Waktu Paruh: Saat Massa Terus Membelah Dua
Apa Itu Waktu Paruh?
Waktu paruh adalah waktu spesifik yang dibutuhkan agar jumlah suatu zat berkurang menjadi tepat separuhnya. Bayangkan kita mempunyai sebuah kue tart utuh di atas meja, lalu ada bel alarm khusus di sampingnya. Setiap kali bel itu berbunyi sekali, aturan mainnya wajib memotong kue yang ada menjadi tepat separuh bagian.
Pada dunia nyata, isotop radioaktif seperti Iodin-131 berlaku persis seperti kue ini. Zat tersebut tidak stabil dan terus meluruh memancarkan radiasi, sehingga massanya menyusut seiring waktu. Untuk Iodin-131, interval bel berbunyi terjadi setiap $8\text{ hari}$. Artinya, setelah $8\text{ hari}$ pertama berlalu, kue seberat $100\text{ gram}$ dipotong menjadi tersisa $50\text{ gram}$.
Simulasi di atas memperlihatkan apa yang terjadi saat bel berbunyi. Jika waktu pengamatan hanya berlangsung $8\text{ hari}$, maka sisa bahan memang menjadi $50\text{ gram}$. Inilah sebabnya Opsi E ($50\text{ gram}$) terasa sangat menggoda saat pertama kali membaca soal. Namun, waktu penyimpanan pada soal berlangsung selama $24\text{ hari}$ penuh, sehingga bel pemotong kue belum berhenti berbunyi di hari ke-8.
Sebuah obat pereda nyeri memiliki waktu paruh 2 jam di dalam tubuh. Jika seseorang meminum dosis 400 mg, berapa massa obat yang tersisa setelah 2 jam?
- 400 mg
- 200 mg
- 100 mg
- 0 mg
Jawaban: 200 mg
Setelah waktu paruh 2 jam terlewati, jumlah obat berkurang menjadi tepat separuh dari dosis awal (400 mg dibagi 2 menjadi 200 mg). Pilihan 400 mg salah karena mengira zat belum berkurang, 100 mg salah karena membagi dua dua kali, dan 0 mg salah karena mengira zat langsung habis seketika.
Pemahaman dasar tentang satu kali periode waktu paruh
Peluruhan Berkali-kali
Peluruhan eksponensial terjadi terus-menerus setiap kali periode waktu paruh terlewati, membagi dua sisa yang ada secara berurutan. Karena rumah sakit menyimpan Iodin-131 selama $24\text{ hari}$ dan waktu paruhnya adalah $8\text{ hari}$, kita cari tahu terlebih dahulu berapa kali bel pemotong berbunyi:
$$\frac{24\text{ hari}}{8\text{ hari}} = 3\text{ kali}$$
Artinya, pemotongan kue terjadi sebanyak $3$ tahap berturut-turut pada sisa terakhirnya:
Hari ke-8 (potongan pertama): dari $100\text{ gram}$ menjadi $50\text{ gram}$.
Hari ke-16 (potongan kedua): dari $50\text{ gram}$ dibagi dua lagi menjadi $25\text{ gram}$.
Hari ke-24 (potongan ketiga): dari $25\text{ gram}$ dibagi dua lagi menjadi $12{,}5\text{ gram}$.

Diagram alur di atas mempertegas bahwa setiap siklus membagi dua sisa sebelumnya, bukan membagi massa awal. Dari alur ini kita bisa mengecek opsi lainnya:
Opsi C ($25\text{ gram}$) salah karena perhitungan berhenti terlalu cepat di potongan kedua, yaitu baru mencapai hari ke-16.
Opsi D ($33{,}3\text{ gram}$) salah karena menggunakan logika pembagian linear satu tahap: membagi $100\text{ gram}$ langsung dengan $3$ ($100 : 3 \approx 33{,}3$). Peluruhan radioaktif tidak bekerja dengan membagi rata secara linear, melainkan memotong separuh dari sisa yang ada secara berulang.
Suatu zat radioaktif bermassa 80 gram memiliki waktu paruh 10 hari. Manakah pernyataan yang benar mengenai sisa zat tersebut?
- Setelah 20 hari, sisa zat adalah 20 gram.
- Setelah 30 hari, zat tersebut akan habis (0 gram).
- Setelah 10 hari, sisa zat adalah 40 gram.
Jawaban: Setelah 20 hari, sisa zat adalah 20 gram.; Setelah 10 hari, sisa zat adalah 40 gram.
Pernyataan 1 benar karena 20 hari adalah 2 kali waktu paruh (80 g -> 40 g -> 20 g). Pernyataan 3 benar karena 10 hari adalah 1 kali waktu paruh (80 g -> 40 g). Pernyataan 2 salah karena peluruhan tidak membuat massa langsung habis menjadi 0 gram; pada hari ke-30 (periode ke-3), sisa zat adalah separuh dari 20 gram, yaitu 10 gram.
Pemahaman tentang peluruhan yang terjadi lebih dari satu kali periode waktu paruh
Merumuskan Pola Peluruhan
Proses membagi dua berulang kali dapat ditulis secara ringkas menggunakan perkalian dengan bilangan pecahan berpangkat. Setiap kali membagi dua, kita sebenarnya mengalikan nilai sisa dengan $\frac{1}{2}$. Karena pada soal bel berbunyi sebanyak $3$ kali, kita mengalikan pengali tersebut sebanyak tiga kali berturut-turut:
$$\frac{1}{2} \times \frac{1}{2} \times \frac{1}{2} = \left(\frac{1}{2}\right)^3$$

Pola berulang ini dapat dirumuskan secara umum untuk menghitung massa sisa zat ($N_t$) dari massa awal ($N_0$) setelah melewati $n$ kali periode waktu paruh:
$$N_t = N_0 \times \left(\frac{1}{2}\right)^n$$
Dengan memasukkan data dari soal, di mana $N_0 = 100\text{ gram}$ dan $n = \frac{24}{8} = 3$:
$$N_t = 100 \times \left(\frac{1}{2}\right)^3 = 100 \times \frac{1}{8} = 12{,}5\text{ gram}$$
Hasil perhitungan ini membuktikan bahwa Opsi B ($12{,}5\text{ gram}$) adalah jawaban yang benar. Sementara itu, Opsi A ($6{,}25\text{ gram}$) keliru karena menghitung peluruhan sebanyak $4$ kali siklus ($100 \times \left(\frac{1}{2}\right)^4 = 6{,}25$), akibat salah membagi durasi waktu atau bablas membagi dua satu kali lebih banyak.
Sebuah sampel isotop bermassa 200 gram memiliki waktu paruh 5 tahun. Berapa massa isotop yang tersisa setelah 15 tahun?
- 100 gram
- 50 gram
- 25 gram
- 33,3 gram
Jawaban: 25 gram
Waktu 15 tahun dibagi waktu paruh 5 tahun menghasilkan n = 3 periode. Massa sisa dihitung dengan mengalikan massa awal dengan faktor peluruhan: 200 * (1/2)^3 = 200 * 1/8 = 25 gram. Pilihan 100 gram dan 50 gram salah karena baru menghitung 1 atau 2 periode, sedangkan pilihan 33,3 gram keliru karena membagi massa awal secara pembagian linear.
Penggunaan rumus peluruhan eksponensial untuk mencari massa sisa