Monopoli vs Persaingan Bebas
Kontrol Pasokan dan Harga
Perusahaan monopoli bebas membatasi pasokan dan menaikkan harga di atas biaya marjinal, beda dengan produsen biasa yang harus mengikuti pasar.

Bayangkan PLN sebagai contoh perusahaan monopoli di Indonesia. Karena merupakan satu-satunya penyedia jaringan listrik, konsumen tidak punya pilihan pengganti. Jika sebuah perusahaan monopoli ingin melipatgandakan profit, mereka tidak perlu bersaing banting harga. Sebaliknya, mereka cukup menahan pasokan barang di pasar agar barang terasa langka, sehingga konsumen rela membayar jauh lebih mahal. Akibatnya, pasar monopoli selalu menghasilkan jumlah barang yang lebih sedikit dibandingkan jika pasar tersebut bersaing bebas (Opsi B benar). Dengan membatasi kuantitas ini, monopolis memiliki kekuatan pasar untuk mematok tingkat harga ($P$) yang jauh melampaui biaya marjinal ($MC$), yaitu biaya untuk memproduksi satu unit tambahan ($P > MC$, Opsi C benar).
Bandingkan kondisi tersebut dengan puluhan penjual boba di pinggir jalan yang berada dalam pasar persaingan sempurna. Tidak ada satu pun penjual boba yang bisa mengontrol harga pasar secara sepihak; jika mematok Rp25.000 sementara harga pasaran Rp15.000, dagangannya tidak akan laku. Setiap penjual boba terpaksa menjadi penerima harga (price taker). Untuk memaksimalkan laba, mereka terus berproduksi hingga titik di mana tambahan penerimaan pas menyentuh biaya tambahannya ($MR = MC$). Jadi, tidak benar jika pada keseimbangan persaingan sempurna pendapatan marjinal sengaja dibuat melampaui biaya marjinal ($MR > MC$) (Opsi A salah).
Misalkan seluruh pabrik baja independen di sebuah negara bergabung menjadi satu perusahaan tunggal berkekuatan monopoli. Jika perusahaan baru ini ingin memaksimalkan total keuntungannya, apa keputusan strategis yang paling rasional untuk diambil terkait pasokan dan harganya?
- Memproduksi sebanyak mungkin baja agar rata-rata biaya produksi mengecil.
- Mengurangi pasokan baja agar dapat mematok harga di atas biaya marjinal.
- Mematok pendapatan marjinal yang nilainya melampaui harga jual baja di pasar.
- Menjaga pasokan baja tetap, namun mengurangi harga agar volume ekspor naik.
Jawaban: Mengurangi pasokan baja agar dapat mematok harga di atas biaya marjinal.
Perusahaan yang memegang kendali monopoli memaksimalkan keuntungan dengan cara menahan atau membatasi output agar harga terdorong naik melampaui biaya marjinalnya ($P > MC$). Membanjiri pasar dengan memproduksi sebanyak-banyaknya justru akan menjatuhkan harga jual pasar. Sementara itu, pendapatan marjinal ($MR$) monopolis selalu bernilai lebih rendah dari harga pasar ($P$), bukan sebaliknya.
Dampak dominasi produsen tunggal terhadap jumlah produksi dan penetapan harga dibandingkan persaingan bebas.
Keseimbangan yang Tak Sama
Dalam pasar monopoli, keseimbangan pasar tidak persis identik dengan keseimbangan perusahaan.
Pada pasar boba yang bersaing bebas, ekuilibrium pasar lahir murni dari pertemuan alami antara kurva permintaan seluruh pembeli dan agregasi kurva penawaran dari ratusan gerai boba. Setiap gerai boba menyesuaikan produksinya mengikuti harga hasil interaksi banyak pihak ini.
Sebaliknya, pada monopoli seperti PLN, perusahaan monopolis tidak memiliki "kurva penawaran" tersendiri karena mereka adalah satu-satunya penyedia di pasar. Produsen tunggal ini tidak merespons harga pasar yang sudah terbentuk, melainkan memilih sendiri satu kombinasi harga dan output optimal dari kurva permintaan konsumen demi memaksimalkan laba.
Karena titik keseimbangan tersebut ditentukan secara sepihak dari kalkulasi internal margin laba perusahaan tanpa melalui interaksi tawar-menawar agregat banyak produsen, konsep keseimbangan pasar tidak identik dengan keseimbangan perusahaannya (Opsi D salah).
Mengenal Surplus Konsumen
Surplus konsumen adalah ukuran keuntungan atau selisih yang didapat pembeli ketika harga aktual lebih murah dari harga maksimal yang berani dibayarnya.

Kembali ke contoh segelas boba. Bayangkan cuaca sedang terik dan kamu merasa haus sekali. Dalam pikiranmu, kamu sudah rela mengeluarkan uang hingga Rp25.000 demi mendapatkan segelas boba dingin yang menyegarkan. Namun, begitu tiba di gerai boba, penjual menetapkan harga banderol hanya Rp15.000.
Ketika transaksi selesai, kamu membawa pulang segelas boba sekaligus menyimpan sisa uang Rp10.000 di kantong. Selisih Rp10.000 inilah yang dalam ilmu ekonomi disebut sebagai surplus konsumen. Surplus konsumen mencerminkan rasa kepuasan ekonomi tambahan yang dinikmati pembeli karena membayar lebih sedikit daripada batas kerelaan membayar (willingness to pay) maksimalnya.
Pada pasar persaingan yang sehat, banyaknya pilihan pedagang boba membuat harga ditekan mendekati biaya produksi, sehingga surplus konsumen yang bisa dinikmati masyarakat menjadi sangat luas. Sebaliknya, ketika penyedia barang adalah pelaku monopoli yang menaikkan harga tinggi-tinggi, area surplus konsumen ini akan tergerus tajam.