

Sikap tegas itu diukur dari rasionalitas diplomasi. Orang yang tegas masih nyisain ruang buat win-win solution dan negosiasi. Sebaliknya, sikap ekstrem itu biasanya didorong prasangka, emosi, zero-sum game (kalau kamu menang, aku pasti kalah), dan cenderung memutus hubungan.

Kalau ada negara asing nawarin bantuan dana lingkungan tapi pakai syarat regulasi hutan kita harus diatur sama mereka, sikap tegas (nasionalis) adalah: membuka dialog supaya dana itu tetap masuk tapi lewat program tata kelola yang kita susun sendiri. Menghardik dan langsung mengusir si pemberi dana karena curiga itu agenda penjajahan, itu ekstrem (chauvinis).

Mana dari tindakan berikut yang mencerminkan sikap 'Tegas' (bukan Ekstrem) jika sebuah negara asing melakukan pelanggaran ringan di wilayah perbatasan Indonesia?

  • A. Mengajukan protes diplomatik resmi dan menuntut klarifikasi, sambil tetap mempertahankan kerja sama di sektor lain yang menguntungkan.
  • B. Memutus seluruh hubungan diplomatik dan mendeportasi semua warga negara tersebut dari Indonesia hari itu juga.
  • C. Membiarkan insiden tersebut agar tidak merusak bantuan dana ekonomi yang sedang berjalan.
  • D. Melakukan serangan balasan di perbatasan tanpa memberitahu forum internasional.

Jawaban: A. Mengajukan protes diplomatik resmi dan menuntut klarifikasi, sambil tetap mempertahankan kerja sama di sektor lain yang menguntungkan.

Opsi A adalah sikap tegas (nasionalis): merespons pelanggaran dengan instrumen diplomasi/hukum, tapi tetap rasional. Opsi B dan D ekstrem/emosional. Opsi C submisif.

Sikap nasionalis tegas memisahkan isu pelanggaran spesifik dari totalitas hubungan diplomasi, menggunakan jalur hukum untuk protes tanpa memutus semua koneksi secara membabi buta.