Menebak Makna Ungkapan: Analogi & Rumus Cepat

Analoginya Gini...

Bayangkan situasi ini: kamu telat makan siang, kamu merasa "lapar". Tapi, kalau kamu nyasar di hutan dua hari tanpa makanan, rasa laparnya pasti beda, kan? Rasanya mungkin sampai "lapar segila-gilanya".

Bahasa butuh cara untuk membedakan dua tingkat rasa atau tindakan tersebut.

ilustrasi

Nah, dalam Bahasa Indonesia, kalau kamu mau bilang sesuatu itu dilakukan sampai mentok alias batas maksimalnya, kita pakai pola imbuhan se- + kata + -nya (disebut juga adverbia intensitas).

Jika kamu membaca kalimat 'Adik memakan kue itu selahap-lahapnya', apa fungsi imbuhan 'se-nya' pada kata selahap-lahapnya?

  • A. Menunjukkan bahwa adik makan dengan sangat pelan
  • B. Menunjukkan intensitas bahwa adik makan dengan tingkat kelahapan paling maksimal
  • C. Menunjukkan jenis kue yang dimakan adik
  • D. Menunjukkan waktu adik memakan kue tersebut

Jawaban: B. Menunjukkan intensitas bahwa adik makan dengan tingkat kelahapan paling maksimal

Imbuhan se-nya selalu berfungsi menaikkan intensitas kata dasarnya (lahap) hingga batas maksimal.

Pola se-nya (adverbia intensitas) berfungsi untuk menunjukkan tingkat tindakan yang dilakukan sampai batas maksimal.

Rumus 3 Langkah Anti-Gagal

Memahami makna ungkapan di dalam teks cerita itu ibarat jadi detektif. Kamu gak harus hafal kamus! Penulis biasanya selalu meninggalkan jejak di kalimat sebelum dan sesudahnya (teknik ini disebut menggunakan context clues).

Biar gampang, gunakan rumus S.A.P (Sebab - Arti dasar - Pengaruh):

1. S = Sebab (Cek kalimat sebelumnya) Apa pemicu kejadiannya? Di teks, Bobi melihat 40 pohon durian peninggalan ibunya ditebang habis. Berarti, emosi yang memicu Bobi menangis adalah kesedihan yang luar biasa (kehilangan kenangan), bukan sekadar ngambek/marah.

2. A = Arti Dasar (Bedah ungkapannya) Ungkapannya adalah "menangis sejadi-jadinya". Kata dasar "jadi" + imbuhan "se-nya" berarti suatu keadaan yang terjadi hingga titik paling ekstrem.

3. P = Pengaruh (Cek kalimat sesudahnya) Apa efek fisik setelahnya? Teks menyebutkan: "Bibir dan tenggorokannya kering, keningnya pegal, suaranya serak." Efek fisik separah ini hanya bisa muncul kalau seseorang menangis dengan tenaga ekstra kuat yang terkuras habis.

Dalam teks, kita menggunakan kalimat sesudah ungkapan (pengaruh fisik) untuk membuktikan Bobi menangis dengan kuat. Manakah bukti dari teks yang menunjukkan hal tersebut? (Pilih semua yang benar)

  • Bibir dan tenggorokannya kering.
  • Pohon-pohon durian ditebang.
  • Keningnya pegal dan suaranya serak.
  • Bobi mendapat banyak uang amplop.

Jawaban: Bibir dan tenggorokannya kering.; Keningnya pegal dan suaranya serak.

Keringnya tenggorokan dan suara yang serak adalah bukti fisik (Pengaruh) dari tangisan yang sangat kuat. Penebangan pohon adalah Sebab, bukan Pengaruh.

Pengaruh (P) dari rumus SAP dapat dilihat dari akibat fisik secara langsung setelah ungkapan disebutkan.

Kenapa Opsi Lain Bisa Menjebak?

Seringkali di soal Bahasa Indonesia, pembuat soal memasukkan opsi "jebakan" yang kedengarannya masuk akal, padahal menjawab hal yang berbeda.

Di soal ini, jebakannya ada di kecerobohan membedakan intensitas (seberapa besar rasanya) dengan sekadar gaya/suara (bagaimana cara melakukannya).

Tentukan apakah pernyataan berikut mengukur 'Intensitas' (seberapa besar) atau sekadar 'Gaya' (bagaimana cara melakukannya).

  • Berteriak dengan suara melengking tinggi — Gaya
  • Berjuang sekeras-kerasnya melawan penyakit — Intensitas

Melengking tinggi itu deskripsi jenis suaranya (Gaya). Sedangkan 'sekeras-kerasnya' menunjukkan pengorbanan tenaga maksimal (Intensitas).

Intensitas bicara tentang pengerahan tenaga/emosi maksimal (se-nya), sedangkan gaya hanya deskripsi wujud fisik/suara yang belum tentu maksimal.